
Ben langsung menuju ke sebuah tempat dimana anak buahnya menyekap orang-orang Dawson. Hari ini sepertinya Ben akan menyalurkan kesenangannya di sana.
Ben disambut oleh anak buahnya yang sedang berjaga begitu dia tiba. Dia berjalan dengan tegap dan tetap memasang wajah datar.
"Berapa yang kau bawa kemari?"
"Ada 9 orang, Tuan. Termasuk dengan orang-orang yang kemarin menghajar pria yang ada di dekat jembatan."
"Mereka semua anak buah Dawson?"
"Iya, Tuan. Korbannya mengatakan begitu dan dia berkata jika Dawson memiliki niat jahat untuk menculik kedua tuan muda. Pria yang kemarin dipukuli itu bercerita jika dia diminta oleh Dawson untuk menculik tuan muda, tetapi dia menolaknya."
Ben menyeringai, rupanya anak Rodrigues itu liciknya melebihi sang ayah. Dia berniat menghabisi pria itu karena takut pria itu akan membocorkan rencananya.
Ben langsung memasuki sebuah ruangan, mirip dengan ruang penyiksaan. Di sana ada 3 orang yang terikat dan 6 orang terkapar di lantai.
"Tuan." Paolo menunduk penuh hormat pada Ben.
"Bagaimana?"
"Saya menunggu perintah anda, Tuan."
"Singkirkan yang 6 orang itu. Buang mereka ke hutan ku. Biarkan Zoro dan teman-temannya berpesta. Lalu sisakan tiga orang itu di sini. Mereka akan menjadi mainan untuk Jack dan Jarret."
"Baik, Tuan."
Ketiga orang yang terikat itu baru saja membuka mata. Mereka terkejut saat melihat sosok Ben.
"A_ampuni kami, Tuan." Salah satu tawanan Ben yang terikat memohon dengan wajah mengiba.
"Mengampuni kalian? Sayang sekali, aku tidak biasa mengampuni orang yang sudah berani mengusikku."
"Kami hanya di suruh."
__ADS_1
"Kalian bisa saja menolaknya! Kalian bukan orang bodoh, 'kan?"
Ben menatap orang-orang itu dengan tatapan yang begitu tajam. Ketiga pria itu tidak ada lagi yang berani menjawab lagi.
***
Di mansion, Jarret dan Jack tiba dengan wajah murung. Giani yang menyambut tentu saja langsung memeluk kedua buah hatinya. Meski sebenarnya dia tak tahu apa yang terjadi, setidaknya dia ingin menghibur kedua putranya.
"Ada apa?"
"Tidak apa-apa, Mom. Hanya saja yang kami cari tidak ada di tempat yang kami datangi." Jarret menatap ibunya dengan tatapan yang seperti biasanya.
Giani tersenyum dan kembali memeluk anak-anaknya. Tangan Giani mengusap kedua punggung putranya dengan lembut.
"Apa kalian sangat menginginkan barang itu?" Giani pikir kedua putranya ingin membeli sesuatu dan tidak mendapatkannya.
Ramos membuang tatapan. Dia tak mau pada akhirnya terlibat drama itu dan akhirnya musti berbohong.
"Kami sangat menginginkannya, Mom."
"Ya, Mom. Tentu kami akan memintanya pada daddy. Daddy harus memberikan apa yang kami inginkan."
Giani tersenyum, Dia tidak akan melarang kali ini. Mungkin memang apa yang diinginkan oleh putranya adalah sesuatu yang tidak pernah bisa dia berikan pada mereka.
Jack dan Jarret masuk ke dalam kamar. Ramos juga langsung berpamitan karena dia khawatir akan diintrogasi oleh Giani.
***
Giani menatap jam antik yang ada di sudut ruangan. waktu telah menunjukkan pukul 5 sore, tapi Ben masih belum terlihat tanda-tandanya.
Giani bahkan beberapa kali melihat ponselnya yang sepi tanpa getaran apapun.
"Huh, menunggu itu benar-benar membosankan."
__ADS_1
Giani akhirnya memilih masuk ke kamar kedua putranya. Dia ingin mencari kesibukan karena dia benar-benar bosan.
"Hai, Sayang. Apa yang kalian lakukan?"
"Mom, kami sedang mengerjakan PR dari Mr Felipe."
"Siapa itu Mr Felipe?"
"Dia adalah guru bahasa Perancis."
"Apa kalian perlu bantuan?"
"No, Mom. Kami sudah hampir selesai. Kenapa mommy tidak mandi dan berdandan saja. Mommy harus sering bersama daddy supaya kami bisa segera punya adik perempuan," ujar Jack.
Meski bocah itu sedang menghadap buku, tapi ucapan bocah itu membuat Giani langsung salah tingkah.
"Siapa yang mengajari kalian bicara begitu?"
"Tidak ada. Kami memang ingin memiliki adik. Dulu saat kita di Sidney, kata Miss Minerva kami bisa memiliki adik jika kami mempunyai daddy."
Giani sudah tidak bisa berkata apa-apa lagi. Dia hanya bisa mendesah. "Baiklah, mommy akan mandi dan berdandan. Setelah kalian selesai mengerjakan PR, kalian susul mommy di kamar. Kita akan makan malam bersama."
"Bolehkah kami bermain dengan Zoro?"
"Oh, God. Apa tidak ada mainan lain?"
"Apa boleh main dengan Robin?"
"Siapa Robin?"
"Beruang madu milik daddy."
"Tidak." Giani langsung keluar dari kamar anaknya. Dia tak ingin berlama-lama di sana. Dia khawatir kedua putranya akan meminta sesuatu yang semakin aneh.
__ADS_1
...****************...