
Saat dalam perjalanan pulang. Giani melihat seorang pria sedang di hajar oleh beberapa orang yang memakai pakaian seperti preman.
"Ben, di sana ada orang yang sedang dipukuli. Berhentilah, ayo bantu dia."
"Sayang, kita tidak tahu apa masalahnya. Jangan ikut campur dengan urusan orang lain," kata Ben masih tetap mengemudi.
"Berhenti! Atau aku akan melompat. Apapun masalahnya aku tidak suka kekerasan," ujar Giani sembari menatap Ben dengan tajam.
Ben berdecak dan memutar kemudinya. Dua mobil bodyguardnya ikut berputar dan berhenti tak jauh dari pria yang sedang di keroyok tadi.
Giani langsung melepas sabuk pengamannya dan turun tanpa berpikir panjang.
"Wah sepertinya mommy akan beraksi lagi, Kak."
Jarret hanya tersenyum dan lalu menenggok ke belakang. Tepat di mana ibunya berada.
"Kalian tetaplah di sini. Daddy akan turun."
"Ok, Dad. Jangan ragu untuk menghajar mereka," kata Jack menyemangati. Ben tersenyum miring mendengar ucapan putra bungsunya.
"Kau tidak menyemangati daddy, Jarret?"
__ADS_1
"Sebaiknya daddy lekas turun. Sebelum mommy menghabisi mereka semua," jawab Jarret masih menoleh ke belakang. Dia melihat ibunya baru saja menendang dua orang.
Sementara itu yang terjadi di luar. Setelah Giani turun, dia langsung meneriaki 6 orang berbadan tegap yang sedang menganiaya seorang pria muda.
"Hei, apa kalian berenam banci? Kalian harus mencari lawan yang sepadan. Tubuh kalian saja yang besar, tapi otak kalian kosong."
"Kau sebaiknya diam, Nona. Atau kau ingin bersenang-senang dengan kami? Kami jamin akan memuaskanmu dan membuatmu menjerit merasakan kenikmatan."
"Cih, kalian menjijikkan sekali."
"Jangan jual mahal, Nona. Kau sudah ikut campur masalah kami. Jangan harap kau bisa lepas dari kami. Kami akan membawamu pada Bos."
Giani menoleh dan tersenyum. "Sebenarnya aku juga tidak suka ikut campur, tapi aku paling benci dengan kekerasan."
Saat salah seorang pria berbaju preman tadi mendekat dan berniat menyentuh Giani. Seketika itu pula Giani menahan tangan pria itu tan memelintirnya ke belakang.
"Arrgh, lepaskan aku!" pekik pria itu. Kelima temannya tadi langsung menodongkan pistolnya ke hadapan Giani.
Orang-orang itu hanya berniat menakut nakuti Giani. Itu karena mereka tahu, jika Giani adalah wanita yang sangat di puja oleh bosnya.
Giani justru tersenyum remeh dan lalu ia mengangkat kaki kanannya dan menendang duo orang lainnya hingga mereka terpental.
__ADS_1
Semua gerakan Giani begitu cepat dan terukur. Mereka semakin serius menodongkan pistolnya.
Namun, sesuatu tak terduga terjadi. Tiga orang yang tersisa tiba-tiba tumbang tanpa sebab, tetapi mulut dan hidung mereka mengeluarkan darah dan pria yang ada di tangan Giani juga ikut tumbang dengan kondisi yang sama. Giani menoleh dan mendapati Ben bersandar di mobil dengan tangan kanan memegang senjata.
Giani akhirnya melepas pria itu. Matanya kini menatap pria yang menjadi korban pengeroyokan. Dia segera mendekati pria itu.
Namun, belum juga dirinya menyentuh pria itu. Tangan Giani langsung ditarik oleh Ben. Pria itu menatap Giani dengan tatapan kesal.
"Don't touch him!" kata Ben penuh penekanan.
"Aku hanya ingin memeriksanya, Ben. Kau terlalu berlebihan."
"Biar laki-laki itu menjadi urusan anak buahku. Ayo kita pulang."
Giani berdecak, "Berlebihan sekali." gumamnya.
"Aku mendengarmu, Sweetie."
"I don't care." Giani langsung membuka pintu mobil dan masuk ke dalamnya.
...****************...
__ADS_1