
Setelah Giani berlalu masuk ke dalam kamar mandi. Ben duduk termenung. Apa benar yang dikatakan Giani tadi? Tapi sebenarnya semua masuk akal karena saat itu Ben juga masih ingat jika Giani dalam keadaan tak sadarkan diri waktu itu.
Giani keluar dari kamar mandi, Dia sudah memakai setelan piyama berbahan satin berwarna hitam, Rambutnya terbungkus handuk. Ben lagi-lagi dibuat terpukau dengan penampilan Giani yang terlihat sederhana. Namun, sangat cantik.
"Kemarilah." Ben menepuk sisi sofa di sebelahnya. Giani mengangguk dan mendekat. Namun, dia tidak berani untuk langsung duduk.
"Duduklah, ada yang ingin aku katakan padamu."
Giani duduk di ujung sofa. jujur dia tidak terbiasa duduk berdekatan dengan pria. Meski sebenarnya ada 1 atau 2 orang teman di kampusnya dulu yang mendekatinya, tapi Giani selalu bisa membuat batasan di antara mereka.
"Kenapa? Apa kau takut padaku?"
"Ti_tidak."
"Ayolah, Giani. Aku sekarang suamimu. Bukankah kau sedikit berlebihan jika menjauhiku?"
Giani menggeser duduknya sejengkal. Ben yang merasa gemas. Akhirnya menarik tubuh Giani hingga merapat ke arahnya.
"Tuan!" Pekik Giani kaget.
"Panggil aku Ben, Giani."
"B_ben, aku mohon jangan seperti ini."
"Memangnya kenapa? kau sudah menjadi istriku, 'kan?"
"Tapi kita menikah demi Jack dan Jarret."
"Siapa yang bilang demi mereka? Aku menikah denganmu karena aku memang menginginkanmu, Giani. Aku bisa saja hanya membahagiakan Jack dan Jarret, tapi aku lebih memilih membahagiakanmu agar kedua putra kita juga ikut bahagia."
Giani terdiam mendengar ucapan Benjamin. Sorot mata pria itu mengatakan jika apa yang dia ucapkan adalah sebuah kejujuran.
"Ben, aku .... "
"Biarkan aku menebus semuanya, Giani. Aku tidak memaksamu untuk mencintaiku. Karena aku juga tidak tahu apa arti cinta yang sesungguhnya. Yang aku inginkan saat ini adalah melihatmu dan anak-anak kita bahagia."
Apa yang Benjamin ucapkan mampu menggetarkan hati Giani. Sudut mata wanita itu berkaca-kaca. Ben mengusap lembut air mata Giani yang mulai menetes.
"Terima kasih. Aku tidak tahu lagi harus berkata apa. Di saat aku merasa sendirian, kau justru menawarkan sebuah keluarga untukku."
"Kau tidak sendirian lagi, mulai sekarang kau bisa mengandalkanku."
__ADS_1
Giani mengangguk. Setelah berbicara panjang lebar, Ben meminta Giani untuk segera beristirahat, sementara dirinya membersihkan diri.
Giani merebahkan tubuhnya. Namun, dia tidak dapat memejamkan mata. Giani berpikir selama tinggal di mansion ini, dirinya tidak melihat anggota keluarga Ben yang lainnya.
"Kenapa kau belum tidur?"
"Aku belum mengantuk."
"Tapi ini sudah hampir pagi. Apa kau sedang memikirkan sesuatu?"
"Hmm, apa boleh aku bertanya?"
"Tentu saja, kau itu istriku. Kau berhak bertanya apapun padaku."
"Apa selama ini kau tinggal sendirian di sini? Aku ingat terakhir kali kau punya adik perempuan."
"Dia bukan adik kandungku. Dia perempuan yang dipungut ibuku. Dia rencananya akan dijodohkan denganku, tapi aku tidak mau dan aku tidak menyukainya," kata Ben santai. Pria itu juga mengenakan sepasang piyama yang sama dengan Giani.
"Lalu bagaimana denganku? Apa kau menyukaiku?" Giani terbelalak dan langsung membungkam mulutnya sendiri. Dia tak percaya akan mengucapkan hal itu di depan Ben.
"Maaf aku mengantuk, aku mau tidur." Giani menarik selimutnya hingga keatas kepala. Namun, Ben berhasil menahan tangan Giani.
"Ti_tidak. Tadi aku salah bicara lupakan saja." Giani memalingkan wajahnya saat Ben memberikan tatapan lembut ke arahnya.
