Genius Twins Boy

Genius Twins Boy
Ban 55. Permintaan Si Kembar


__ADS_3

Ben pulang pukul 8 malam. Dia menyelesaikan sedikit urusannya dulu di Laboratoriumnya. Ada beberapa kerja sama baru yang harus dia periksa dengan teliti agar tidak terjadi masalah ke depannya.


"Daddy, kenapa baru pulang?" Jack menghampir ayahnya dengan wajah ceria seperti biasanya. Bocah itu seperti memiliki dua kepribadian.


Ben yang merasa lelah, seketika sirna saat melihat Jack menyambutnya.


"Di mana mommy dan Jarret?"


"Memulangkan Zoro," jawab Jack sembari memainkan rubik berbentuk piramida.


"Memulangkan Zoro?"


"Iya, tadi setelah makan kakak memanggil Zoro dengan peluit dari daddy. Kami pikir itu hanya tipuan untuk kami, tapi ternyata Zoro sungguh-sungguh datang."


"Kalian pikir daddy menipu kalian? Oh God, kalian tega sekali."


"Sorry, Dad."


Ben duduk di sofa dan melihat anaknya menyelesaikan rubik itu.


"Daddy, boleh aku bertanya?"


"Tanyakan saja apa yang ingin kamu tanyakan. Daddy akan jawab jika daddy bisa."


"Apa daddy mencintai mommy?"


"Tentu saja. Why?"


"Aku dan kak Jarret mau adik perempuan."

__ADS_1


"Hmm, ya lalu?" Ben mengernyit.


"Apa daddy mau bujuk mommy?"


"Bujuk mommy untuk apa?" Ben semakin bingung. Dia tak mengerti apa hubungannya cinta dan adik perempuan, lalu sekarang Jack ingin dirinya membujuk istrinya?


"Untuk memiliki adik perempuan. Bukankah sudah aku bilang, aku dan kakak ingin adik perempuan."


Ben langsung tertawa melihat kekesalan Jack. Bahkan bocah itu meletakkan rubiknya dengan kasar.


"Jack, dengarkan daddy. Daddy dan mommy akan memberikan kalian seorang adik, tapi kami tidak bisa berjanji jika itu adik perempuan. Karena yang menentukan perempuan atau laki-laki bukan kami."


Jarret dan Giani memasuki mansion lewat pintu samping. Giani langsung ke dapur. Sedangkan Jarret langsung mencari keberadaan Jack.


"Hai boy. Dari mana kamu?"


"Mengembalikan Zoro. Mommy marah tadi karena Zoro mendorong mommy. Zoro hanya ingin bermain, Dad."


"Kau bilang apa, Jarret?"


Jarret langsung menyembunyikan wajahnya di punggung ayahnya.


"Hei, kenapa kau meninggikan suaramu, Sweetie?"


"Dia meniup peluit hingga Zoro masuk ke rumah dan menerkamku. Lihatlah! Kepalaku benjol gara-gara hewan peliharaanmu itu."


"Apa yang dikatakan oleh Jarret benar, Sweetie. Zoro hanya ingin bermain."


"Tapi itu berbahaya, Ben. Bagaimana jika aku sampai gegar otak. Bukan hanya itu, kepalaku bisa saja bocor saat terbentur tadi."

__ADS_1


"Kemarilah, aku akan melihatnya." Ben menggerakkan tangannya dan memberi isyarat pada Giani agar mendekat. Giani langsung menghampiri suaminya dan duduk bersandar.


"Sorry, Mom." Jarret mengangkat wajahnya dan menatap Giani penuh penyesalan.


"Sudahlah, sweetie. Bukan salah mereka jika Zoro begitu padamu."


Ben merangkul bahu istrinya itu, Giani menyandarkan kepalanya di bahu Ben.


"Ini sakit sekali, kau tahu!"


"Aku akan mengobatinya nanti." Ben mengecup kening Giani dengan lembut.


"Mom, daddy bilang dia mau membuatkan adik untuk kami."


"Oh God. Jangan menjanjikan apapun pada mereka, Ben."


"Tidak usah khawatir, Sweetie aku akan bekerja keras agar keinginan mereka segera terpenuhi."


"Ehm, apa kau sudah makan?" tanya Giani. Dia masih bersandar di bahu suaminya.


"Aku belum makan."


"Aku akan siapkan makanan untukmu. Tunggu sebentar."


Ben melepas rangkulannya. Namun, sebelum Giani bangkit, Ben mengecup puncak kepala istrinya terlebih dahulu.


"Boys, jangan membawa Zoro ke dalam rumah, kasihan mommy kalian. Bagaimana jika di perut mommy sudah ada adik kalian?" Mommy dan adik kalian bisa saja terluka."


"I'm sorry dad," ujar Jarret dan Jack bersamaan.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2