
Diana sudah selesai menemani Giani. Dia langsung mandi dan merebahkan tubuhnya. Matanya terasa berat. Felly sedang berada di ruang kesehatan milik suami majikannya.
Kemarin Diana sudah diberi tahu jika Felly akan segera melakukan pemeriksaan kakinya. Dia tak bisa menolak kebaikan majikannya. Diana justru bersyukur karena tak lama lagi, Felly akan bisa jalan kembali.
Di atas ranjang, Diana tanpa sadar memejamkan matanya. Namun, baru sebentar terpejam, tubuh Diana gemetaran.
"Jangan. Jangan tembak," ucap Diana lirih. Dia menggelengkan kepalanya dan air matanya mengalir.
"Jangan. Ku mohon jangan tembak."
"JANGAAAN!!" Diana membuka matanya lebar dengan napas yang memburu.Dia langsung terduduk tanpa menyadari jika ternyata sejak tadi ada sepasang mata yang menatapnya.
Diana masih mengatur napasnya yang tersengal-sengal. Setelah napasnya cukup teratur, dia mengangkat wajahnya. Diana terkejut melihat Jared memandangi nya dengan tatapan tajam.
"Tu_tuan." Diana mengusap sisa lelehan air matanya. Semua gerakan Diana tak luput dari pandangan Jared.
"Ada apa tuan kemari?"
"10 menit, bersiaplah. Aku tunggu kau di luar."
"Ba_baik."
Diana tidak bisa membantah perintah Jared. Dia segera ke kamar mandi mencuci wajahnya dan berganti baju. Entah akan dibawa kemana dirinya nanti. Diana hanya bisa menuruti perintah majikannya itu.
Diana keluar dari kamarnya. Jared rupanya juga sudah berganti baju lebih santai.
__ADS_1
"Kita akan kemana, Tuan?"
"Kau akan tahu nanti."
Jared berjalan mendahului Diana. Diana sempat berpapasan dengan bibi Dillas. Diana berpesan pada bibi Dillas untuk mengatakan pada Felly jika dirinya pergi bersama Jared. Wanita paruh baya itu mengangguk.
Diana tiba di halaman mansion itu. Jared tak sabar menekan klakson mobilnya. Diana mengumpat dalam hati. Dia masuk ke dalam mobil Jared.
Tidak ada percakapan diantara keduanya. Jared sibuk memperhatikan jalan. Sedang Diana berdebar, jangan sampai anak majikannya ini membawanya ke tempat yang bukan-bukan.
Jared menghentikan mobilnya di sebuah Gym. Diana masih belum mengerti kenapa Jared mengajaknya kemari.
"Kau harus membuat tubuhmu bekerja keras agar kau tidak mengalami insomnia," kata Jared sembari berjalan di depan Diana. Dia menarik tangan Diana dan menunjukkan kartu membernya.
"Sudah, tuan," jawab pengurus Gym itu. Gym itu sangat besar dan memiliki tingkatan berdasarkan kartu membernya.
Jared masih terus memegangi tangan Diana. Mereka naik ke lift dan menuju ke ruangan yang pesan oleh pria itu.
"Kau harus banyak bergerak agar kau sehat."
"Ya, tuan."
"Kau harus bisa menguasai ilmu beladiri."
Diana mengangguk. Dia mulai malas dan jujur tubuhnya sedang tidak bersahabat.
__ADS_1
"Besok pakai pakaian olahraga yang benar."
"Aku tidak punya, Tuan."
"Kau harus membelinya."
Diana lagi-lagi mengangguk. Jared mengangkat alisnya karena dia tahu Diana tak menanggapinya dengan sungguh-sungguh.
Jared mendekati Diana. Gadis itu mematung di tempatnya. Apa ada yang salah? Kenapa pria itu menatapnya dengan tajam? Jujur Diana sebenarnya tak nyaman dengan tatapan mata Jared.
Jared mengikis jaraknya hingga tubuhnya benar-benar merapat dengan Diana.
"Tu_tuan." Diana menarik wajahnya sedikit menjauhi Jared.
Jared tersenyum melihat kegelisahan di mata Diana. Rasanya sangat seru menggoda gadis itu.
"Nanti setelah ini kita belanja," kata Jared.
"A_aku akan pergi sendiri saja tuan."
"Kau harus patuh padaku. Dan jangan menolak."
"Dasar, pria pemaksa."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1