Genius Twins Boy

Genius Twins Boy
S2. Bolehkah Aku Memelukmu?


__ADS_3

"Apa sebegitu ketara jika aku menyedihkan? Apa aunty juga melihatku seperti itu?" Diana kini menatap serius ke arah Jared.


"I don't know."


Wajah Diana langsung berubah murung dan sialnya Jared benci melihat Diana seperti itu. "Sial, sepertinya aku salah bicara."


"Lupakan ucapanku tadi. Kau tidak menyedihkan sama sekali. Aku peduli padamu karena kisah hidupmu mirip dengan kisah hidup mommy. Kakekku di bunuh orang dan itu seperti pukulan terbesar bagi mommy. Meskipun mommy selalu tersenyum di depan kami, tapi aku juga sering melihat mommy diam-diam menangis di belakang kami.


Daddy berhasil menangkap pembunuh kakek, tapi kami merahasiakannya dari mommy. Karena kami tahu, mommy pasti akan semakin sedih jika tahu alasan pembunuh itu membunuh kakek. Dia bilang hanya agar bisa membuat mommy segera kembali ke kota ini. Alasan yang sangat konyol. Kakekku mati di tangan orang gila."


"Aku turut bersedih," kata Diana.


"Itu sudah lama berlalu. Aku hanya ingin kamu juga bangkit dan tidak terlalu lama terpuruk. Jika kau mau aku akan membantumu menangkap pembunuhnya."


Diana semakin dalam menatap pria itu, Jared pun melakukan hal yang sama mereka saling menatap cukup lama.


"Bagaimana jika aku tidak mau menangkap pembunuhnya? Aku takut kenyataan yang aku terima akan semakin membuat hidupku hancur."


"Lalu kau akan terus bersembunyi dalam ketakutan? Apa kau tidak mau memberikan kehidupan yang normal untuk Felly?"


Jared tahu, jika gadis itu sebenarnya tidak sedang baik-baik saja. Dia sedang berusaha terlihat tegar padahal sebenarnya dia rapuh.


Diana terdiam, jujur saja setelah kehilangan keluarganya, hal yang paling dia takuti adalah kehilangan Felly.


"Jadilah kuat, bukan untuk dirimu sendiri, tapi juga untuk adikmu."

__ADS_1


"Bolehkah aku memelukmu?" lirih Diana. Tanpa banyak bicara Jared menarik tubuh Diana hingga terduduk lalu dia memeluk tubuh rapuh itu.


"Thankyou, aku akan memikirkan tawaranmu. Ku harap kau tidak berubah," kata Diana dalam pelukan Jared.


"Kau bisa mendatangiku kapanpun kau siap. Apa kau ingin tidur di pelukanku juga?" tanya Jared bercanda.


"Ck ... kau menyebalkan sekali tuan. Maaf tadi jika aku membuatmu jatuh."


"Itu hanya kebetulan saja. Lain kali aku tidak akan membiarkan dirimu menumbangkanku."


Mereka akhirnya memilih untuk segera pergi. Diana sudah kembali terlihat seperti biasa. Namun, Jared sama sekali tak melepaskan tatapan matanya dari Diana. Dia berharap gadis itu akan seperti ini seterusnya. Dia lebih menyukai Diana yang seperti ini.


"Kita beli baju olahraga dulu sebelum pulang."


"Ti_tidak usah, Jared."


Diana terdiam. Dia lantas membuang tatapannya. Karena waktu beranjak malam, lampu-lampu mulai menghiasi setiap jalan yang mereka lewati. Jared menghentikan mobilnya di sebuah pusat perbelanjaan. Diana segera turun begitu juga Jared. Pria itu tanpa permisi menggenggam tangan Diana.


"Jangan sampai tersesat."


"Asal kau tahu dulu aku bekerja di salah satu toko di sini. Jadi aku tidak mungkin tersesat," kata Diana sembari tersenyum.


"Jika begitu aku yang takut tersesat," sahut Jared tetap dengan menggandeng tangan Diana. Diana menggelengkan kepala dengan jawaban Jared. Jared membawa Diana ke toko tempatnya bekerja dulu. Dia sedikit ragu untuk masuk.


"Tu_tuan untuk apa kita kesini?"

__ADS_1


"Membelikan titipan Celine. Kau bantu aku memilihnya."


"Ta_tapi .... "


"Selamat malam tuan, apa ada yang bisa ku bantu."


Diana menyembunyikan tubuhnya di belakang Jared. Dia kenal suara itu.


"Aku ingin melihat-lihat dulu."


"Silahkan tuan. Mungkin kekasih anda ingin memilih sendiri," kata pramuniaga itu menunjuk ke arah Diana. Wanita itu belum tahu jika yang ditunjuk adalah gadis yang sangat dia benci.


"Diana, kau yang pilih." Jared menarik tangan Diana hingga Diana berdiri sejajar dengan Jared.


"Diana .... " Wanita itu membelalakkan matanya.


"Hai, Matilda." Diana mencoba bersikap biasa, meski dalam hati dia tidak suka dengan situasi saat ini.


"Pilihlah beberapa. Sesuaikan dengan kakimu."


"Sesuaikan dengan kakiku?" tanya Diana bingung.


"Ya, turuti saja perintahku. Cobalah beberapa sepatu dan pilih 2 sepatu olah raga."


"Baiklah, tuan pemaksa."

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2