Genius Twins Boy

Genius Twins Boy
S2. Menemui Alexson


__ADS_3

Jared baru saja tiba di Brisbane. Dia menginap di hotel. Rocky sudah membuat janji temu dengan Alexson besok. Meski usia Alexson lebih tua darinya. Namun, hal itu tidak membuat Jared gentar, karena darah seorang Alexander mengalir deras di tubuhnya.


Jared sudah mengumpulkan semua bukti kejahatan Alexson. Jangankan hanya seorang Alexson, dulu saja saat dirinya masih kecil, ayahnya sendiri hampir dia buat bangkrut. Meskipun apa yang dia lakukan ilegal, tapi polisi juga pasti akan kesulitan membuktikan jika perbuatannya melanggar hukum.


Setelah membersihkan dirinya, Jared duduk di tepi ranjang sembari menatap layar laptopnya, dia juga mengambil ponselnya dan menghubungi Diana kekasihnya. Baru beberapa jam tak bertemu saja, dia sudah sangat merindukan gadis itu.


("Ada apa Jared? Apa kau sudah tiba di Sidney?")


"Aku merindukanmu."


("Jika begitu cepat selesaikan urusanmu dan pulanglah.")


"Aku juga berencana begitu. Tunggu aku pulang. Setelah itu kita akan menikah."


("Hmm.") Diana hanya menjawab lirih. Jujur sebenarnya dia malu. Setiap Jared membahas soal pernikahan.


"Kenapa wajahmu merona, Sayang?"


("Tidak, ada. Aku tidak merona sama sekali,") jawab Diana mengelak.


"Jangan terlalu banyak melamun di sana. Aku tidak suka. Sebentar lagi waktunya makan siang, Sebaiknya kau tidak terlalu banyak makan buah itu."


Diana langsung mengedarkan matanya. Dari mana Jared tahu jika dirinya sedang makan buah apel?


("Kau memata-mataiku, Jared?")

__ADS_1


"Bukan hanya dirimu sayang, Semua yang berurusan dengan keluargaku tidak akan lepas dari pengawasanku."


("Oh God. Ini sangat menyebalkan. Kau tahu itu?")


"Ya, aku bisa melihat wajah kesalmu, tapi percayalah, semua yang aku lakukan adalah demi kebaikanmu juga. Apa kalian sudah selesai menanam semua bibit bunga itu?"


("Sudah, Aunty sampai kelelahan sangking banyaknya bunga yang dia tanam. Baiklah, aku tutup teleponnya dulu. Aku mau mandi. Jangan mengawasiku lagi.")


Diana mematikan ponselnya dengan kesal. Bagaimana bisa pria itu mengawasinya sekarang? Apa di rumah ini banyak CCTVnya? Tapi dimana? Diana terlihat masih celingukan dan hal itu membuat Jared hampir meledakkan tawanya. Lucu sekali wajah Diana saat ini.


***


Keesokan harinya, Jared sudah bersiap untuk menemui Alexson. Dia membawa laptopnya dan beberapa berkas bukti kejahatan Alexson kedalam tasnya.


Rocky menunggu Jared di lobi hotel. Asisten Jared itu terlihat serius menatap layar ponselnya. Dia sampai tidak menyadari kedatangan Jared.


"Sampai kapan kau akan terus melihat ponselmu, Rocky?"


Rocky tersentak dan langsung memasukkan ponselnya ke saku kemejanya. "Maafkan aku, Tuan."


"Kau sudah mengatakan kapan kita akan tiba di perusahaannya?" tanya Jared.


"Sudah, Tuan. Mari silahkan." Rocky berjalan mendahului bosnya, dia langsung membukakan pintu untuk atasannya itu.


"Apa kau yakin kita perlu membawa mereka?" tanya Jared sembari menoleh ke belakang. Dia melihat 4 mobil di belakangnya berjajar rapi. Mereka yang berada di dalam mobil itu adalah anak buah Ben di dunia bawah. Rocky sudah menyiapkan semua dan segala antisipasinya. Karena lawannya bisa jadi adalah orang yang tak terduga.

__ADS_1


Mereka tiba di perusahan milik Alfredo Torres yang kini dikuasai oleh Alexson. Rocky segera ke resepsionis untuk menanyakan ruangan Alexson.


"Nona, Kami dari Zenith Company ingin bertemu dengan tuan Alexson. Kemarin kami sudah membuat janji. Di mana ruangannya?"


"Baik tunggu sebentar, Saya akan mengkonfirmasi pada asistennya."


Resepsionis itu akhirnya menghubungi asisten Alexson. Rocky dan Jared langsung dipersilahkan untuk naik.


Setibanya mereka di ruangan Alexson, Jared langsung disambut dengan baik. Wajah Alexson terlihat biasa dan tak ada istimewanya bagi Jared.


"Selamat pagi tuan Alexson. Maaf jika kedatanganku mengganggumu."


"Oh tidak masalah tuan muda Jared. Suatu kehormatan bisa menyambut orang hebat sepertimu," jawab Alexson.


"Baiklah, aku tidak mau bertele-tele. Karena aku sebenarnya sedang banyak urusan," ucap Jared. Raut wajah Alexson langsung berubah masam.


"Aku ingin bertanya sesuatu dan bernegosiasi denganmu."


"Apa itu?"


"Kapan kau akan mempertanggungjawabkan kejahatanmu."


"Jangan bicara omong kosong, Tuan. Kejahatan yang mana?"


"Aku rasa kau tahu pasti, kejahatan terbesar yang kau perbuat."

__ADS_1


__ADS_2