
Aluna menatap Ramos dengan kesal. Hari ini dia sengaja mendatangi Benjamin untuk mengutarakan niat Dawson yang ingin membangun kerja sama dengan pria pujaan hatinya itu.
"Cepat katakan! Di mana kakakku, Ramos?"
"Maaf nona, hari ini tuan tidak akan berangkat ke kantor."
"Lalu di mana dia?" tanya Aluna kesal.
"Saya tidak tahu, Nona. Tuan hanya berpesan jika hari ini dia tidak akan datang kemari."
"Kalau begitu beri aku alamat mansionnya."
"Saya tidak berani, Nona," kata Ramos. Dia berbicara dengan tetap memasang wajah datarnya.
"Kau menyebalkan." Aluna menghentakkan kakinya dan pergi dari hadapan asisten kepercayaan Ben itu. Setelah kepergian Aluna, Ramos menyeringai sadis. Dia tahu saat ini Aluna sedang menjalin hubungan dengan putra Rodrigues yaitu Dawson.
Aluna mengemudikan mobilnya pulang ke rumah ibu angkatnya Shena. Dia yakin, pasti Shena tahu di mana mansion Benjamin berada. Siapa tahu nanti dia juga bisa menjerat pria pujaan hatinya itu.
Sesampainya di rumah ibu angkatnya, Aluna masuk dan gegas mencari ibunya. "Ibu."
"Ada apa, Luna? Kenapa kamu berteriak?"
"Ibu pasti tahu kan di mana mansion kak Ben?"
"Jika ibu tahu, ibu juga akan sering mengunjunginya. Apa kau ini bodoh?"
"Kenapa ibu marah padaku?"
"Karena kau itu benar-benar bodoh. Tabunganku makin lama makin menipis. Harta ayah Ben juga sampai sekarang juga pasti masih berada di tangan Ben. Semua usahaku sia-sia. Aku sudah menyingkirkan pria itu, harusnya aku bisa menguasai hartanya. Apalagi keberadaan para tua bangka itu juga benar-benar meresahkan."
Aluna hanya diam mendengar ibu angkatnya menggerutu. Sejak ayah Ben mati, Kakek dan nenek Ben hilang entah kemana. Sampai sekarang Shena tak bisa menemukannya.
"Coba ibu telepon kakak. Bilang saja jika ibu sedang sakit," kata Aluna. Mata Shena langsung berbinar, benar juga. Dia akan mencoba menarik simpati Ben nanti. Dia mengambil ponselnya dan menghubungi Ben. Namun, nasib baik belum berpihak padanya karena Ben tidak mengangkat panggilan itu.
Ben sedang sibuk berada di dapur. Dia terpaksa menuruti keinginan kedua putranya untuk menemani Giani membuat kue.
"Apa yang harus aku lakukan?"
"Daddy, apa kau tidak bisa membuat kue?" tanya Jack.
"Daddy hanya bisa merakit senjata, Jack. Lebih baik kau minta daddy untuk bertarung dengan beruang madu dari pada membuat kue."
__ADS_1
"Wow, Mom. Apa kau dengar apa yang daddy katakan?"
"Ya, Sayang." Giani menjawab, tapi dengan tangan masih sibuk mengocok telur dan gula agar mengembang.
Jarret geleng kepala melihat tingkah adiknya itu. Entah kenapa dia bisa sangat berbeda dengan Jack. Dia merasa sulit mengungkapkan isi hatinya sedangkan Jack lebih mudah terbuka.
"Kakak, kemarilah, ayo kita lihat daddy bertarung dengan beruang madu."
"Hei, Boys. Apa kalian serius mau melihatnya."
"Ya, tentu saja aku serius. Daddy tidak sedang membual, 'kan?"
Ben menatap Giani. Wanita itu tersenyum sembari menggelengkan kepalanya. Dia sendiri terkadang merasa kesulitan untuk membendung rasa penasaran kedua putranya. Dia tidak bisa menghentikan jika putranya sudah menginginkan sesuatu.
"Baiklah, tapi kalian harus melihat dengan diam dan tenang. Jangan mengganggu konsentrasi daddy."
"Asyik. Kita pasti akan diam."
Ben tersenyum melihat wajah Jack yang kegirangan. Dia mendekati Giani dan lalu mengecup puncak kepala Giani sekilas.
"Lain kali aku tidak akan bicara sembarangan lagi," bisik Ben. Giani tersenyum samar. Dia menatap suaminya pergi bersama kedua putranya dengan tatapan lembut.
Sepertinya menikah bukanlah suatu yang buruk. Dia justru merasa setelah bertemu dengan Ben, kedua putranya lebih banyak tersenyum.
Ben membawa kedua putranya menuju hutan di belakang mansionnya. Hutan itu dibatasi dengan pagar besi yang memanjang mengelilingi Mansion.
