
Brisbane
Seorang pria berusia 28 tahun, dengan wajah tegas dan rahang yang kokoh sedang menatap kesal kelima anak buahnya. Mereka tidak ada yang becus bekerja.
"Mencari dua orang gadis saja kalian tidak mampu. Apa saja kerjaan kalian, Hah?" Pria itu menatap tajam kelima anak buahnya.
"Kami benar-benar minta maaf, Tuan."
"Hari ini juga aku ingin kalian pergi mencari mereka lagi sampai dapat."
"Baik, tuan Alex."
Mereka berlima segera pergi dari ruangan Alexson. Mereka tak mau menjadi sasaran kemarahan tuannya karena bisa jadi nyawa mereka akan melayang.
"Kita akan mencari ke mana lagi, Bos?"
"Kita ke Sidney. Aku benar-benar merasa sial karena tertipu. Ku rasa adik tuan Alexson itu cukup cerdik untuk menghilangkan jejak."
__ADS_1
Sementara itu, setelah kelima anak buahnya pergi, Alexson menyalakan rokok dan berdiri. Dia berjalan ke arah jendela kaca besar yang menampilkan pemandangan kota Brisbane.
Tatapan pria itu begitu tajam, Dia tidak akan melepaskan Diana dan Felly begitu saja. Dendam membuatnya tak menaruh iba sama sekali dengan kedua adik kandungnya yang berbeda ibu itu.
Alex dendam pada Diana dan Felly, karena gara-gara ibu mereka, ibunya diabaikan oleh sang ayah hingga mengalami depresi berat. Ibu Alex sering sekali melakukan percobaan bunuh diri karena tak tahan mendengar berita mengenai ayahnya dan ibu Diana. Hingga akhirnya, suatu ketika ibu Alex ditemukan gantung diri di kamar mandi.
Hal itu menjadi pukulan telak bagi Alex. Dia bersumpah akan membalas kematian ibunya yang tragis. Alex tak hanya dendam pada ayahnya, dia juga dendam pada Diana dan adiknya.
Alex memakai kesempatan di perayaan ulang tahun pernikahan ayahnya dengan ibu Diana. Dia membayar pembunuh bayaran untuk menghabisi semua orang yang ada di kediaman ayahnya, tapi sialnya Diana dan Felly ternyata tidak ada di sana.
Alex berkali-kali menghembuskan asap rokok ke udara. Sorot mata tajam itu seakan penuh menyimpan luka yang dalam. Dia yang sejak dulu diabaikan dan harus merawat ibunya yang depresi sendirian. Membuat dendam itu tumbuh subur tanpa di sadari Alfredo Torres.
Kesalahan itu bermula dari Alfredo, tapi pada akhirnya banyak pihak yang ikut menanggung dosa pria itu.
Sementara itu, Diana malam ini tak bisa memejamkan matanya, dia benci kondisinya saat ini. Diana gelisah. Dia benar-benar tak bisa melupakan kejadian naas waktu itu.
Diana akhirnya memutuskan untuk keluar dari kamar. Dia membawa sebungkus rokok. Jam sudah menunjukkan pukul 12 malam. Diana berjalan mengendap endap menuju ke arah dapur lalu dia membuka pintu belakang.
__ADS_1
Diana duduk di sebuah kursi taman. Malam ini benar-benar sunyi sepi. Diana mulai menyalakan rokoknya untuk menghilangkan kegelisahannya.
Gadis itu menengadah menatap langit yang hari ini menampakkan banyak bintang berkerlip.
Diana menghisap dalam ujung rokoknya. Dia menghembuskan napasnya dengan berat.
"Apa yang sedang kau lakukan di sini?" suara bariton itu tiba-tiba mengejutkan Diana. Dia langsung membuang rokoknya dan menginjaknya.
"Tu_tuan." Diana menoleh dan mendapati tatapan Jared yang seakan menguncinya.
"Aku bertanya padamu. Apa yang kau lakukan di sini?"
"Aku sedang mencari udara segar. Aku tidak bisa tidur, Tuan."
"Kenapa?"
"Kejadian buruk itu seperti kaset rusak yang terus berputar di otakku." Diana menatap Jared sekilas, tapi kemudian dia langsung membuang tatapan karena tak tahan melihat sorot mata Jared.
__ADS_1
...****************...