
Ben sama sekali tak menyadari jika dia sedang diawasi. Apalagi penyebabnya jika bukan karena kebahagiaan yang saat ini dia rasakan. Sangking bahagianya bisa berkumpul dengan Giani dan kedua putranya, dia tak tahu jika sejak dari sekolah baru si kembar, jejaknya terus diikuti.
Namun, meski begitu. Ben patut bersyukur karena kedua putranya lebih peka ketimbang dirinya. Meski sebelumnya dia terkenal sangat kejam dan berbahaya. Nyatanya dia juga hanya seorang manusia biasa yang bisa jatuh terperosok dalam pusaran perasaannya sendiri.
"Daddy," panggil Jack.
"Ada apa, Sayang?"
"Apa daddy sejak tadi tidak sadar?" tanya Jack. Meski putranya terlihat seperti anak pada umumnya, tapi dalam dirinya tak tampak sisi kekanakan sama sekali saat ini.
"Apa?" tanya Ben dengan wajah mengernyit. Dia masih belum bisa menangkap arah pertanyaan putranya. Namun, saat melihat sorot mata Jarret dan Jack yang tiba-tiba berubah waspada. Ben langsung paham jika saat ini ada yang tengah mengawasi mereka.
"Kapan kalian menyadarinya?" tanya Ben, dia yang semula bersikap tenang langsung menegakkan badannya.
"Sejak dari sekolah tadi." jawab Jack santai.
"Daddy, apa kau benar-benar Benjamin Alexander yang terkenal, kejam, jenius dan misterius itu?" tanya Jarret, kali ini dengan tatapan sedikit meremehkan.
Giani sampai menoleh menatap ke arah Ben. Namun, pria itu justru tertawa sumbang mendengar pertanyaan anaknya itu.
"Dari mana kau mendengar kalimat itu?" tanya Ben. Kali ini dia tidak bisa menyembunyikan raut wajah geli. Entah dari mana putranya mendengar kata-kata seperti itu.
"Apa daddy tidak tahu jika daddy sering dibicarakan orang-orang?" wajah Jack dan Jarret terlihat sangat penasaran.
"Daddy tahu, tapi daddy tidak peduli. Toh selama ini daddy hidup tidak pernah menyusahkan siapapun. Jadi daddy tidak mau menggubris ucapan yang tidak penting."
"Apa yang kalian bicarakan? apa ada yang sedang mengawasi kita?" Giani tiba-tiba merasa takut dan tegang.
"Tenanglah, Aku akan menghadapi mereka semua." Ben semakin mengeratkan pelukan di tubuh Giani. Mereka akhirnya perlahan berjalan meninggalkan area pemakaman.
Ben sekilas melirik ada 3 mobil yang terparkik secara terpisah tak jauh dari mobil miliknya. Kenapa dia bisa tak memperhatikannya?
"Tetap menatap lurus ke depan. Daddy akan mengurus semuanya. Jangan sampai si Benjamin Alexander ini kehilangan kejeniusannya," ujar Ben. Dia tetap mendekap erat tubuh istrinya dengan erat sementara kedua anak laki-lakinya berjalan seperti biasa dengan mengangkat sedikit dagunya.
Ben tersenyum tipis. Dia merogoh ponselnya dan mengirim pesan pada pasukan bayangannya untuk meringkus para penguntit itu. Rasanya akhir-akhir ini dia terlalu masa bodoh dengan mereka sehingga membuat mereka merasa di atas angin.
"Daddy, setelah ini kita kemana?"
"Kalian mau kita kemana?"
"SOS, kita mau melihat pekerjaan kakek yang belum selesai." Jarret dan Jack sekilas melirik ibunya. "Boleh 'kan, Mom?" tanya kedua bocah itu penuh harap.
__ADS_1
"Tentu saja, Sayang."
Jarret dan Jack langsung tertawa sembari melakukan tos. Giani geleng kepala dengan kelakuan kedua bocah itu. Ben langsung mengecup puncak kepala istrinya di saat kedua putranya berlari menuju mobil.
"Ben," desis Giani kesal.
"Ada apa, istriku?"
"Dasar menyebalkan!" kesal Giani. Ben terkekeh dan lalu membukakan pintu mobil untuk Giani. Mereka akhirnya pergi menuju SOS. Sedang para pasukan bayangan yang tadi sudah diperintahkan oleh Ben untuk meringkus para penguntit itu, kini mereka sudah bersiap.
Dalam perjalanan ponsel Ben bergetar. Senyumnya langsung menggembang setelah mendapat laporan dari anak buahnya. Entah siapa yang menyuruh mereka, tapi Ben yakin jika itu perbuatan salah satu musuhnya.
