Genius Twins Boy

Genius Twins Boy
S2. Rindu Mommy


__ADS_3

Setelah dipaksa oleh Giani, Diana akhirnya mau kembali ke kamar. Setelah Diana meninggalkan ruang perpustakaan itu, wajah Giani langsung berubah murung. Dia jadi teringat dengan ayahnya yang juga dibunuh tanpa alasan yang jelas.


"Mom, are you ok?" tanya Jared mendekati ibunya.


"Mommy baik-baik saja. Mommy hanya jadi teringat dengan kakek kalian. Mommy merasa sangat beruntung karena saat itu mommy punya daddy dan kalian, tapi Diana hanya punya adiknya. Bahkan mommy pikir sampai sekarang pasti orang-orang itu masih mencari keberadaan Diana dan juga Felly."


"Aku akan membantunya. Perusahaan daddy sepertinya masih memiliki kontrak kerja sama dengan perusahaan ayah Diana, tapi aku juga tidak tahu siapa yang sekarang mengurus perusahaan itu."


Giani tersenyum, dia tahu putranya sebenarnya memiliki hati yang baik. Hanya saja dia selalu menutupi kebaikan hatinya dengan sikap yang dingin.


"Terima kasih, Jared. Mommy tahu kau pasti akan membantunya."


Jared pergi meninggalkan ibunya sendirian. Dia langsung ke kamar untuk mencaritahu masalah yang terjadi di keluarga Diana. Jared mengeluarkan tabletnya.


Jared mengetikkan nama ayah Diana. Di pencarian langsung muncul banyak beritanya, karena kasus kematian keluarga itu cukup menyita perhatian banyak orang bahkan pemerintah daerah sampai turun tangan.


Menurut Jared pembunuhan keluarga Diana tidak sesederhana yang dia pikirkan. Karena dari berita yang mencuat, semua CCTV yang berada di sekitar komplek rumah Diana pada saat kejadian itu, semuanya mati tanpa terkecuali.


Saat Jared mencoba mencari siapa pemimpin perusahaan milik Alfredo, alis Jared langsung mengerut dalam.

__ADS_1


"Alexson Torres?"


Dari berita yang beredar Alexson Torres adalah anak dari istri pertama Alfredo. Dia diangkat menjadi CEO untuk sementara menggantikan Alfredo.


Jika begitu apakah Diana adalah anak dari istri kedua? Jared mencoba menelusuri lebih dalam berita mengenai keluarga Diana. Bukan karena dia peduli pada Diana, tapi Jared hanya merasa iba karena Diana mengingatkan dirinya pada sang mommy.


Di kamar, Diana masih berada di dalam kamar mandi. Dia tak mau membuat Felly cemas karena melihatnya menangis. Sudah lama Diana tak menangis di depan adiknya. Namun, sejak 2 hari ini bersama Giani, Diana seperti menemukan seseorang yang bisa menjadi tempatnya mencurahkan segala beban di hati yang selama ini dipendamnya sendirian.


Diana membasuh wajahnya. Dia lalu keluar dari kamar mandi setelah memastikan wajahnya sudah tak terlalu sembab.


"Kakak, apa yang kakak lakukan di kamar mandi? Kenapa lama sekali?"


"Pantas saja mata kakak merah."


Diana tersenyum, dia bersyukur adiknya tidak menyadari jika dia baru saja menangis.


"Kakak tidak bekerja?"


"Aunty menyuruh kakak ke kamar, mungkin aunty akan pergi."

__ADS_1


"Kak .... " Felly seperti ingin mengatakan sesuatu, tapi kemudian gadis itu tersenyum getir dan menggeleng.


"Tidak jadi," kata gadis itu.


"Ada apa, Fell?"


"A_aku rindu mommy."


Diana memeluk adiknya dengan erat. Dia menengadah agar air matanya tak kembali menetes. Dia sudah berjanji pada dirinya sendiri akan menjadi kuat demi Felly.


"Kakak juga merindukan daddy dan mommy," lirih Diana. Felly tiba-tiba terisak. Entah mengapa saat diperlakukan dengan baik oleh Majikan baru kakaknya Felly seperti diingatkan akan sosok ibunya.


"Mommy pasti tak suka melihat kita bersedih seperti ini, Fell," lanjut Diana.


"Aku ingin melihat makam mommy. Aku ingin melihat makam daddy."


"Kita pasti akan ke sana. Kakak akan usahakan kita bisa ke sana."


...****************...

__ADS_1


__ADS_2