Genius Twins Boy

Genius Twins Boy
Bab 73. Khawatir


__ADS_3

Kini kandungan Giani sudah memasuki trimester akhir. Ben semakin ketat menjaga Giani begitu juga dengan si kembar. Giani saat ini sedang berada di taman bersama Jack dan Jared. Kedua bocah itu bermain tak jauh dari ibunya karena Ben sudah berpesan pada mereka untuk menjaga ibunya.


"Mom, apa kakek Thomas dan nenek Martha jadi berkunjung kemari?" tanya Jack.


"Iya, jadi. Mungkin sebentar lagi mereka akan sampai."


"Aku senang jika kita bisa tinggal dengan kakek dan nenek lagi."


"Mommy juga senang."


Giani sesaat memejamkan matanya karena dia merasakan kontraksi.


"Mom, are you ok?" tanya Jared yang langsung menangkap raut tidak nyaman dari ibunya.


"Yes, Honey. Adik kalian sedang bahagia juga karena dia sejak tadi bergerak terus," ujar Giani sembari mengusap usap perutnya.


"Mommy yakin?" tanya Jared memastikan. Jack dan Jared langsung mendekati Giani. Peluh mulai membasahi kening Giani. Tangannya berkeringat dingin.


"Mommy tunggu di sini. Aku akan memanggilkan dokter Alexa."


Jared berlari masuk ke mansion. Sejak mengetahui Giani hamil. Ben merekrut dokter kandungan yang berkompeten untuk bersiaga di mansion miliknya. Ben berani membayar mahal dokter itu.


Jack mengambil tisu dan mengusap peluh di kening Giani. "Apakah sakit sekali, Mom?" tanya Jack dengan suara bergetar. Dia tak tega melihat ibunya kesakitan.


Giani tersenyum lembut, meski bibirnya kini memucat.

__ADS_1


"Tidak terlalu, sebab ada kamu dan Jared yang menjaga mommy," ujar Giani.


"Mommy boleh menangis jika tidak tahan rasa sakitnya. Aku sudah bertanya pada dokter Alexa, bagaimana sakitnya orang melahirkan. Kata dokter Alexa itu seperti banyak tulang yang dipatahkan secara bersamaan."


"Oh Jack. Kelak jika kamu dewasa beruntung sekali gadis yang menjadi istrimu nanti."


Jared berjalan cepat bersama dokter Alexa dan dokter Rea. Dokter Rea mendorong sebuah kursi roda.


"Apa anda merasakan kontraksi, Nyonya?" tanya dokter Alexa.


"Ya, Dok. frekuensinya setiap 5 menit sekali."


"Kita segera ke ruang tindakan saja! Dokter Rea, tolong katakan pada yang lainnya untuk mempersiapka ruangan. Biar saya saja yang mendorong kursi rodanya."


Dokter Rea segera kembali ke dalam mansion. Jared dan Jack mendampingi Giani memasuki ruang kesehatan di mansion itu. Jack sudah mengabarkan pada Daddy nya jika mungkin sebentar lagi adik bayinya akan keluar dari perut ibunya.


Ben yang mendapat kabar itu tentu saja langsung pulang ke mansionnya. Setibanya di mansion, Ben langsung menuju ruang kesehatan. Dia mendatangi Jack dan Jared yang menunggu di luar pintu ruang tindakan.


"Apa adik kalian sudah keluar?" tanya Ben.


"Belum, Dad. Kami sejak tadi juga menunggu."


"Sebaiknya kalian menunggu di atas. Nanti daddy akan memanggil kalian jika adik kalian sudah lahir."


"No, Daddy. Kami mau di sini saja," kata Jared dan diangguki oleh Jack.

__ADS_1


"Baiklah, kalau begitu daddy masuk dulu. Daddy harus menemani mommy kalian."


"Ya, Dad."


Ben masuk ke ruang tindakan. Dia melihat Giani berbaring miring menghadap ke arah pintu. Ben segera memasang baju steril di tubuhnya dan langsung berjalan mendekati istrinya. Ben mengecup pelipis Giani dalam.


"Sorry aku terlambat," bisik Ben.


"Sudah bukaan ke berapa?" tanya Ben pada dokter Alexa.


"Sejauh ini masih delapan, tapi prosesnya lumayan cepat, Tuan."


Giani kembali menarik napas. Air matanya sejak tadi menetes. Namun, tidak terdengar sedikit pun rintihan dari bibirnya.


"Katakan jika sakit, Sweetie."


"Ya, ini sakit sekali, Sayang. Aku tidak berani merintih. Aku khawatir itu akan membuat Jack dan Jared semakin mencemaskanku."


"Kau pasti bisa melewati ini." Ben mengecup perut Giani.


"Sayang, lekaslah keluar. Kasihan mommy," bisik Ben di perut Giani.


"Oouh, ini sakit sekali, Dokter. Aku sudah tidak tahan," lirih Giani nyaris tanpa suara.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2