
Jared tersenyum tipis melihat wajah Diana yang memerah. Sungguh gadis ini terlihat lebih cantik jika malu-malu seperti ini.
"Kau mau kembali ke kamar?" tanya Jared. Diana mengangguk. Jared memanggil dokter Rea agar melepas infus Diana.
Meski panasnya sudah turun, tapi Diana masih tampak lemas. Jared masih setia menunggu Diana selesai dilepas infusnya.
"Apa dokter juga mengambil sampel darah Diana?"
"Iya, sudah. Kau tenang saja. Mommy-mu sudah memberi intruksi secara keseluruhan. Sejauh ini dia dehidrasi dan kurang istirahat. Aku rasa Diana perlu ke psikolog untuk berkonsultasi tentang masalah insomnia-nya."
"Itu tidak perlu. Aku sendiri yang akan mentreat Diana agar dia bisa tidur dengan baik," ujar Jared.
Dokter Rea tertawa. Dia tahu saat ini Jared sedang berada di puncak masa sedang panas membara. Jatuh cinta untuk yang pertama kalinya membuat Jared terlihat sangat protektif terhadap Diana.
"Baiklah, aku yakin Diana akan cepat sembuh jika kau yang memberikan treatment untuk mengatasi insomnia-nya."
"Itu sudah pasti." Jared tersenyum tipis. Baginya dokter Rea sudah seperti keluarganya juga. Karena dokter itu selalu berada di sana sejak Jared tinggal di mansion itu.
Diana yang menjadi obyek perbincangan hanya diam dan lebih memperhatikan saat Jared berbicara. Jared mengangkat tubuh Diana, gadis itu memekik karena tak menyangka jika Jared akan menggendongnya.
__ADS_1
"Tu ... Jared, turunkan aku."
"Tidak, aku akan menggendongmu ke kamar. Kau masih terlihat lemah," kata Jared tak ingin ditolak.
Diana pasrah tak bicara lagi. Dia melingkarkan tangannya di leher Jared dan bersandar di dada pria itu. Dia tak akan melawan, dia memilih menerima semua perlakuan Jared padanya.
"Kau lebih terlihat manis jika menurut seperti ini, Di."
"Aku tidak punya pilihan lain," kata Diana. Jared tertawa.
Tanpa mereka berdua sadari sejak tadi Giani mengawasi Jared dari kamarnya. Wanita paruh baya itu tersenyum melihat putra pertamanya. Dia senang jika Jared dekat dengan Diana.
Jared membawa Diana ke kamarnya. Diana tampak canggung saat Jared merebahkan Diana di ranjang. Wajahnya memerah saat Jared membetulkan letak bantalnya.
"Hmm?" Jared menoleh, wajahnya dan Diana hanya berjarak beberapa centi saja. Dia tersenyum tipis sedangkan Diana justru menahan napasnya.
Jantung Diana berdebar kencang. Mungkin saat ini Jared dapat mendengarkan debaran di jantungnya.
"Kau berdebar, Di?"
__ADS_1
"Me_menjauhlah." Diana mendorong dada Jared. Namun, tanpa disangka-sangka Jared menahan tangan Diana di dadanya. Diana pun dapat merasakan debaran jantung Jared yang tak biasa.
"Kau merasakannya?" tanya Jared lirih. Diana mengangguk. "Kita sama Di. Saat di dekatmu aku juga merasa berdebar, tidak hanya dirimu saja."
Diana menggigit bibirnya resah. Dia ingin menarik tangannya. Akan tetapi Jared menahannya.
"Ja_red."
"Bolehkah aku menciummu, Di?" tanya Jared dengan suara serak.
"Ja_jared aku .... " belum sempat Diana menjawab, Jared sudah membungkam mulut Diana dengan bibirnya. Sepertinya dia benar-benar kecanduan dengan bibir gadis itu sekarang.
Jared melu*mat bibir Diana dengan lembut dan Diana memejamkan matanya. Dia mencengkeram kemeja Jared dengan erat tanpa ada niatan membalas ciuman panas pria itu.
Saat Ciuman mereka terurai, Jared tersenyum sembari mengusap bibit Diana yang membengkak.
"Sepertinya aku mulai kecanduan dengan bibirmu. Kau begitu menggoda, Sayang," ujar Jared, netranya sekarang menatap Diana dengan lekat. "Jadilah kekasihku, Di."
Diana terdiam, dia menunduk, tapi Jared menahan dagu Diana.
__ADS_1
"Please. Aku tidak pernah memohon pada gadis mana pun. Ini juga pengalaman pertamaku, Diana. Would you be my girlfriend?"
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...