
Jack dan Jarret masuk ke ruangan sang kakek. Tatapan Jarret berubah sendu, saat melihat mantel lab kakeknya yang tergantung di sudut pintu.
"Jack, kau bawa flashdisk kemarin bukan?"
"Tentu saja, Kak. Ada apa?"
"Aku ingin mencari pembunuh kakek. Aku akan memberikan mereka pelajaran."
Jack menarik kalungnya dan mengeluarkan flashdisk yang menggantung di sana. Jarret menyalakan komputer di ruangan kakeknya. Bocah itu duduk dengan elegan meski tubuhnya terlalu kecil untuk duduk di kursi kerja kakeknya.
Ramos berdiri dengan sesekali memperhatikan apa yang Jarret lakukan. Jarret mulai mengoperasikan komputer yang sering digunakan oleh kakeknya. Dengan cekatan dan cermat, Jarret mulai berkutat dengan angka dan kode. Tak berapa lama, dari layar komputer memunculkan gambar rekaman CCTV.
"Jack kemari dan catat nomor plat mobilnya."
"Ok." Jack pun berdiri di samping kakaknya dan mencatat nomor plat mobil yang tampak di layar komputer itu.
__ADS_1
Jarret terus menelusuri setiap gambar rekaman layar CCTV. Ramos merasa sangat takjub. Bocah sekecil itu bisa meretas satelit bahkan sampai begitu detail.
"Dari sekian banyak mobil yang melintas. Kenapa kakak mencurigai mobil itu." tanya Jack.
"Dari sekitar 97 mobil yang melintas di jalan itu. Kau lihat ini. Ini mobil kakek dan mobil ini berada di belakang mobil kakek. Lalu malam harinya mobil itu kembali melintas.
Apa kau tidak menyadari? Di area tempat tinggal kakek tidak ada mobil lain yang melintas saat malam hari. Itu karena rata-rata dari mereka berusia lanjut sama seperti kakek atau kalau tidak mereka rata-rata orang yang bekerja penuh waktu. Jadi saat mereka pulang, Mereka tidak berminat untuk keluar lagi karena sudah lelah bekerja dan hanya mobil itu yang terlintas keluar dari area perumahan tempat tinggal kakek dan lalu setelah itu, paginya uncle Ramos memberi kabar jika rumah kakek terbakar."
Ramos mengangguk dalam hati. Tidak salah lagi, Jarret memang keturunan Alexander. Atau mungkin ini juga karena efek serum yang dulu dipakai tuannya untuk merekayasa gen yang dia miliki. Sungguh sangat luar biasa jika hasilnya seperti kedua bocah ini.
"Aku sudah melacak mobil itu. Dia berhenti di sebuah bangunan. Aku rasa itu seperti markas tempat berkumpulnya para sampah."
Ramos hampir saja menyemburkan tawanya mendengar ucapan Jarret. Jika sampai orang-orang itu mendengar ucapan Jarret, mereka pasti akan mengangkat senjata ke arah Jarret semua.
"Uncle apa kau punya ide untuk ke sana?"
__ADS_1
"Aku tidak berani memberi solusi. Kalian harus bicarakan masalah ini dengan daddy kalian."
"Uncle benar, nanti setelah ini aku akan bilang pada daddy. Mommy pasti akan sedih jika tahu kakek meninggal karena dihabisi."
"Kita harus membalas mereka, Kak."
"Sudah pasti. Aku tidak akan melepaskan mereka. Mereka harus merasakan apa yang kakek rasakan." Jarret menatap tajam ke arah komputer yang masih menyala. Tangannya mengepal kuat.
Kemarahan Jarret terlihat sangat menakutkan. Ramos berjanji dalam hati untuk tidak membuat masalah dengan kedua putra Ben. Jangan sampai dirinya juga ikut kena jadi korban kemarahan Jarret.
Sementara itu, Shena menepuk-nepuk pipi Aluna agar lekas sadar. Dia mengumpat dalam hati karena telah dipermalukan oleh Ben.
"Lihat saja, Ben. Aku akan membalas semua perbuatanmu ini. Aku akan pastikan pernikahanmu dengan wanita itu hancur."
Setelah Aluna tersadar, Shena menarik tangan Aluna dan mengajak Aluna pergi dari tempat itu.
__ADS_1
"Sial. Benar-benar sial. Ini tidak bisa dibiarkan," desis Shena.