
Saat malam tiba, Ben menggantikan tugas Giani untuk memantau anak-anaknya sebelum tidur. Di dalam kamar si kembar, Ben membantu Jack dan Jarret memakai piyama.
"Bukankah tadi ada yang ingin kalian katakan pada daddy? Apa itu?"
Wajah Jarret dan Jack berubah serius. Ben terkadang masih merasa takjub dengan bagaimana kedua putranya berekspresi. Mereka seperti memiliki dua kepribadian dalam tubuh mereka.
"Daddy pasti tahu apa yang kami inginkan."
"Jika kalian tidak mengatakannya, Bagaimana daddy tahu?" Ben masih pura-pura bingung. Tadi sebelum pulang, Ramos sudah memberinya informasi jika kedua putranya mencari anak buah Dawson itu.
"Daddy sudah menangkap orang-orang yang membakar rumah kakek, 'kan?"
"Jika sudah kenapa?"
"Berikan mereka pada kami. Aku ingin membalas perbuatan mereka."
"Memang apa yang akan kalian lakukan?"
"Membalas apa yang kakek Gilbert rasakan."
"Dengan?" Ben mengernyit, jangan-jangan apa yang dia pikirkan benar, Kedua putranya ingin membakar para pembunuh itu.
"Kami akan bakar mereka." Jack dan Jarret menjawab bersamaan.
"Oh, Boys. Kalian bisa menempatkan daddy dalam bahaya. Mommy kalian akan marah jika tahu kalian seperti ini. Percayakan semuanya pada Daddy. Biar daddy yang selesaikan.
__ADS_1
"Tapi kami juga ingin memberi mereka pelajaran."
"Kalian boleh ikut daddy untuk menghajar mereka, tapi tidak dengan membunuh. Ok! Daddy pastikan mereka akan mati mengenaskan, tapi biar daddy yang urus. Bagaimana?"
Jarret dan Jack beradu pandang. Mereka seakan sedang menimang apakah akan menerima tawaran ayahnya atau tidak.
"Bagaimana? Daddy ingin kalian tumbuh bersih. Jika sesekali berkelahi tidak masalah. Asalkan kalian tidak membunuh."
"Baiklah," jawab Jarret.
"Bagaimana denganmu Jack?"
"Aku ikut apa kata kakak."
"Hei, kau bisa memilih sendiri." Jarret tampak tak senang melihat adiknya seperti tak punya pendirian.
"Terserah padamu." Jack dan Jarret lalu naik ke ranjang mereka. Setelah itu Ben meninggalkan kedua putranya. Dia terlihat senang saat kedua anaknya bisa mengambil keputusan yang tepat.
Saat Ben membuka kamar, Dia sama sekali tak melihat Giani. Ben membuka kamar mandi dan tidak mendapati istrinya ada di sana.
Ben langsung masuk ke walk in closet. Matanya melebar saat melihat Giani terkapar di lantai.
"Oh God!" Ben langsung mendekati istrinya dan langsung mengangkat tubuh Giani. Ben membawa Giani keluar kamar. Dia memasuki lift menuju ruangan kesehatan di dalam mansionnya.
Di sana ada 3 dokter yang bersiaga dan beberapa perawat. Ben meletakkan Giani di atas ranjang.
__ADS_1
"Berikan aku senter." Ben memeriksa kondisi Giani.
Ben menduga jika istrinya mengalami gegar otak setelah di terkam Zoro. Ben juga tidak menyalahkan hewan itu juga karena mungkin Giani tadi sedang dalam posisi tidak siap saat Zoro melompat ke arah Giani.
Ben mengambil minyak esensial dan mengoleskannya sedikit di bawah hidung Giani.
"Sweetie, bangunlah. Jangan membuatku cemas seperti ini."
Tak lama Giani siuman. Ben dapat bernapas lega melihat mata Giani terbuka.
"Ben."
"Ya, Sweetie. Apa yang kamu rasakan?"
"Kepalaku pusing, perutku mual."
"Sepertinya kau mengalami gegar otak. Nanti tim dokter akan melakukan MRI pada kepalamu. Semoga saja hanya gegar otak ringan."
Tak lama berselang Giani muntah. Ben dengan setia tetap berada di dekat istrinya dan menampung muntahannya.
"Oh, Ben. Perutku mual sekali."
"Sebentar, Sweetie. Sabar dulu. Ramos baru mengambil serum yang ada di laboratorium."
Giani kembali muntah. Ben rasanya ingin ke laboratorium dan mengambil sendiri serumnya.
__ADS_1
Tak lama Ramos datang dan menyerahkan serum yang Ben minta. Ben masukkan ke dalam alat injeksi dan segera menyuntikkannya ke lengan Giani. Dia harap dengan serum buatannya itu bisa menghilangkan efek yang ditimbulkan akibat benturan di kepala istrinya.
...****************...