Genius Twins Boy

Genius Twins Boy
Bab 51. Tapi Aku Mencintaimu


__ADS_3

"Aku ada kepentingan. Apa aku boleh pergi?"


"Kemana?"


"Aku tidak bisa memberi tahu tempatnya padamu."


"Jika begitu aku tidak akan mengijinkanmu. Lebih baik kau ikut denganku."


"Ck, menyebalkan. Jika begitu aku mau pulang saja. Aku akan turun di sini dan naik taksi."


"Kau pikir aku akan membiarkan dirimu?"


"Ben, ayolah."


"Panggil aku Honey dan cium aku. Mungkin aku akan mempertimbangkannya."


"Tidak mau," jawab Giani cepat.


"Baiklah, tak masalah. Jika begitu kau harus menurutiku."


Giani tidak lagi menjawab. Dia melipat bibirnya kesal dan lalu membuang muka. Ben tersenyum melihat kekesalan Giani.


Sangking kesalnya Giani sampai tidak menyadari jika mereka sebenarnya putar balik menuju mansion.


Giani baru tersadar saat supir membunyikan klakson. Ben turun dan mengantar Giani masuk ke dalam mansion.

__ADS_1


"Baiklah, jangan cemberut terus seperti itu, Ok!"


Ben mengusap pipi Giani dengan lembut.


"Kau menyebalkan," ketus Giani.


"Tapi aku mencintaimu, Sweetie. Itu yang terpenting! Meski aku menyebalkan, tapi aku mencintaimu."


Ben lantas mencium bibir Giani dengan rakus. Jika sudah seperti ini, Giani tidak lagi bisa mempertahankan kekesalannya. Dia pun membalas ciuman Ben dengan kemampuannya.


Sesaat Ben menatap manik mata Giani. Begitu juga dengan Giani. Kini keduanya seperti sedang adu ketahanan.


"Aku ada urusan, Kau tidak boleh kemana-mana. Anak buah ku akan memperketat penjagaan."


"Apa kau berniat mengurungku, Ben?"


Giani diam. Dia semakin menatap Ben dalam-dalam dan tak lama Giani justru mendekatkan wajahnya dan dia mencium Ben tanpa diminta.


Seperti mendapat jackpot. Ben menyunggingkan senyum tipis disela ciuman Giani. Bahkan Ben merasakan dadanya seperti malam tahun baru yang dipenuhi letupan-letupan kembang api.


Cukup lama Giani memagut bibir Ben. Ingin rasanya Ben mengangkat istrinya itu ke kamar agar mereka bisa adu kekuatan. Akan tetapi dia sedang ada keperluan yang tidak bisa ditunda lagi.


Saat Giani mengurai ciumannya, Ben menyeringai. Wajah Giani memerah. Sepertinya dia juga merasakan hal yang sama.


"Lekaslah pergi dan jangan terlalu lama meninggalkanku."

__ADS_1


Ben mengangguk. Dia mengecup kening Giani dan langsung meninggalkan sang pujaan hati. Giani tak pernah menyangka, pada akhirnya dia terjatuh pada pesona ayah dari kedua putranya. Giani tersenyum sendirian dan lalu pergi masuk ke dalam kamar.


"Jaga istriku dengan baik. Jangan ada yang melakukan kesalahan. Karena jika sampai istriku lari atau pergi tanpa sepengetahuan kalian, Maka aku akan membunuh kalian semua."


Ben langsung pergi. Dia sudah sangat terlambat untuk menemui seseorang.


***


Di sekolahnya, Jarret dan Jackson tampak malas mengikuti pelajaran. Mereka ingin segera pergi mencari tempat para pengacau yang berani menghabisi nyawa kakeknya.


Kemarin Jarret dan Jack sudah menyusun rencananya. Mereka tidak sabar untuk segera beraksi.


"Kak, apa kau pikir ini tidak sedikit aneh?"


"Aneh kenapa?"


"Apa kakak pikir daddy benar-benar belum tahu siapa pelakunya?"


"Entahlah, bukankah kita ini keturunannya. Seharusnya kau juga paham bagaimana daddy. Aku yakin dia sudah tahu. Hanya saja dia sedang mengetes kemampuan kita."


"Ini sangat menyebalkan." Jack tiba-tiba merasa tidak bersemangat.


"Jarret tersenyum tipis. "Jangan patah semangat, daddy pasti menyiapkan bagian terbaik untuk kita."


Jarret kembali memusatkan perhatiannya ke depan kelas, di mana salah seorang temannya sedang maju untuk mengerjakan soal yang diberikan oleh gurunya.

__ADS_1


"Ini membosankan," desis Jack. Jarret hanya menghela napas panjang.


...****************...


__ADS_2