Genius Twins Boy

Genius Twins Boy
S2. Dingin


__ADS_3

Giani berhasil meyakinkan Diana untuk tetap tinggal di mansionnya. Dia menjanjikan pengobatan pada Felly, agar Felly bisa sembuh seperti sedia kala.


Diana menghela napasnya. Dia tak boleh kekanakan dan egois. Dirinya harus berupaya demi kesembuhan Felly. Karena bagaimana pun ini semua karena dirinya.


"Kenapa kakak gelisah?" tanya Felly.


"Tidak ada apa-apa, Fel. Sebentar lagi kakak akan bekerja. Kau boleh melakukan apapun yang kau suka di kamar ini."


"Hmm, ya kak."


Diana kembali keluar. Kemarin aunty Giani sudah mengijinkannya bekerja hari ini. Dia tidak akan malas-malasan, meski sebenarnya tadi aunty Giani memintanya istirahat dulu.


Diana kembali keluar dari kamar, di saat yang sama dia bersitatap dengan Jared.


"Siapa kau?" tanya Jared.


"A_aku pelayan di sini, Tuan."


"Pelayan?" Jared mengernyit, baju yang dipakai oleh Diana tidak menunjukkan jika dia adalah seorang pelayan.


"Kau pulang Jared?" Giani mendekati putra pertamanya.


"Ya, Mom. Pekerjaanku telah selesai."


Jared mengecup pelipis Giani. "Siapa dia, Mom?"


"Teman mommy."


"Tapi tadi dia mengaku sebagai pelayan."


"Mungkin Diana takut padamu. Pokoknya kau dan Jack tidak boleh mengganggunya. Jika kalian membuat masalah dengan Diana, kalian akan berhadapan dengan mommy."

__ADS_1


Jared hanya diam, tapi dia tetap menatap dingin ke arah Diana.


"Diana, ajak Felly makan siang bersama denganku."


"Tapi, Nyo ... eh aunty, Felly pasti tidak mau keluar."


"Kau harus meyakinkan Felly, Diana. Aunty tidak mau dia seperti ketika saat berada di rumah kalian. Di sini tidak akan ada yang mengucilkannya."


"Baiklah," jawab Diana pasrah. Bagaimana pun juga Giani adalah majikannya. Apa yang majikannya katakan Diana harus mematuhinya.


Diana langsung kembali ke kamar dan memanggil Felly. Gadis kecil itu awalnya menolak ajakan kakaknya. Namun, saat Diana menyebut nama majikannya, Felly akhirnya mengangguk.


"Apa benar tidak apa-apa, Kak?" tanya Felly cemas.


"Aunty sendiri yang memintaku untuk memanggilmu, Fell," kata Diana mendorong kursi roda adiknya.


Setibanya di ruang makan. Diana sesaat kembali tertegun menatap sorot mata dingin Jared.


Diana tersenyum tipis pada Giani dan mengangguk. Diana memposisikan Felly di sampingnya. Felly terus menunduk karena takut melihat Jared.


Giani menoleh ke arah putranya dan tiba-tiba memukul lengan Jared.


"Berhentilah membuat mereka takut, Jared. Kau menatap mereka seperti mangsa buruanmu saja."


"Oh, Mom. Kenapa harus memukulku?"


"Diana sebelumnya, perkenalkan dia putra sulungku. Kakak Jackson. Mereka kembar, tapi percayalah sifat mereka sangat berbeda jauh."


Diana mengangkat pandangannya menatap Jared, dia hanya menganggukkan kepalanya sekilas pada pria itu.


"Aunty, apa bisa nanti aunty memberitahukan apa tugasku di sini?"

__ADS_1


"Setelah makan aku akan memberitahumu, Sayang."


"Felly, apa kau takut dengan anak aunty?" tanya Giani.


"Mom, aku sudah sangat lapar." Jared menyela pembicaraan Giani hingga membuat Giani berdecak kesal.


"Dasar menyebalkan."


Giani lalu mempersilahkan Diana untuk mengambil apapun yang dia ingin makan. Diana mengambilkan Felly makanan yang tersaji di depannya.


"Kau hanya makan salad?" tanya Giani pada Diana.


"Kakak alergi kentang, Aunty." Felly yang menjawab pertanyaan Giani.


"Kau bisa memilih daging itu, Sayang."


"Ambil daging itu. Jangan membuat drama di meja makan," ujar Jared dengan suara beratnya.


"Jared!" Giani memandang putranya kesal.


Jared bersikap tak acuh. Dia melanjutkan makannya setelah melihat Diana mengambil potongan daging di depannya.


Jared bukannya tak menyukai Diana hanya saja dia belum terlalu mengenal gadis itu. Dia khawatir Diana hanya menjual kesedihan demi bisa mendekati ibunya.


Saat makan, mata Jared tak lepas mengawasi polah tingkah Diana.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Visual Jared


__ADS_1


__ADS_2