
Dalam perjalanan menuju perusahaan. Jared tak lepas memikirkan Diana. Entah ada apa dengan gadis itu pagi ini.
Jared tak merasa membuat kesalahan apapun. Dia juga kemarin malam meninggalkan Diana dengan baik. Bahkan Diana sempat tersenyum padanya sebelum ke kamar, tapi kenapa sekarang dia berubah?
"Rocky."
"Ya, Tuan."
"Apa kau pernah berpacaran?"
"Aku punya seorang tunangan, Tuan," jawab supir sekaligus kaki tangan Jared.
"Jika wanita mendadak berubah, menurutmu apa masalahnya?"
"Mungkin mereka sedang merajuk, atau kalau tidak kita berbuat sesuatu yang mengecewakan."
"Tapi aku tidak mengecewakannya," kata Jared. Dia tak tahu jika semalam Diana sempat mendengar ucapannya pada mommy-nya. Meski Diana tak mendengar semuanya, tapi dia cukup kecewa dengan kalimat pembuka yang diutarakan oleh Jared.
"Wanita itu makluk menggemaskan. Namun, mereka sebenarnya sangat rumit, Tuan."
"Mereka sering tak mau menceritakan masalahnya, tapi mereka ingin kita mengerti, padahal kita juga hanya manusia biasa. Bukan seorang cenayang."
"Ya, ku rasa kau benar. Sebenarnya aku juga malas berurusan dengan mereka, tapi bagaimana lagi aku terlanjur nyaman dengan makhluk satu itu."
"Apa ini tentang nona Diana?"
"Ya, kau tahu? Kemarin dia terlihat manis dan sangat menggemaskan. Akan tetapi pagi ini tiba-tiba dia sangat menyebalkan."
__ADS_1
Rocky tampak berpikir sebentar, tapi dia masih tetap fokus menyetir.
"Apa mungkin tuan tanpa sengaja mengatakan sesuatu yang membuatnya marah?"
"Kemarin aku bilang jika ingin menciumnya, tapi responnya hanya biasa saja."
Selama dalam perjalanan itu Jared mencurahkan segala keresahannya pada Rocky. Rocky menangkap jika atasannya itu jatuh cinta pada Diana.
"Anda seperti orang yang sedang jatuh cinta, Tuan."
"Apa menurutmu begitu?"
"Ya, anda seperti saya waktu jatuh cinta."
"Entahlah, aku hanya merasa dekat dengannya membuatku nyaman. Dari dulu aku selalu malas berhubungan dengan wanita karena sekali di beri perhatian, mereka akan menempel seperti gurita."
"Kau benar."
"Coba tuan pikirkan lagi dan resapi lagi. Mungkin tuan terlambat menyadari perasaan itu."
Jared hanya diam tak menanggapi lagi ucapan Rocky. Mereka berdua tiba di perusahaan dan langsung menuju ruang meeting.
Jared mencoba fokus pada pekerjaannya, tapi lagi-lagi sekelebat bayangan wajah Diana mengganggu pikirannya.
"Kita lanjutkan meeting ini besok. Aku sedang tidak bisa berpikir sekarang," ujar Jared datar. Rocky mengernyit, biasanya atasannya bekerja dengan profesional, tapi kenapa kali ini atasannya tampak berbeda. Jared terkenal paling tenang dan tak pernah mencampurkan masalah pribadi, sekarang justru merasa terusik karena Diana.
Ben sudah berada di ruangannya, Dia menyerahkan rapat kali ini pada putranya. Namun, saat mendapat laporan jika putranya menghentikan rapat di tengah jalan, membuat Ben heran.
__ADS_1
"Ada apa sebenarnya, Ramos?"
"Rocky hanya mengatakan jika tuan muda suasana hatinya sedang buruk."
"Wow ... ada apa sebenarnya dengan putraku?"
"Mungkin tuan muda Jared sedang jatuh cinta," jawab Ramos.
Ben hanya melebarkan matanya. Jatuh cinta? Putranya? Apa itu mungkin?
"Bilang kepada semua pimpinan direksi, setelah makan siang aku akan memimpin rapat, Kumpulkan saja mereka."
"Baik, Tuan."
Ramos pun pergi untuk menjalankan perintah bos besarnya. Dia rasa dia akan kembali sibuk jika Jared benar-benar sedang jatuh cinta.
Sementara itu Jared memutuskan untuk pulang, tapi sebelum itu dia menemui ayahnya dulu. Jared mengetuk pintu ruangan ayahnya.
"Masuk."
Jared langsung masuk begitu mendengar suara ayahnya. Dia duduk di sofa sembari mende*sah berat.
"Ada apa denganmu? Kenapa kau hentikan rapatnya?"
"Aku tidak tahu, Dad. Aku benar-benar sedang tidak mood."
Mendengar jawaban putranya, Ben juga jadi meyakini jika putranya sedang jatuh cinta. Apa lagi pagi tadi dia sempat melihat putranya bersitegang dengan Diana.
__ADS_1
...****************...