
Ben merasa beruntung, dia kini berada di titik bahagianya. Bisa memiliki Giani seutuhnya dan dia bisa bersama-sama dengan kedua putranya.
Hari ini Ben menyelesaikan pekerjaannya dengan cepat, setelah sebelumnya dia mendapat asupan gizi dari Giani.
"Apa aku boleh turun menyusul anak-anak?"
"Tentu saja boleh, tapi kita turun bersama-sama. Aku sudah selesai dengan pekerjaanku."
"Baiklah, sebaiknya kita turun bersama. Entah apa yang mereka lakukan. Ku harap mereka tidak mengacaukan ruangan itu."
"Anak kita tidak akan mungkin bersikap kekanakan seperti itu, Sayang." Ben kembali melingkarkan tangannya di bahu Giani. Panggilan sayang dari Ben cukup mampu membuat wajah Giani memanas.
"Oh God. Kau hanya belum mengenal mereka yang sebenarnya, Ben. Mereka punya rasa ingin tahu yang cukup besar."
"Sekali pun mereka akan menghancurkan tempat ini. Asal mereka senang aku tidak masalah."
"Hati-hatilah dalam berucap, Ben."
"Aku serius, Sayang. Jika itu memang bisa mengganti 7 tahun yang terlewat tanpa kehadiranku, aku rela." Giani menghentikan langkahnya tepat di depan lift dia memiringkan tubuhnya dan mendongak menatap mata Ben.
"Berhentilah berpikir seolah kau tak pernah ada untuk mereka. Keberadaan Elena sudah menunjukkan satu bukti jika kau selalu memperhatikan mereka."
Ben tersenyum, dia mengangguk dan mengecup puncak kepala Giani. Keduanya langsung memasuki lift dan Ben menekan nomor lantai di mana ruangan Profesor Gilbert berada.
__ADS_1
Ting!!
Giani dan Ben keluar dari kotak besi itu dan lalu bergegas ke ruangan ayah Giani. Di lantai itu banyak juga para profesor lain yang memiliki tugas masing-masing. Mereka mengangguk hormat pada Benjamin.
Sebagian dari mereka menatap heran kenapa Ben turun ke lantai itu. Apa untuk mencari dua cucu Profesor Gilbert? Dan mereka sekarang sedang memperhatikan Giani. Sepertinya mereka tak asing dengan Giani.
Namun, sebagian dari mereka tidak banyak bicara. Mereka hanya memandangi Giani dengan berbagai prasangka.
"Jarret, Jack apa kalian sudah selesai?" Ben masuk ke ruangan itu tanpa mengetuk pintu.
"Sudah, Dad."
"Ayo kita pulang, Nanti kita akan makan malam dengan kolega daddy."
Jack langsung mendekati ayah dan ibunya sedangkan Jarret membereskan semuanya dan mematikan komputer milik kakeknya.
"Kakekku bukan orang ceroboh, Dad." Jarret menjawab pertanyaan Ben dengan ketus.
"Jarret, kau harus sopan pada daddy." Giani mengusap pipi putra sulungnya.
"Pertanyaan daddy seakan menjelekkan kakek, Mom."
Ben tersenyum, dia melepas pelukannya di bahu Giani dan kini dia berjongkok di depan Jarret.
__ADS_1
"I'm sorry, Jarret. Daddy tidak ada maksud seperti itu. Daddy hanya merasa kalian benar-benar luar biasa, karena kalian bisa mengoperasikan komputer kakek."
"Kak, apa kau lelah? Kau sensitif sekali hari ini." Jack menatap Jarret seakan memberi kode. Jarret menarik napas panjang dan menghembuskannya dengan perlahan.
"Maafkan aku, Dad. Mungkin aku memang sedang lelah. Tidak seharusnya aku marah padamu."
Ben tersenyum dan memeluk Jarret. Ia merasa kedua putranya sedang menyembunyikan sesuatu, tapi nanti saja dia akan menanyakan sendiri pada putranya.
"Ayo, kita pulang."
Ben berdiri dan lalu menggandeng Giani. Sedang Jarret dan Jack berjalan mendahului ayah dan ibunya.
"Ramos, kau ikut denganku."
"Baik, Bos."
Ramos mengunci ruangan Profesor Gilbert. Mereka akhirnya pergi meninggalkan Laboratorium Sword of sciences.
Sepanjang perjalanan Ben menggenggam jemari Giani. Dia mengusap punggung tangan istrinya dengan lembut.
"Apa yang kau pikirkan?"
"Apa kau sudah menyelidiki tentang kasus ayahku?"
__ADS_1
"Aku masih mengusahakannya. Karena ini tidaklah mudah."
Ternyata anda tertinggal satu langkah dari kedua putra anda, Bos. Ramos yang menyetir hanya bisa membatin bosnya.