
Setibanya di mansion, Ben. Giani membawa kedua anak-anaknya memasuki kamar mereka.
"Sayang, boleh mommy tahu kenapa tadi Jarret berbicara begitu pada daddy?"
"Aku lelah, Mom."
Giani memeluk Jarret. Setiap menghadapi sikap Jarret yang terlampau diam dan datar, Giani rasanya ingin menangis. Dia seakan merasa gagal jadi seorang ibu. Dia khawatir jika Jarret memilih memendam perasaannya.
"Jarret, kau tidak lupa kan apa yang selalu mommy katakan padamu? Jangan memendam semuanya sendiri. Mommy sangat menyayangimu dan Jack. Jika ada hal yang membuatmu terganggu. Katakan pada mommy."
"Yes, Mom. I love you too. Aku benar-benar sedang lelah."
"Baiklah, jika begitu. Sebaiknya kalian berdua istirahat di rumah. Kalian tidak perlu ikut daddy makan malam dengan kolega daddy."
"Ya, Mom. Mommy saja yang temani daddy. Kami akan di rumah bersama aunty Elena dan Uncle Ramos."
"Baiklah, tapi kalian harus ingat untuk jadi anak yang baik."
"Ya mom." Giani lalu mengecup kedua pipi Jarret dan Jack, lalu kemudian dia keluar dari kamar kedua putranya.
Giani masuk ke kamar, Ben sedang duduk sembari menelepon seseorang.
"Ku tunggu kabar terbaru darimu. Segera lakukan apa yang ku perintahkan." Ben langsung mematikan sambungan teleponnya dan berjalan mendekat ke arah Giani.
__ADS_1
"Kenapa lama?"
"Jarret mengeluh lelah, Jack juga tidak mau ikut acara makan malam nanti. Bagaimana?"
"Lalu bagaimana denganmu, Sayang?"
"Aku akan menemanimu. Jack dan Jarret ingin di rumah bersama Ramos dan Elena."
"Tidak apa-apa. Lagi pula ini undangan dadakan."
Ben kembali mengusap pipi Giani. Ia senang menatap rona merah di wajah istrinya itu. Meski tidak berdandan Giani terlihat sangat cantik.
"Ehm, aku harap kau mau memaafkan sikap Jarret tadi," ujar Giani dengan raut wajah sendu.
"Tidak, bukan begitu. Aku hanya merasa aku telah gagal mendidik mereka dengan baik."
"Oh God. Kau tidak perlu merasa begitu. Bagiku kau sudah sangat sempurna membesarkan kedua putra kita hingga mereka tumbuh begitu hebat."
Ben menangkup wajah Giani. Dia bisa melihat mata Giani berkaca-kaca. Ben tersenyum. Jemarinya bergerak lembut membelai wajah cantik istrinya.
"Jangan menyalahkan dirimu sendiri. Karakter Jarret sebenarnya lumayan mirip denganku, Sayang. Jadi aku bisa memakluminya. Lagi pula Jack dan Jarret adalah anakku."
"Maafkan aku, aku terlalu melow."
__ADS_1
"Tidak masalah, kau sudah sangat berjuang untuk membesarkan mereka, Sayang. Jangan hakimi dirimu."
Giani mengangguk-angguk. Ben dengan gemas menyesap bibir Giani dengan rakus. Lama mereka melakukan ciuman hingga akhirnya suara gedoran pintu kamar mereka mengagetkan keduanya.
"Mom, Dad buka pintunya." Giani langsung mendorong tubuh Ben, dia merapikan bajunya yang sempat tersingkap karena tangan Ben sejak tadi bermain di dadanya.
Ben terkekeh dan menggelengkan kepalanya. Giani sungguh sangat menggemaskan saat wajahnya memerah karena malu.
"Daddy, apa daddy jadi pergi?" tanya Jack menyelonong masuk sesaat setelah Giani membuka pintu kamarnya.
"Ya, Sayang. Sebentar lagi daddy dan mommy akan pergi."
"Kami tidak jadi lelah. Kami akan ikut dengan daddy dan mommy."
"Baiklah, kalian tunggu dulu. Daddy mau mandi."
"Apa mommy tidak mandi sekalian?"
"Mommy nanti akan mandi setelah daddy," jawab Giani. Wajahnya bahkan sangat merah mendengar ucapan kedua putranya.
Ben hampir saja menyemburkan tawanya, mendengar ucapan kedua putranya.
"Mom, mandilah bersama daddy. Ini sudah hampir waktunya makan malam. Aku dan Jack akan menunggu." Jarret mendorong tubuh Giani. Mau tak mau Giani melangkah menyusul Ben.
__ADS_1
...****************...