Setibanya mereka di parkiran. Ben sesaat terdiam.
"Ada apa, Dad?"
"Tidak, Daddy hanya ingin kalian tetap waspada. Jika ada orang asing yang berniat mendekati kalian. Kalian pasti tahu apa yang harus kalian lakukan 'kan?"
"Tentu saja, Dad."
"Baiklah, nanti uncle Ramos yang akan menemani kalian. Daddy akan menunggu kalian di ruangan daddy."
"Ok, Dad."
"Bye, Mom." Jack mengecup pipi ibunya begitu lift berdenting di nomor yang mereka tuju. Jarret memeluk ibunya dengan lembut. Keduanya langsung keluar dari kotak besi itu diikuti oleh Ramos.
Ben sekilas melirik Giani. Wanita itu terlihat santai saat berada di dekapannya. Ben semakin mengeratkan rangkulannya. Giani seketika mendongak. Ben langsung mencuri ciuman dari bibir istrinya.
"Ben!" seru Giani.
"Bolehkah, malam nanti menjadi malam kita?"
"Tapi, Ben ...."
"Apa yang kau takutkan, Giani?"
"Entahlah aku tidak tahu. Aku hanya merasa takut. Aku takut tidak bisa memenuhi ekspektasimu."
Ben diam dan tersenyum. Dia tidak akan memaksa, Dia akan memberi waktu Giani. Tadi itu ia hanya menggoda istrinya agar tidak terlalu serius.
Saat Lift berdenting dan terbuka. Ben tetap merangkul Giani. Namun, langkah mereka berdua terhenti saat Shena, Ibu Ben berdiri di hadapan mereka bersama Aluna.
__ADS_1
Meski sempat terkejut, tapi beruntung Ben bisa menguasai diri. Aluna dan Shena sama terkejutnya dengan apa yang mereka lihat sekarang. Ben memeluk wanita. Bagaimana bisa?"
"Ben, ibu ingin bicara."
"Bicaralah!" jawab Ben datar dan dingin. Giani merasakan hawa mencekam. Bahkan wajah suaminya langsung berubah. Namun, pelukan di tubuhnya tak mengendur sama sekali.
"Siapa dia, Ben?"
"Apa pedulimu?"
"Ben aku ini ibumu!" pekik Shena. Ben semakin mengeratkan pelukannya di bahu Giani.
"Oh, aku pikir kau sudah lupa."
"Ben, ibu tanya padamu, siapa wanita ini?"
"Dia adalah istriku."
"I_istri?" Aluna dan Shena semakin dibuat ternganga dengan fakta ini. Aluna langsung jatuh pingsan karena tak bisa menerima fakta yang terlalu mengejutkan ini. Ben berdecak kesal.
"Dasar menyusahkan."
"Ben, ibu tidak merestui pernikahan ini."
"Aku tidak peduli dan juga aku tidak butuh restumu. Sebaiknya kau bawa Aluna pergi dari sini atau aku yang akan menyuruh keamanan untuk menyeret kalian berdua dari tempat ini."
"Ben, seburuk apapun aku. Aku ini adalah ibumu. Di mana sopan santunmu."
"Persetan dengan itu semua. Segera pergi dari tempat ini sebelum aku benar-benar habis kesabaran."
"Rocky, Paolo. Pastikan mereka segera pergi dari sini dan beritahu yang lainnya jika kelak mereka datang. Suruh tunggu aku di lobi. Aku tidak akan mentolerir kesalahan seperti ini lagi."
Ben membawa Giani melewati Shena. Guani hendak menoleh menatap ibu Ben. Akan tetapi Ben justru menahan bahunya. Saat memasuki ruangannya. Napas Ben terdengar memburu. Mungkin pria itu sedang berada di puncak emosinya. Giani mendongak karena tingginya hanya sebatas bawah telinga Ben. Dia menatap Ben dengan tatapan sendu.
Tanpa sadar Giani memeluk tubuh Ben dengan erat. Dia mengusap punggung pria itu. Ben memejamkan matanya. Dia membalas pelukan Giani dan menyandarkan kepalanya di bahu istrinya itu.
"Maaf kau harus melihatku seperti ini."
"Tidak masalah. Apa kau baik-baik saja?"
"Tetaplah berada di sisiku, Giani. Apapun yang terjadi tetaplah bertahan di sampingku," ujar Ben. Giani diam, dia tak tahu apa yang harus dia katakan. Namun, kepala wanita itu mengangguk.
__ADS_1
Sesaat mereka bertahan dengan posisi seperti itu. Ben merasa tenang dalam pelukan Giani. Entah mengapa dia semakin takut jika harus kehilangan perempuan yang ada dalam pelukannya ini.
...****************...