
Hari hari pun berlalu, tak terasa sudah 2 bulan lebih lamanya Giani dan Benjamin pergi ke San Francisco untuk menemani Louisa yang juga sedang mengandung. Rencananya Giani dan Benjamin akan pulang saat Diana melahirkan nanti. Saat ini usia kandungan Diana telah mencapai bulan kelahiran. Hanya tinggal 2 minggu lagi, kedua putranya akan lahir.
"Jared bangun. Perutku sakit." Diana mendesis dengan air mata bercucuran. Dia menggoyangkan bahu Jared dengan keras. Jared seketika terbangun dengan mata terbuka lebar. Dia langsung duduk dan menatap istrinya.
"Ada apa? Apa yang kamu rasakan?"
"Perutku sakit sekali."
"Sudah sejak kapan?"
"Barusan."
Dengan terburu-buru Jared mengambil kaos dan celananya yang tersebar di lantai. Keduanya baru 1 jam lalu selesai melakukan kegiatan panas. Mungkin karena hal itu memicu kontraksi Diana.
"Maafkan aku. Maafkan aku. Ini semua salahku. Seharusnya aku bisa menahan diri," ucap Jared memeluk Diana dan mengecup keningnya dalam. Tanpa menunggu lama, Jared mengangkat tubuh Diana meski berat badan istrinya itu sudah naik 10kg. Yang Jared pikirkan sekarang adalah keselamatan Diana dan kedua putranya.
__ADS_1
Jared memasukkan Diana ke dalam mobil dan dia sendiri yang akan menyetir. Mengingat ini sudah sangat larut. Dia tidak mau merepotkan anak buahnya yang sedang beristirahat.
Jalanan sangat sepi sehingga membuat Jared memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi. Tak butuh waktu lama, Jared dan Diana tiba di rumah sakit terdekat. Jared langsung membawa Diana masuk ke unit gawat darurat. Jared diminta menunggu di luar, sementara Diana sedang ditangani oleh 2 orang tenaga medis.
"Nyonya, berapa usia kandungan anda?"
"Sekitar 38 minggu, Dok. Ada apa? Apa ada yang salah?"
"Tidak, tapi sepertinya kedua anak anda sudah tidak sabar untuk dilahirkan. Saya akan memanggil dokter kandungan dulu untuk memastikan kondisi anda, tapi menurut pemeriksaan saya, anda sudah pembukaan 6 mungkin perlu waktu beberapa jam lagi untuk bisa pembukaan sempurna.
"Tapi usia kandunganku masih kurang 2 minggu, Dok. Apa tidak berbahaya."
Diana mengangguk lemah. Setelah dokter pergi, tak lama Jared masuk. Wajahnya terlihat sangat cemas. Diana tersenyum dan mengusap pipi Jared yang mulai ditumbuhi jambang.
"Maafkan aku sekali lagi. Gara-gara aku semuanya jadi begini." Sesal Jared. Dia menggenggam tangan Diana yang mengusap pipinya, lalu Jared mengecupnya dengan lembut.
__ADS_1
"Tidak apa-apa. Dokter tadi mengatakan ini kondisi wajar karena bayi kita kembar, Sayang." Setelah mengatakan hal itu, Diana seketika mer*mas tangan Jared saat dia merasakan gelombang kontraksi yang kuat. Giginya gemeletuk menahan kesakitan. Jared mengusap perut Diana dengan tangan bergetar.
"Kau pasti bisa melewati ini, Sayang," bisik Jared. Diana mengangguk.
"Maaf, bisa minggir sebentar. Saya dokter kandungan di sini."
Jared pun melepaskan pegangan tangan Diana. Dia mundur berdiri di pojokan dan melihat dokter menangani istrinya.
"Sudah pembukaan 7. Kita siapkan ruang persalinan," ucap dokter kandungan itu memberi perintah.
"Nyonya, anda bisa makan atau minum untuk mengisi tenaga terlebih dahulu, sampai pembukaannya lengkap."
"Butuh berapa bukaan lagi, Dok? Istriku sepertinya sudah tidak tahan."
"10, Tuan. Kurang 3 lagi. Saya yakin ini tidak memakan waktu lama."
__ADS_1
Diana kembali mencengkeram apapun yang dapat di raih tangannya. Keningnya berkeringat dan bibirnya pucat. Jared benar-benar tidak tahan melihat istrinya kesakitan seperti ini. Jika bisa digantikan, maka dia bersedia menggantikan kesakitan Diana.
...****************...