Genius Twins Boy

Genius Twins Boy
S2. Rencana Benjamin


__ADS_3

Bukan Ben namanya jika dia melakukan suatu hal yang biasa saja. Pria itu sempat meminta saran istrinya tentang makan malam romantis yang diinginkan Jared. Akan tetapi, Giani selalu memberikan ide yang menurut Ben sudah biasa dilakukan oleh kebanyakan pria.


Ben sejenak berpikir dan lalu senyumnya seketika terbit. Giani sampai merasa ngeri melihat senyum suaminya itu.


"Apa kau sudah menemukan tempat yang tepat?" tanya Giani. Ben mengangguk. Namun, dia enggan mengatakan idenya pada sang istri karena bisa saja Giani akan menggagalkannya.


"Dimana?"


"Itu rahasia, Sayang. Yang jelas aku senang, karena sebentar lagi harapan kita akan segera terwujud."


"Diana belum tentu mau diajak menikah Jared."


"Putra kita hanya perlu mengutarakan keinginannya, Diana tidak perlu menjawab. Karena apapun jawaban Diana aku yakin Jared tetap akan memaksanya menikah. Keturunan Alexander itu memiliki kekuasaan dan kemauan yang kuat."


"Dan kalian memakainya untuk memaksa kami yang lemah ini," sahut Giani sedikit kesal. Ben tertawa dan memeluk tubuh Giani.

__ADS_1


"Kau benar. Cinta bisa membuat semuanya semakin mudah."


Ben lalu mengetik beberapa pesan untuk anak buahnya agar menyiapkan tempat yang dia inginkan. Dulu dia hampir mengajak Giani ke sana, tapi baru melihat tempatnya saja, Giani sudah ketakutan. Dan sekarang kesempatan putranya untuk bisa dinner romantis di tempat itu.


Diana tak tahu jika Jared akan langsung pulang hari ini. Dia masih mondar mandir mencemaskan pria itu. Diana ingin bercerita pada Giani tentang masalah ini, tapi dia khawatir nanti akan membuat Giani malah kepikiran dan sakit.


Diana kembali mencoba menghubungi Jared. Namun, nomor ponsel Jared malah justru tidak aktif sekarang, karena pria itu lupa mengisi daya ponselnya. Diana semakin cemas. Berkali-kali dia menarik napas dan menghembuskannya kasar. Jika dia ke Sidney naik pesawat, itu juga tidak bisa mendadak. Dia harus memesan dan melakukan banyak hal sebelum terbang.


Disaat kepanikan melanda Diana. Pintu kamar Diana diketuk dari luar. Diana segera berlari membuka pintu, dia harap itu adalah Jared. Namun, harapannya langsung musnah saat Diana justru melihat Celine dan Felly meringis di depannya.


"Ada apa, Celine, Felly?"


"Ta_tapi .... "


"Ini permintaan daddy, Kak, tetapi kakak tenang saja, Daddy sudah menyiapkan banyak bodyguard untuk kita. Jadi kakak tidak perlu takut."

__ADS_1


"Memang kita akan kemana?" tanya Diana.


"Itu rahasia. Kakak tinggal ikut kami."


Diana tiba-tiba ditarik tangannya oleh Celine. Felly mengikutinya dari belakang karena Felly masih belum boleh berlari.


"Hei, jangan cepat-cepat. Felly ketinggalan."


Celine seketika menghentikan langkahnya dan menoleh menatap Felly. "Oh God. Maafkan aku, Felly. Aku melupakanmu."


Mereka bertiga akhirnya masuk ke mobil. Entah mau dibawa kemana Diana. Yang jelas saat ini hatinya semakin kalut dan khawatir.


"Apa yang akan kita lakukan di sini, Celine?"


"Berbelanja, Kak. Aku perlu gaun, Felly juga perlu gaun dan terutama kakak. Kakak amat sangat memerlukan gaun."

__ADS_1


"Tapi ini toko yang menjual pakaian khusus untuk pesta pernikahan."


"Ya memang. Sudah! Jangan banyak protes kak, Ayo kita masuk." Lagi-lagi Celine menarik tangan Diana hingga Diana tak bisa menolak. Felly hanya tersenyum geli melihat wajah sang kakak. Andai saja Mommy dan daddy mereka masih hidup, mungkin mereka juga akan ikut bahagia, karena kakaknya akan menikah sebentar lagi.


__ADS_2