
Diana sedang duduk di taman. Pagi ini Giani ingin bersantai di temani olehnya. Jared tiba-tiba mendatangi Diana dan tanpa aba-aba langsung menarik tengkuk Diana dan mencium bibirnya dengan rakus.
Diana menepuk dada Jared dan mendorongnya. Namun, Diana kalah tenaga. Entah apa yang Jared pikirkan. Ini di tempat terbuka, bagaimana jika ada orang yang melihat mereka?
Jared mengurai ciumannya dan mengusap bibir Diana yang membengkak. Tatapan mata Jared tampak lain dari biasanya. Diana merasa ada sesuatu yang disembunyikan oleh Jared darinya.
"Ada apa? Kenapa tiba-tiba menciumku seperti itu? Apa terjadi sesuatu yang buruk?" tanya Diana bertubi-tubi. Jared tersenyum tipis dan mengusap wajah Diana.
"Tidak ada, tapi daddy menyuruhku untuk mengurus perusahaan kami yang ada di Sidney. Mungkin untuk beberapa waktu kedepan aku akan tinggal di sana."
"Apakah masalahnya serius?"
"Yah, begitulah. Maafkan aku tidak bisa menemanimu," kata Jared sembari mengusap wajah Diana dengan lembut.
"Kau tidak akan terlalu lama di sana, kan?" tanya Diana.
"Tentu saja. Aku mana bisa meninggalkan calon istriku lama-lama," jawab Jared. "Selama aku pergi ku harap kau tidak pergi kemana pun."
"Hmm, baiklah."
"Jangan ragu untuk mengirimiku pesan atau meneleponku jika kau merindukan aku."
__ADS_1
"Tidak akan."
"Hei, kau harus selalu mengirimiku pesan. Kau harus mengatakan apa yang kau lakukan saat aku tidak ada." Diana hanya mengangguk sebagai jawaban, tapi sebenarnya dia enggan melepas Jared pergi. Akan tetapi dia tidak punya hak atas Jared.
Jared kembali mencium bibir Diana sebelum dia benar-benar pergi. "Aku akan sangat merindukanmu, Di."
"Jika begitu lekas selesaikan urusanmu dan kembalilah," kata Diana. Dia menatap kepergian Jared dengan perasaan tak nyaman. Semoga saja tidak terjadi sesuatu yang buruk pada pria itu.
"Apa yang kau lihat, Diana?" Giani datang dan mengejutkan Diana.
"Ti_tidak ada apa-apa, Aunty."
"Jared sudah berpamitan padamu?" tanya Giani, Diana mengangguk dengan wajah memerah karena teringat dengan ciuman mereka barusan.
"I_iya aunty. Apa aunty tidak keberatan?"
"Tentu saja tidak. Aunty malah senang."
"Ta_tapi sebenarnya aku merasa kita masih terlalu muda. Aku takut suatu saat Jared akan meninggalkan aku karena sikapku yang labil."
"Kau tenang saja, Sayang. Itu semua tidak akan terjadi, yang terpenting dalam suatu hubungan, sebaiknya pasangan bisa saling terbuka agar komunikasi lancar dan hubungan kalian langgeng."
__ADS_1
"Ternyata sifat baik Jared msnurun dari aunty," kata Diana. Giani hanya tersenyum saja. Dia sebenarnya sudah tahu jika Jared pergi untuk menyelesaikan urusan Diana, tapi sesuai janjinya pada sang Putra bahwa dirinya tidak akan menceritakan apapun pada Diana.
Hari ini Giani akan membuat Diana tak punya kesempatan untuk mengkhawatirkan Jared. Giani mengajak Diana menanam bunga mawar, bunga itu sengaja didatangkan oleh Jared pagi tadi.
Diana tersenyum getir menatap bunga-bunga itu. Dia seperti teringat hari-harinya bersama sang ibu sebelum ibunya meninggal.
"Bagaimana keadaan Felly aunty? Sejak kenal dengan Jordan dan Celine, Felly jarang ke kamar."
"Dia sangat baik. Maafkan aunty tidak bisa mencegah Jordan dan Celine. Dulu mereka memang ingin mempunyai adik lagi, tapi kondisi ku kurang memungkinkan. Dan kehadiran Felly benar-benar seperti doa mereka yang terkabul."
"Aku sebenarnya tidak enak hati pada uncle Ben. Aku di sini untuk bekerja, tapi aku malah diperlakukan seperti bukan pegawai."
"Tidak masalah. Kau tidak perlu sungkan pada kami. Dulu aku pernah bertemu ibu dan ayahmu. Mereka berdua sangat baik padaku. Jadi aku juga akan memperlakukan anak mereka dengan baik juga."
"Aunty bertemu dengan Daddy dan mommy? Kapan? Kenapa aku tidak tahu?"
"Waktu itu perjamuannya di hotel, Sayang bukan di rumah."
"Sampai sekarang aku masih berharap mereka hidup."
"Kau harus kuat dan bersabar," ujar Giani mengusap bahu Diana. Diana tersenyum dan kembali memasukkan tanah dalam pot.
__ADS_1
...****************...