
"Ben, Anak-anak hilang."
"APA? Bagaimana bisa?" Ben terkejut mendengar kabar itu.
"Aku juga tidak tahu. Apa jangan-jangan mereka diculik? Bagaimana ini? Apa yang harus aku lakukan?"
"Tenanglah, aku akan segera pulang." Ben masih menempelkan ponselnya di telinga.
Saat Giani terdiam, Ben mendengar suara seperti deru mobil.
"Kau dimana?" tanya Ben lagi.
"Aku ada di luar. Aku mencari mereka, Ben."
"Pulanglah, Biar anak buahku yang mencari Jarret dan Jack."
"Aku akan berkeliling di sekitar sekolah mereka sekali lagi, Ben."
"Sweetie, menurut lah. Aku tidak mau terjadi sesuatu yang buruk pada dirimu. Aku janji akan segera menemukan mereka, Ok!"
Giani akhirnya menuruti kemauan Ben. Dia pulang ke rumah dengan harapan agar anaknya segera diketemukan.
Ben dengan cepat menghubungi orang-orangnya. Dia mau semua melacak keberadaan kedua putranya. Sementara dirinya segera ke bandara untuk terbang pulang ke Melbourne.
*
*
*
__ADS_1
Di tempat lain, saat ini Dawson sedang berdiri menatap kedua bocah yang wajahnya teramat mirip dengan Benjamin Alexander.
Rasa kesal dan dendamnya mendorong Dawson nekat untuk menculik kedua anak Ben.
Dawson menunggu Ben lengah. Dan hari ini dia tidak menyia-nyiakan kesempatannya. Ketika mendapat laporan dari mata-matanya. Dawson memutuskan untuk langsung menculik kedua anak Ben.
"Tak ku sangka akhirnya aku bisa membawa kalian berdua kemari."
"Uncle siapa? Apa uncle mengenal kami?" tanya Jack.
"Ya, aku kenal dengan kalian. Apa kalian punya nomor mommy kalian? Aku akan menghubunginya dan memintanya kemari."
"Aku tidak hapal nomor mommy. Jika uncle mau, aku bisa berikan nomor daddy."
Dawson mengerang kesal. Di saat yang bersamaan ponsel Dawson bergetar. Dia segera pergi dari ruangan tempatnya menyekap si kembar.
"Kak, kenapa kakak sejak tadi diam saja?"
"Apakah menurutmu orang tadi menyukai mommy?"
"Itu sudah jelas Kak, mommy kita sangat cantik. Pasti banyak yang menyukainya."
"Apa kita perlu membunuhnya?"
"Daddy melarang kita membunuh. Apa kakak lupa?"
"Aku benci melihat wajahnya."
"Sebaiknya kita lepaskan dulu ikatan kita. Tanganku mulai sakit," kata Jack. Jarret mengangguk.
__ADS_1
Beruntung mereka langsung diikat dan jam tangan Jarret dan Jack masih melekat di tangannya. Jack menekan tombol di jam tangan Jarret. Begitu juga sebaliknya.
"Kita harus bergerak cepat, Kak. Mommy pasti sangat khawatir pada kita."
"Kau benar."
Jack dan Jarret bergerak dengan hati-hati. Mereka melepas ikatan satu sama. Jam tangan milik kedua bocah itu bukanlah jam tangan biasa.
Setelah tali mereka lepas Jarret kembali menekan salah satu tombol di jam tangannya.
"Semoga saja daddy bisa segera menemukan kita. Aku sudah menekan tombol darurat."
Jack dan Jarret mencoba menguping di balik pintu. Mereka tak mendengar suara apapun. Jarret memutuskan untuk menekan gagang pintu dan membukanya perlahan. Jarret mengintip dengan sangat hati-hati.
"Ayo keluar." Jarret dan Jack berjalan bergandengan. Jack sesekali menoleh ke belakang karena khawatir akan ada yang melihat mereka.
Jarret menghentikan langkahnya saat melihat Dawson ada di depan sana sedang berbicara dengan seseorang.
Jarret memberi isyarat pada Jack untuk diam. Jarret mengarahkan jam tangannya pada Dawson dan dalam hitungan detik, Dawson sudah tumbang.
"Kak, apa yang kau tembakkan?"
"Aku tidak tahu, daddy yang memberikannya. Kata daddy ini serum pelumpuh."
"Wah, kita sudah mirip seperti detektif conan yang ada di komik di rumah kakek Thomas, tapi sayang kita lebih cerdas dari dia."
"Jangan banyak bicara, Jack. Ayo kita segera keluar. Jangan sampai mommy sakit lagi gara-gara kita."
...****************...
__ADS_1