Genius Twins Boy

Genius Twins Boy
S2. Nasehat Jared


__ADS_3

"Jaga mulutmu itu Alex. Kau ternyata pria yang terlalu banyak bicara."


"Lalu apa maumu sebenarnya, hah?"


"Itu pertanyaan bagus Alex, tapi jawabanku masih sama. Aku ingin membunuhmu untuk membalas kematian kedua orang tua Diana dan keluarganya yang lain. Kau benar-benar manusia yang pantas untuk dilenyapkan. Manusia tak tahu diri dan tak tahu berterimakasih sepertimu hanya mengotori bumi ini."


"Jika begitu bunuh aku," ujar Alex menantang.


"No, Alex. Aku akan melenyapkanmu, tapi nanti. Sekarang aku sedang menunggu komplotanmu yang lainnya."


Alexson diam, dia kehabisan tenaga karena darah masih terus keluar dadi bekas tembakannya. Alexson hanya bisa pasrah menunggu waktu kematiannya yang sudah tak lama lagi. Jika ditanya apakah dia menyesal membunuh keluarga Alfredo jawabnya tidak. Dia tidak menyesal sama sekali. Menurutnya Alfredo memang pantas mati karena Alfredo telah membuat ibunya Gila.


"Kau tahu Alex, dendammu itu salah alamat. Seharusnya kau tidak membunuh Alfredo yang bersedia memberikan nama belakangnya untukmu. Seharusnya yang kau bunuh adalah baj*ngan yang membuat ibumu hamil. Karena nyatanya dia masih bersenang-senang di luar sana tanpa memikirkan nasib ibumu dan juga dirimu."


"Kau terlalu banyak bicara, cepat bunuh aku sekarang!"

__ADS_1


"Tidak sekarang, Alex. Kita tunggu sebentar lagi. Jika kau mati sekarang, kau akan melewatkan tontonan menarik dariku."


Tak lama berselang, Rocky dan beberapa anak buahnya masuk sembari menyeret 5 orang pria. Jared menyeringai melihat mereka berlima yang telah membunuh keluarga Diana.


"Jadi mereka berlima pembunuhnya?" tanya Jared memastikan.


"Ya, Tuan."


"Apa kau tahu yang mana yang menembak kedua orang tua Diana? Aku mau dia dulu yang akan jadi kelinci percobaan alat baruku," ucap Jared tenang sembari duduk menyilangkan kakinya di sebuah kursi.


Rocky menelan salivanya dengan susah payah. Atasannya itu memang sangat mengerikan jika sudah seperti ini.


"Halo."


"Bukalah pesanku dan segera balas. Satu hal yang perlu ingat, kau tidak perlu takut pada apapun karena mempunyai aku."

__ADS_1


Jared mematikan ponselnya. Sementara itu, Diana yang baru selesai mandi tak menyadari jika Jared mengirim pesan padanya. Namun, saat Diana membuka pesan dari Jared. Jantungnya tiba-tiba berdebar kencang dan tangannya bergetar. Diana langsung menghubungi nomor Jared.


"A_apa maksudnya."


"Benar dia yang membunuh orangtuamu?"


"Jared jangan main-main. Menjauhlah darinya! Ku mohon aku tidak mau kau kenapa-kenapa."


"Tenanglah. Berati benar dia orangnya?" tanya Jared memastikan. Namun, Diana tak lagi menjawab.


Pikiran gadis itu benar-benar kalut. Apa orang itu mencarinya di Sidney dan lalu bertemu Jared? Air mata Diana seketika luruh, dia benar-benar takut Jared terlibat dengan para pembunuh itu. Jared mematikan sambungan teleponnya. Dia yakin jika benar pria itu yang membuat Diana menjadi yatim piatu. Maka dia akan memulainya dari pria itu.


"Ikat tangan dan kakinya. Kita akan mulai pertunjukannya sebentar lagi," ujar Jared. Alexson menatap Jared dengan lemah.


"Bunuh aku sekarang, Ba**ngan." suara Alexson terdengar lirih. Namun, Jared sama sekali tak mempedulikannya.

__ADS_1


Setelah anak buah Jared mengikat pria tadi, Jared mengambil alat barunya. Para pembunuh itu menelan ludahnya begitu juga Alexson, saat mereka semua melihat alat yang Jared bawa mereka benar-benar merasa ini hari terakhir mereka menghirup udara di dunia ini.


"Ok, let's start the game."


__ADS_2