
"Apa yang harus aku lakukan untuk menghilangkan trauma ini, Mom? Semakin lama aku semakin merasa tak nyaman?" lirih Diana.
Diana langsung mandi saat sinar mentari mulai menampakkan wujudnya. Tubuhnya kembali terasa lemas. Setiap dia kembali teringat kejadian nahas itu, Dia akan sering mengalami insomnia.
Diana menuju dapur. Dia duduk di sebuah kursi. Bibi Dillas mengernyitkan alisnya menatap Diana.
"Ada apa denganmu, Diana?"
"Tidak ada apa-apa, Bi. Apa bibi punya kopi?"
"Apa kau sudah sarapan?" Bibi Dillas menjawab pertanyaan Diana dengan pertanyaan.
Diana menggeleng. Bibi Dillas lalu mengambilkan selembar roti panggang dan mengolesinya dengan selai kacang. Dia menaruhnya di piring dan menyerahkannya pada Diana.
"Isi perutmu dulu, setelah ini akan ku buatkan kopi untukmu."
"Terima kasih bibi." Diana menggigit rotinya. Bibi Dillas tersenyum. Dia lalu membuatkan kopi untuk Diana.
Meski Diana menutupi wajahnya dengan riasan tipis, tapi kantung matanya masih terlihat. Wajahnya juga tidak secerah kemarin.
Bibi Dillas menyerahkan secangkir kopi pada Diana dan mengambil piring bekas roti gadis itu. Setelah meneguk kopinya Diana bangkit berdiri.
"Apa yang bisa ku bantu, Bi?"
__ADS_1
"Kau duduk saja. Semua sudah dikerjakan pelayan lain. Sebaiknya kau menyimpan tenagamu untuk nanti melayani nyonya Giani."
"Baiklah jika begitu, Bi."
Diana duduk di sana. Dia melamun menatap bibi Dillas yang mondar mandir mengurus semua keperluan dapur.
"Sedang apa kau di sini?"
Diana menoleh saat mendengar suara Jared. "Tu_tuan."
"Kenapa dengan wajahmu? Kau seperti sedang melihat hantu."
"Ti_tidak." Diana lalu menunduk.
"Nanti sepulang aku dari bekerja, kau harus ikut denganku," kata Jared.
"Aku akan bicara dengan mommy nanti. Kau hanya perlu menuruti perkataanku dan jangan membantah."
Diana terdiam. Jared masih menatap gadis itu dengan tatapan tajam. Dia mengambil cangkir kopi milik Diana dan meneguk isinya tanpa permisi.
"Tu_tuan, itu kopiku."
"Lalu?" Jared mengangkat sebelah alisnya. Diana hanya bisa mengalah dan pasrah, melihat ke dalam cangkir kopinya yang telah tandas airnya dan hanya menyisakan ampas di dasar cangkir.
__ADS_1
"Tidak apa-apa, Tuan. Anda bebas berbuat apapun karena ini adalah rumah anda," kata Diana.
Jared tersenyum tipis dan berlalu pergi. Dia harus berangkat ke perusahaan pagi ini karena ada rapat dewan direksi.
Diana menatap punggung Jared. Pria itu benar-benar menyebalkan menurutnya. Entah kenapa Diana jadi khawatir apakah dia akan betah bekerja di rumah ini atau tidak.
Saat Diana hendak mencuci cangkir kopinya, Dia dikejutkan dengan suara seorang gadis.
"Kakak siapa?"
"Aku orang baru di sini, Nona. Namaku Diana."
"Kau pelayan di sini?" tanya Gadis itu penasaran. Dia baru pulang pagi tadi dari kegiatan sekolahnya. Dan dia terkejut saat melihat ada makhluk cantik selain dirinya dan mommy nya di rumah itu."
"Iya, Nona."
"Dia teman baru mommy. Bukan pelayan, Celin." Giani tiba-tiba berdiri di belakang putrinya.
"Mommy berteman dengan seorang gadis?" Celin tampak terkejut mendengar ucapan mommy-nya.
"Iya, memang kenapa? Apa ada aturannya?"
"Oh, Mom. Dia lebih cocok menjadi kekasih kak Jared atau kak Jack." Lirih Celin
__ADS_1
"Nanti akan mommy pertimbangkan." Giani berbisik di telinga putrinya. Diana hanya mengernyit bingung karena tak tahu isi percakapan terakhir ibu dan anak itu.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...