
Giani kali ini terlepas dari godaan Ben. Dia segera naik ke ranjang dan memejamkan matanya setelah berganti baju tidur.
Dia takut mendapat serangan lagi. Dia akui dia mulai terbiasa dengan adanya Ben di dekatnya. Giani merasa menemukan sesuatu yang baru dan menyenangkan.
Tak butuh waktu lama, Giani pun akhirnya terlelap. Dia tidur memunggungi pintu kamar mandi.
Ben keluar dari kamar mandi dengan tubuh yang lebih segar. Dia mendekati Giani dan memandangi Giani dengan intens.
Ben mengecup bibir dan kening Giani sesaat. Ben mematikan lampu utama dan menggantinya dengan lampu tidur.
Ben keluar dari kamar dan menuju ruang kerjanya.
Ben menggenggam ponselnya dan menghubungi nomor seseorang.
"Bagaimana?"
("Saya sudah kirimkan filenya berikut dengan informasi terkait di Email anda, Tuan.")
"Baiklah, aku akan kirimkan bayaran mu setelah ini."
Ben mematikan sambungan teleponnya. Dia tersenyum tipis dan langsung duduk di kursi kerjanya. Ben membuka laptopnya dan mulai melihat apa yang sudah anak buahnya dapatkan. Ben menatap tajam dan lalu tersenyum miring.
"Baiklah, besok aku akan mencarimu, seperti kau mencari gara-gara pada keluargaku."
__ADS_1
Ben lantas mematikan laptopnya dan keluar dari ruang kerjanya. Sebelum masuk ke kamarnya, Ben menyempatkan diri masuk ke kamar kedua putranya.
Saat Ben membuka pintu, dia tersenyum mendapati Jarret duduk membelakangi pintu sembari memainkan tabletnya.
Langkah kaki Ben sama sekali tak terdengar atau mungkin juga karena Jarret terlalu fokus pada tabletnya, sehingga dia tidak menyadari jika ayahnya telah berdiri di belakangnya.
"Kenapa kau belum tidur?" tanya Ben sembari menyentuh bahu Jarret. Namun, bocah itu masih tetap tenang memainkan tabletnya.
"Sebentar lagi selesai."
"Apa yang sedang kau lakukan, Son?"
"Aku sedang ikut kompetisi."
"Rahasia. Yang jelas ini menghasilkan."
Ben tersenyum tipis. Dia melihat ke arah Jack yang sudah terlelap. Ben mendekat ke ranjang dan membetulkan letak selimut Jack.
"Jangan tidur larut malam. Besok kalian sekolah." Ben mengusap kepala Jarret lembut dan ia pun berlalu dari kamar putranya.
Ben masuk ke kamar dan langsung naik ke ranjang. Dia mengecup rambut Giani sekilas kemudian tak lama dia pun memejamkan matanya sembari memeluk tubuh Giani.
Pagi harinya,
__ADS_1
Ben dan Giani sudah bersiap mengantar Jarret dan Jackson ke sekolah. Jackson tampak sangat antusias, sedangkan Jarret masih sama memasang wajah datarnya.
"Mom, nanti sepulang dari sekolah, aku dan kakak ingin pergi ke suatu tempat. Jadi biar uncle Ramos yang jemput kami."
"Ok, baiklah. Jika begitu mommy akan malas-malasan di rumah saja, tapi jangan pulang terlalu sore. Mengerti?"
"Ya, Mom."
Mereka berempat akhirnya pergi menuju ke sekolah Jarret dan Jackson. Selama dalam perjalanan Giani lebih banyak diam. Dia seakan sedang tenggelam dalam pikirannya sendiri.
Mobil Ben tiba di depan Gerbang sekolah kedua putranya. Jarret dan Jack turun setelah berpamitan pada Giani dan Ben.
Giani menatap sendu ke arah putranya, "Padahal aku merasa baru kemarin mengajari mereka berjalan dan mengganti popoknya, tapi sekarang mereka berlari meninggalkanku."
"Tidak usah sedih. Ada aku yang akan selalu setia mendampingimu."
Giani memandangi Ben yang terlihat berbeda. Pria itu sekarang lebih sering tersenyum dibanding beberapa waktu lalu yang selalu memasang wajah dingin dan datar.
"Aku ada kepentingan. Apa aku boleh pergi?"
"Kemana?"
...****************...
__ADS_1