Genius Twins Boy

Genius Twins Boy
S2. Dinner Atau Uji Nyali?


__ADS_3

Diana berulangkali harus keluar masuk ruang Fitting demi memuaskan Celine. Padahal dia tidak tahu untuk apa dia harus fitting baju pernikahan. Bahkan Jared saja belum mengatakan apa-apa mengenai hal ini. Diana kembali menghela napas saat mengingat Jared. Semoga saja dimana pun pria itu berada, dia akan diberikan keselamatan.


Pintu ruang fitting kembali terbuka. Kali ini Diana memakai sebuah midi wedding dress berwarna putih susu. Dia terlihat sangat cantik dalam balutan gaun itu. Celine membuka mulutnya takjub. Dia langsung merogoh tasnya dan mengambil ponselnya. Dia beberapa kali mengambil gambar Diana dengan alasan ingin meminta pendapat Giani.


"Kau sungguh cantik dengan dress ini, Kak." Felly tersenyum dengan mata berkaca-kaca.


"Oh God. Jangan menangis, Felly sayang," kata Celine.


"Terima kasih, Kak. Keluarga kalian benar-benar baik sekali."


"Tidak masalah. Asal kalian senang aku juga senang. Lagi pula, kakakmu adalah calon istri kakakku. Sudah pasti aku akan selalu memperlakukan kalian dengan sebaik mungkin."


***


Jared baru saja tiba di rumah. Dia langsung mencari keberadaan Diana. Namun, dia tak mendapati Diana dimana pun. Jared akhirnya mencari ibunya untuk menanyakan keberadaan pujaan hatinya.


"Mom."


"Kau sudah sampai, Jared."


"Ya, aku baru saja sampai, tapi dimana Diana, Mom?"


"Adikmu membawanya pergi."


"Oh God. Menyebalkan sekali. Aku sudah sangat merindukannya."


"Temuilah daddy. Dia sangat bersemangat menyiapkan makan malam yang kau inginkan."


"Baiklah, dimana dia sekarang?"


"Ada di ruang kerjanya."

__ADS_1


"Baiklah, jika begitu aku kesana dulu." Jared mencium pipi ibunya dan hendak mencari ayahnya.


"Bagaimana dengan urusan Diana?"


"Sudah hampir selesai. Tinggal proses pemulihan nama baik Diana yang dituduh sebagai pembunuh dan juga penggembalian harta milik Diana dan juga Felly."


"Memang apa yang kau lakukan pada si Alexson itu?"


"Mommy tidak perlu tahu, ini urusan laki-laki, Mom."


"Kau dan daddymu memang sama-sama menyebalkan," dengus Giani. Jared tertawa dan meninggalkan ibunya yang penasaran.


Jared mengetuk pintu ruangan daddynya. Setelah mendapat ijin masuk dia segera mendekati Ben. Ben tersenyum penuh misteri melihat kedatangan putranya.


"Bagaimana Son? Apa kau menyelesaikannya tanpa sisa?"


"Tentu saja, Dad. Itu hal yang mudah. Semua juga berkat bantuan Rocky yang sangat cekatan dan tahu apa mauku."


"Kau sudah tidak sabar rupanya untuk menunggu."


"Tentu saja, ini momen penting untukku."


"Apa kau mau dengar ide gila daddy?"


"Katakan apa itu?"


"Dinner after Marriage."


"What? Maksud daddy?"


"Malam ini, nikahi Diana. Setelah itu daddy akan menunjukkan lokasi dinner kalian."

__ADS_1


"Aku curiga itu bukan tempat biasa."


"Tentu saja. Anak buah Daddy sudah menyiapkan lokasinya."


"Bukan pondok di hutan, kan Dad?" tanya Jared memicingkan matanya. Ben tertawa. Putranya benar-benar pintar.


"Di sana tempat terbaik untuk menemukan sensasi bercinta, Jared. Kau harus mencobanya."


"Oh God. Sepertinya aku salah meminta tolong. Ini bukan dinner, tapi uji nyali. Aku khawatir Diana akan pingsan duluan sebelum ku sentuh," ujar Jared frustasi.


"Kau terlalu berlebihan. Bagaimana dengan ide daddy. Kalian menikah dulu malam ini di depan pendeta. Lalu setelah itu bawalah Diana ke pondok. Dia pasti akan menyukai tempat itu."


Jared mengusap wajahnya dan berpikir. "Baiklah, aku akan menikahinya malam ini. Ku harap semua sesuai dengan ekspektasimu, Dad."


Jared keluar dari ruang kerja Ben. Dia segera ke kamar untuk mandi. Celine sudah membawa Diana ke salon, malam ini harus menjadi malam spesial bagi kakaknya. Celine berharap Diana tidak akan pingsan karena syok tiba-tiba harus menikah malam ini juga.


"Celine, apa akan ada pesta? Kenapa aku harus memakai gaun ini dan juga berdandan?"


"Ya, di rumah akan ada pesta jadi kakak harus tampil cantik."


"Tapi aku tidak enak. Aku merasa tidak nyaman dengan gaun ini. Aku seperti orang yang hendak menikah."


"Anggap saja seperti itu, Kak. Yang penting hari ini penampilanmu harus memukau," kata Celine.


Meski masih bingung dan penasaran, Diana tak protes saat wajahnya mulai tersapu kuas make up. Sudah lama dirinya tak ke salon. Dulu saat masih di Brisbane. Dia bisa pergi ke salon seminggu 3x.


Usai dimake-up dan sedikit dimake-over tatanan rambutnya, Diana menjelma bak putri dari negeri dongeng. Kulitnya yang putih pucat dengan riasan flawless terlihat menambah kecantikan Diana.


"Wow, you look so beautiful, Kak," puji Felly.


"Ayo kita lekas pulang, acara akan segera dimulai," kata Celine bersemangat. Setelah membayar tagihan salon Diana dan tagihan mereka. Celine membawa Diana pulang sesuai dengan instruksi daddy nya.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2