"Apa kau yakin?"
"Ben, jangan menggodaku. Ini sudah mau pagi. Pasti sebentar lagi Jack dan Jarret akan kesini mencariku."
"Baiklah, kau boleh tidur. Aku juga sudah mengantuk. Ben naik ke atas ranjang. Giani langsung membalikkan tubuhnya memunggungi Ben.
"Istriku, tidak sopan tidur memunggungi suamimu seperti itu."
Giani sesaat diam, Dia menggigit bibir bawahnya dengan cemas. Namun, tak lama dia membalikkan tubuhnya menghadap ke arah Ben.
"Mulai sekarang biasakan begini."
"Aku tidak tahu jika kau ini sebenarnya banyak bicara. Dulu ayahku sering berpesan padaku agar jangan sampai berurusan denganmu, tapi malah sekarang kau jadi suamiku."
"Profesor Gilbert bicara begitu padamu?" tanya Ben dengan tatapan tak percaya.
"Ya, mungkin ayahku takut jika aku akan jatuh cinta padamu dan kecewa. Karena kau begitu tinggi dan tak tergapai."
__ADS_1
"Tapi nyatanya sekarang kau berbaring di sampingku. Giani kelak jika kau mendengar sesuatu yang buruk tentangku, jangan langsung pergi dariku, tapi tanyakan dulu kebenarannya padaku."
"Ya, aku akan lakukan itu, karena kau adalah suamiku. Aku harus mempercayaimu lebih dari orang lain."
Ben lagi-lagi tersenyum, dia menarik kepala Giani dan mengecup keningnya lembut.
"Tidur lah, besok kita masih banyak waktu untuk saling bertukar informasi mengenai hidup kita."
Giani langsung memejamkan mata, Ben menatap Giani cukup lama. Napas Giani berhembus teratur. Ben merapatkan tubuhnya dan memeluk Giani. Dia pun ikut terpejam meski sebentar lagi pagi menyapa.
Bagi Ben ini awal yang cukup baik. Ternyata Giani jauh dari dugaannya. Dia pikir akan memerlukan waktu cukup lama untuk bisa mendapatkan wanita istimewa ini, tapi semua dugaannya salah. Dia beruntung Giani bisa menjadi miliknya.
Pagi mulai menyapa, Sinarnya berkilau dibalik tirai kamar Ben. Pria itu sudah bangun sejak tadi. Dia hanya tidur selama 2 jam. Selebihnya ia menggunakan waktunya untuk menatap istrinya yang pulas tertidur
Pintu kamarnya digedor dari luar. Ben tahu siapa tersangkanya, sudah pasti itu putra bungsunya, Jack. Karena hanya Jack yang selalu meledak-ledak.
Ben segera turun dari ranjang dan bergegas membuka pintu.
"Oh boys, kalian akan mengganggu mommy tidur."
"Ups, maaf Dad," kata Jack. Ben mengajak kedua putranya masuk ke kamarnya. Jack dan Jarret bisa melihat ibunya masih pulas tertidur. Jarret naik ke ranjang kedua orangtuanya dan berbaring di dekat Giani. Dia tidur menghadap ibunya. Tangan mungilnya menyentuh wajah Giani dengan lembut. Semua yang Jarret lakukan tak luput dari tatapan Ben.
"Aku rasa kakak sedang menyembunyikan sesuatu, Daddy. Akhir-akhir ini aku melihat kakak menatap mommy dengan tatapan sedih," bisik Jack di telinga ayahnya.
"Apa kakakmu tidak mengatakan sesuatu padamu?" Ben akhirnya ikut berbicara lirih.
"Tidak, Kakak orangnya sangat tertutup. Meski aku merasa cintaku untuk mommy sudah sangat besar, tapi sepertinya cinta kakak besarnya melebihi cintaku pada mommy."
Giani perlahan membuka matanya. Hal pertama yang dia lihat adalah putra sulungnya yang memberikan tatapan lembut seperti Ben menatapnya semalam.
"Selamat pagi, Sayang."
Jack langsung mendekat begitu mendengar suara ibunya. "Morning, Mom."
Giani menoleh dan mendapati Jack tersenyum padanya. "Morning, Sayang."
"Morning, Ben." lanjut Giani. Jack dan Ben bergabung bersama Giani dan Jarret. Mereka ikut merebahkan tubuhnya di belakang Jarret.
"Sepertinya hari ini aku mau kita begini saja."
...****************...
__ADS_1