Genius Twins Boy

Genius Twins Boy
S2. Apa Kau Pecandu?


__ADS_3

Jared duduk tak jauh dari tempat Diana. Dia masih memandangi Diana yang sedang meremas kotak rokok yang terbuat dadi stainless. Diana sengaja memindahkan rokoknya ke dalam kotak itu agar Felly tak mengetahuinya.


"Kau sering merokok?" tanya Jared. Diana menoleh, tatapan mata mereka kembali bertemu.


"Jika aku sedang gelisah saja. Aku butuh sesuatu untuk mengalihkan pikiranku."


"Kau tahu itu tidak baik untukmu, 'kan?"


Diana hanya mengangguk. Kali ini dia berani beradu pandang dengan Jared karena sorot mata pria itu tidak setajam tadi.


"Berhentilah merokok!" ujar Jared tegas.


Diana tersenyum getir. "Aku tidak bisa. Aku tidak mungkin mabuk-mabukan. Jadi hanya ini yang bisa aku lakukan."


"Kau bisa melakukan hal lain yang lebih ada manfaatnya," kata Jared, kini dia mengatakan dengan nada yang lebih pelan.


"Akan aku pikirkan nanti." Diana menggerakkan kakinya. Setiap dia merasa gelisah tubuhnya selalu bereaksi.

__ADS_1


"Aku permisi dulu, Tuan." Diana berdiri dari posisinya duduk. Dia akan merokok saja di kamar mandi.


"Duduk! Kau tidak boleh merokok dimana pun selain di sini," kata Jared seakan bisa membaca isi pikiran Diana.


Diana kembali duduk. Namun, bukannya menyalakan rokoknya, dia malah sibuk menggigit kukunya. Bola matanya bergerak gelisah. Diana sepertinya benar-benar tidak bisa berbohong dengan kondisi dirinya.


Jared terus mengamati gerak gerik Diana. Dia berpikir apa mungkin Diana seorang pecandu narkoba?


"Kau bukan seorang pecandu narkoba kan?"


"Jangan sembarangan bicara, Tuan." Tanpa sadar Diana melirik Jared dengan tatapan kesal. Bisa-bisanya dia menuduh seperti itu.


"Jam berapa kau selesai bekerja?"


"Aku tidak tahu, Tuan. Maaf aku mengantuk. Aku akan pergi ke kamarku. Selamat malam." Diana pun langsung masuk ke dalam mansion.


Jared hanya bisa memandangi kepergian Diana dengan tatapan yang entah tak tahu apa artinya. Dia tersenyum tipis tanpa sadar.

__ADS_1


"Gadis yang menarik."


Jared akhirnya ikut masuk ke dalam mansion. Tadinya dia ingin menemui beberapa anak buahnya, tapi rupanya keberadaan Diana justru membuatnya melupakan niat awalnya.


Jared mengambil ponselnya dan menghubungi anak buah daddynya. Meski waktu sudah begitu larut, tapi Jared bukan tipe orang yang suka membuang-buang waktu.


"Pergilah ke Brisbane. Aku tidak peduli bagaimana pun caranya, aku mau kau mengawasi Alexson Torres. Kabari apapun yang kau tahu dan kau dengar. Jangan mengecewakanku." Jared langsung memutus sambungan teleponnya setelah mendengar jawaban dari anak buah daddynya.


Jared lalu merebahkan tubuhnya. Dia masih terbayang wajah kesal Diana. Sepertinya lucu jika membuat gadis itu kesal. Jared seperti menemukan hiburan baru.


Tak lama pria itu terlelap. Lain halnya dengan Diana. Dia bahkan tak sanggup memejamkan matanya. Setiap dia merasa mengantuk dan tanpa sadar memejamkan matanya, dia seperti mendengar letusan senjata api hingga membuatnya kembali terjaga.


"Sial, aku benci kondisiku. Jika aku minum obat tidur sekarang, aku pasti akan kesiangan besok."


Diana mengambil rokoknya dan membuka balkon kamarnya dengan perlahan agar adiknya tidak terganggu. Setelah berada di luar, Diana menutup kembali pintu kamarnya. Dia duduk di kursi malas dan menyalakan rokoknya.


Diana menghisap dalam rokok yang ada di tangannya, mulutnya menghembuskan kepulan asap hingga membentuk lingkaran.

__ADS_1


"Apa yang harus aku lakukan untuk menghilangkan trauma ini, Mom? Semakin lama aku semakin merasa tak nyaman?" lirih Diana.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2