Berada di sana mengingatkan Giani pada film twilight. Mansion milik Ben ini memang di sisi bagian belakang di kelilingi hutan. Ngeri juga jika sampai ada binatang buas di sana.
Giani tiba-tiba merinding. Dia menoleh ke kiri dan kanan. Kemana perginya Elena? Ia merasa belum melihat perempuan itu sejak kemarin. Apa Ben memberikan tugas lain padanya?
Giani memasukkan kue buatannya ke dalam pemanggang. Dia membereskan dapur itu sembari menunggu kuenya matang.
Sementara itu, Ben dan kedua putranya telah memasuki hutan itu. Jack dan Jarret yang baru pertama kali memasuki hutan itu merasa berdebar. Adrenalin mereka seakan terpacu. Sorot kagum mata mereka tak bisa disembunyikan.
"Daddy apa di sini hanya ada beruang madu?"
"Tidak, Sayang. Di sini ada Buaya, Harimau Benggala, Beruang dan entahlah. Masih banyak lagi."
Ben diikuti oleh 4 pengawal. Mereka bertugas untuk menjaga Jack dan Jarret.
Saat mereka hendak melanjutkan jalannya terdengar suara auman Harimau. Jack dan Jarret langsung menoleh.
__ADS_1
"Daddy, itu Harimau." Pekik Jack senang. Keempat pengawal Jack dan Jarret bersiaga. Meski binatang-binatang di hutan itu adalah peliharaan Bosnya, tetap saja mereka merinding jika harus berhadapan langsung dengan hewan mematikan itu.
"Apa kau mau menyentuhnya, Jack?"
"Apakah boleh?" tanya Jack. Namun, lain halnya dengan Jarret sejak tadi mata tajam bocah itu sudah bertaut dengan mata Harimau itu. Jarret maju mendekat ke arah Harimau itu. Meski auman hewan itu terdengar menyeramkan. Jarret sama sekali tidak merasa gentar.
Ben mengawasi Jarret yang mendekati Harimau nya. Tanpa disangka, Harimau itu menunduk saat Jarret hendak menyentuh kepala hewan itu. Ben menyunggingkan senyum tipis saat putranya berhasil menaklukkan Harimau jantan itu.
Ben mendekat sembari menggandeng tangan Jack. "Namanya Zoro. Dia Harimau jantan peliharaan daddy."
"Apa jangan-jangan beruang nanti juga peliharaan daddy?"
"Tentu saja. Semua yang ada di hutan ini adalah peliharaan daddy. Beberapa bulan sekali ada beberapa petugas yang akan mencari ular berbisa. Karena daddy khawatir ular ular itu akan menggangu nantinya. Ben mengusap kepala Zoro. Jack juga melakukan hal yang sama. Dia tersenyum senang karena bisa menyentuh hewan buas itu.
"Apa kalian masih mau melihat ke sana?"
"Aku rasa lain kali saja, Dad. Aku takut mommy khawatir," kata Jarret.
"Tapi daddy belum berkelahi dengan beruang."
"Lain kali saja." Jack ikut menimpali. Dia sudah tidak berminat dengan pertarungan ayahnya dan beruang. Dia lebih tertantang untuk bermain bersama Zoro.
"Baiklah kalau begitu." Ben membawa Jarret dan Jack untuk pergi dari sana, tapi Zoro rupanya malah ingin mengikuti.
"Hei mau kemana kau?" tanya Ben pada hewan buas itu sembari menahan kepala Zoro. Jarret menoleh dan tersenyum tipis.
"Kau mau ikut?"
Zoro merunduk seakan mengiyakan ucapan Jarret. Jarret mengusap kepala hewan itu dan lalu menatap ayahnya. "Apa boleh Zoro ikut denganku?"
"Nanti mommy pasti akan terkejut," kata Jack.
"Tidak apa-apa. Aku menyukainya," jawab Jarret singkat.
Keempat pengawal itu bergidik ngeri. Tingkah dan sikap Jarret sangat mirip dengan atasannya. Hanya saja, Jarret memiliki aura yang lebih kuat meski masih kanak-kanak."
Ben tidak mungkin melarang keinginan Jarret, mereka akhirnya keluar hutan diikuti oleh binatang buas itu.
Saat mencapai pagar besi, Seseorang menyerahkan sebuah Harnes untuk Zoro. Seakan sudah terbiasa Zoro duduk dengan tenang saat Ben memasang tali pada tubuh hewan itu.
"Ayo, Zoro. Kita kejutkan mommy." Jarret menarik hewan yang besarnya 3 kali lipat dari tubuhnya. Jack mengikutinya dari belakang sembari tertawa.
__ADS_1
Sepertinya Zoro akan menjadi hewan kesayangan Jack dan Jarret.
...****************...