
Giani mengajak kedua putranya untuk masuk. Untungnya dia juga tak mengamati kedua pergelangan tangan si kembar yang masih tampak merah karena diikat terlalu kencang.
Ben bisa bernapas lega melihat senyum istrinya kembali mengembang.
"Kalian mau mandi sendiri atau biar mommy bantu?"
"Mom, kami sudah besar. Kami bisa mandi sendiri," jawab Jarret.
"Baiklah jika begitu. Segera mandi, lalu setelah itu kita makan malam."
Giani dan Ben masuk ke kamar mereka berdua, sementara Jack dan Jarret masuk ke kamarnya.
"Bagaimana dengan kepalamu? Apa masih sering pusing?"
"Tidak. Ini sudah jauh lebih baik, Ben."
Ben menghentikan langkahnya dia menatap Giani dengan intens.
"Kapan kau akan memanggilku dengan panggilan yang lebih mesra, Sweetie?"
"A_aku malu, Ben."
"Why? Aku ini suamimu, Giani sayang. Kau bisa memanggilku sayang atau honey saja. Bagaimana?"
__ADS_1
"Ehm ... akan aku coba, tapi jangan terlalu berharap lebih."
"Ok, baiklah. Sekarang aku ingin mandi dulu. Apa kau berkenan menemaniku, Sweetie?"
"A_aku sudah mandi, Sa_yang. Maaf aku tidak bisa menemanimu." Giani sampai tergagap karena tidak terbiasa berkata-kata manis.
Ben tertawa. "Jangan grogi seperti itu, Sweetie. Aku tidak akan menggigitmu."
Pria itu pun langsung mengecup bibir istrinya dan berlalu pergi masuk ke kamar mandi. Giani terpaku di tempatnya. Dia mengusap lembut bibirnya dan tak lama senyumnya tersungging di bibirnya.
"Aku pasti sudah gila." Giani bergumam lirih dan kembali tersenyum. Dia sudah layaknya seperti remaja yang tengah dilanda cinta.
Giani akhirnya memutuskan untuk masuk ke walk in kloset dan memilihkan baju untuk suaminya.
"Kak, apa tidak apa-apa kita berbohong pada mommy?"
"Sstt ... pelankan suaramu, Jack!" tegur Jarret. "Meski pun aku tahu, berbohong itu tidak baik, tapi kali ini kita memang perlu berbohong agar mommy tidak semakin sakit."
Jack hanya mengangguk angguk. Giani yang tadi sudah hampir mendorong pintu kamar Jack dan Jarret kini malah justru terpaku di tempatnya.
"Jadi mereka berbohong? Lalu kemana tadi mereka pergi?" batin Giani. Dia akhirnya urung masuk ke kamar kedua putranya.
Giani duduk di kursi ruang makan. Dia tampak sedang terpekur dengan tatapan kosong. Sebenarnya apa yang disembunyikan oleh anak-anaknya.
__ADS_1
Sebuah tangan merengkuh tubuh Giani dan memeluknya dari belakang. Aroma maskulin yang tercium membuat Giani menoleh.
"Kenapa kau melamun di sini?"
"Dimana tadi kamu menjemput Jack dan Jarret, Sayang?"
"Tentu saja di rumah temannya. Bukankah tadi mereka sudah mengatakan padamu jika mereka pergi ke rumah Joel?"
"Mereka berbohong padaku," kata Giani dengan suara bergetar. Ben semakin mempererat pelukannya.
"Mungkin mereka punya alasan."
"Mereka tidak pernah berbohong padaku sebelumnya. Hari ini mereka berbohong padaku. Tidak menutup kemungkinan besok mereka akan mengulanginya lagi."
"Hei, kau harus memberikan kepercayaan pada mereka, Sweetie." Ben mengecup puncak kepala Giani. Dia juga merasa bersalah pada istrinya itu, tapi ini yang terbaik untuk saat ini.
Giani hanya terdiam tanpa menyahuti ucapan Ben. Dadanya terasa sesak dan sakit karena dibohongi oleh anak-anaknya.
"Mom, Dad apa yang kalian lakukan?" Jack muncul di balik tubuh Ben.
"Daddy sedang memeluk mommy. Apa kalian juga ingin memeluk mommy?" Jack mengangguk dan langsung memeluk kedua orangtuanya dari sisi samping. Begitu juga dengan Jarret.
"We love you, Mom."
__ADS_1
...****************...