Genius Twins Boy

Genius Twins Boy
Extra part


__ADS_3

Setela Diana tersadar, Jared memeluknya dengan erat, Diana tersenyum dan mengusap punggung suaminya. Pasti dia sudah membuat cemas Jared.


"Oh God. Syukurlah kau sudah sadar, Baby."


"I'm sorry, aku pasti sudah membuatmu cemas."


"Kau tidak hanya membuatku cemas, kau seperti baru saja mencabut separuh nyawaku."


"I'm sorry," lirih Diana sembari tetap memeluk suaminya itu. Saat pelukan mereka terurai, Jared justru menghujani Diana dengan ciuman di seluruh wajah.


"Aku sangat bahagia, Baby. Dokter tadi mengatakan kau sedang hamil. Maaf jika aku tidak peka dengan kondisimu."


"A_apa kau bilang? Ha_hamil?" Diana terkejut mendengar kabar tersebut.


"Yes, Baby. Kau hamil. Dokter tadi sudah memeriksamu dan menyatakan kau hamil."


"Tapi kita baru menikah belum ada sebulan. Bagaimana bisa?"

__ADS_1


"Aku juga sebenarnya tidak terlalu paham, Baby, tapi tadi dokter yang memeriksamu mengatakan jika sudah ada kantung bayi. Bulan depan mungkin bayinya baru akan terlihat."


Diana tersenyum, dia mengusap perutnya dengan lembut. Rasanya dia kat sabar untuk bisa melihat makhluk yang akan bertumbuh di perutnya.


Setelah menyelesaikan semua urusan perusahaan Diana. Jared dan Diana akhirnya memilih pulang ke Melbourne, tapi perjalanan kali ini menempuh jalur darat karena kondisi kehamilan Diana yang masih sangat rawan untuk dibawa terbang.


Selama dalam perjalanan, Jared sesekali berhenti untuk beristirahat, tak masalah jika mereka akan menghabiskan banyak waktu dalam perjalanan, karena saat ini prioritas Jared adalah Diana dan kehamilannya.


Setibanya di kediaman orang tua Jared, Diana langsung memeluk Giani. Dia tersenyum dan menangis secara bersamaan. Jared belum menceritakan kehamilan diana pada orangtuanya. Mendengar bahwa menantunya hamil, Giani pun ikut menangis.


"Oh my God. Aku akan menjadi nenek?"


Giani mencium kedua pipi Diana sebagai wujud rasa bahagianya. Saat Diana dan Jared sedang duduk bersama Giani, tiba-tiba Jared merasakan sesuatu tak nyaman pada tubuhnya. Dia langsung teringat akan adiknya.


"Mom, aku akan ke ruang kerja Daddy. Aku titip Diana." Jared mencium puncak kepala istrinya sesaat dan langsung bergegas menemui daddynya.


"Dad, apa kau tahu kabar Jack?"

__ADS_1


Ben yang sedang serius berbicara dengan seseorang lewat sambungan telepon seketika mematikan sambungannya. Pria paruh baya itu mengangguk. Sorot matanya tampak jelas memendam kemarahan yang amat besar.


"Ada apa?"


"Adikmu terlibat sesuatu dengan seorang gadis yang merupakan kurir narkoba. Hari ini ada sekumpulan orang tiba-tiba menghadang adikmu dan mengeroyoknya. Adikmu terkena luka sabetan pedang. Daddy akan segera terbang ke San Fransisco. Daddy akan habisi mereka semua.


"Aku ikut, Dad."


"Baiklah, ayo."


Ben mencari istrinya dan mengatakan usahanya di Amerika sedang mengalami masalah. Meski sempat mendapat tatapan curiga dari Giani, tapi Ben berhasil meyakinkan istrinya, Jared pun juga berpamitan pada Diana untuk ikut ayahnya menyelesaikan masalah, Baik Ben maupun Jared berjanji jika mereka akan segera kembali pulang jika urusan mereka selesai.


"Mom, aku merasa mereka pergi bukan untuk urusan pekerjaan," kata Diana memasang wajah cemas.


"Jangan dipikirkan. Mungkin memang mereka sedang ada masalah dan tak ingin membuat kita khawatir. Sekarang sebaiknya kau beristirahat. Mommy juga akan istirahat dulu."


Diana tak dapat menolak perintah ibu mertuanya. Dia hanya mengangguk dan masuk ke kamarnya. Sementara itu, Giani langsung saja menghubungi putrinya. Dia meminta Celine untuk menghubungi kakaknya, Jack. Dia berharap Jack baik-baik saja di Amerika. Bukan tanpa alasan Giani langsung mencurigai suaminya. Meski setenang apapun raut kekhawatiran Ben terlihat jelas oleh Giani.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2