
Jarret dan Jack menunggu kedatangan Ramos dengan tak sabar. Sepatu Jack, mengetuk-ngetuk lantai sangking tak sabarnya menunggu.
"Bukankah menurut kakak, uncle Ramos itu terlalu lamban?"
"Kau hanya terlalu bersemangat, Jack. Ini masih pukul 2 kurang. Jika saja miss Irena tidak ada rapat dewan kita tidak perlu menunggu."
Tak lama berselang, sebuah mobil jenis sedan mewah berwarna hitam berhenti tepat di depan mereka. Jack dan Jarret langsung masuk ke dalam mobil itu begitu saja.
"Apa uncle terjebak macet?"
"Tidak, Tuan muda."
"Lalu kenapa lama sekali?"
"Tadi uncle harus menyelesaikan pekerjaan daddy kalian, karena daddy kalian ada urusan di luar."
Mobil mewah itu akhirnya pergi meninggalkan sekolah si kembar menuju ke tempat yang dimaksud oleh kedua bocah itu.
Kini posisi Ramos serba salah. Dia dilarang oleh Jack dan Jarret untuk menceritakan soal hal ini pada atasannya, tapi di sisi lain, Ramos takut menghadapi kemarahan Ben yang kadang tak bisa diprediksi.
Jarret mengeluarkan tabletnya dari tas. Dia memantau lokasi tempat yang akan mereka kunjungi dengan memakai satelit milik perusahaan ayahnya.
"Apa daddy tahu kita akan kemari uncle?"
"Tidak, Tuan muda Jarret."
__ADS_1
"Kau berlebihan uncle, panggil aku jarret saja. Aku tidak suka ada kata tuan muda. Aku bukan keturunan bangsawan."
"Uncle tidak berani. Daddy kalian bisa membunuhku."
"Nanti aku akan bilang daddy."
Ramos tak lagi menanggapi ucapan Jarret karena mereka telah tiba di lokasi.
"Titik koordinatnya benar di sini, Kak?" Jack menoleh pada kakaknya dengan tatapan serius.
"Ya, di sini. Itu yang ada di ujung sana. Kau lihat! Plat nomernya sama dengan plat nomer mobil yang aku curigai." Jarret tampaknya sedang mengawasi situasi yang cukup sepi menurutnya.
"Apa kita turun sekarang?" tanya Jack.
"No, biar aku saja."
"Uncle juga tunggu di sini!" tegas Jarret.
"Biar aku yang turun," sambung bocah itu lagi. Ramos menatap sorot mata Jarret dari kaca tengah. Tiba-tiba Ramos merinding sungguh aura Jarret sangat mengerikan.
Jarret turun dari mobil. Dia sudah melepas seragamnya dan hanya memakai kaos oblong berwarna putih.
Ramos benar-benar cemas. Sedangkah Jack tampak sangat bersemangat. Dia melihat kakaknya mengendap-endap.
"Tuan muda, sebaiknya aku mengabari daddy kalian. Aku benar-benar khawatir."
__ADS_1
"Uncle tenanglah, kau berisik sekali." Jack yang semula memasang tampang bocah kini terlihat menatap Ramos dengan tajam.
Ramos seketika diam. Sungguh situasi yang sangat menyebalkan. Dia yang paling tua di antara mereka, tapi dia tidak bisa berbuat banyak karena keduanya anak dari bosnya.
Jarret membuka mobil itu dengan hati-hati dan lalu ia mengambil dashcam yang ada di mobil itu.
"Mari kita lihat, apa yang kalian lakukan pada kakekku. Aku akan membalasnya dengan hal yang sama."
Jarret menyempatkan diri mengintip ke gudang atau pabrik bekas itu. Namun, tempat itu kosong tak ada siapa-siapa.
Jarret merasa heran. Dia curiga akan suatu hal. Dia lantas membuka pintu gudang lebar-lebar, tidak ada apapun di sana.
"Apa daddy sudah menangkap mereka semua?" Jarret tiba-tiba berdecak kesal. Semoga saja dugaannya salah."
Jarret kembali ke mobil dengan wajah kesal.
"Ada apa, Kak?"
"Aku rasa daddy mendahului kita."
"Berarti daddy sudah meringkus mereka?"
"Entahlah, daddy sudah merusak kesenanganku."
Ramos tidak lagi banyak bersuara. Dia khawatir menyinggung Jarret yang sedang dalam suasana hati buruk
__ADS_1
...****************...