Genius Twins Boy

Genius Twins Boy
S2. Karena Kasihan?


__ADS_3

Mereka pulang dari pusat perbelanjaan dalam kondisi lelah dan kenyang. Sebelum tiba di rumah, Jared mengajak Diana makan di sebuah restoran.


Saat akan berpisah, Jared masih sempat menggoda Diana dengan mengatakan akan menemani Diana tidur. Diana lagi-lagi mendelik kesal pada Jared dan pria itu pun tertawa.


Saat Jared akan memasuki kamarnya, dia terkejut mendapati mommy-nya sedang menatap tajam ke arahnya sembari duduk di sofa.


"Jared Alexander, kenapa kau membawa Diana pergi tanpa seijin mommy."


Jared mendekati ibunya dan duduk di samping wanita yang telah melahirkannya itu.


"Sorry mom, aku hanya tidak tahan melihatnya seperti itu."


"Why? Kau kasihan padanya?" tanya Giani.


"Ya seperti itulah," jawab Jared tanpa berpikir panjang. Namun, tanpa Giani dan Jared tahu, Diana sudah terlanjur mencuri dengar pembicaraan mereka. Gadis itu berdiri dan menggenggam tas karton yang dibawanya dengan erat.

__ADS_1


"Jadi benar karena kasihan?" gumam Diana. Dia segera berbalik. Mulanya Diana ingin menyerahkan tas yang berisi sepatu Celine pada Jared, tapi siapa yang akan menyangka dia justru mendengar sesuatu yang sama sekali tak ingin dia dengar.


Diana kembali ke kamarnya, kebahagiaan yang sempat dia rasakan rupanya hanya sebuah bentuk belas kasihan dari anak majikannya. Seharusnya dia tidak langsung merasa besar kepala saat Jared terus memperlakukan dirinya dengan baik.


Diana masuk ke dalam kamarnya, dia berdiri di depan cermin dan berkata, "who are you?"


Diana menampar pipinya cukup keras. "Sadar diri, siapa dirimu Diana? Kau tidak pantas menyukai anak majikanmu."


Diana tersenyum getir. Dia beranjak menuju kamar mandi. Diana menyalakan shower dan berdiri di bawahnya tanpa melepaskan baju. Gadis itu memejamkan matanya dan duduk di bawah guyuran air dingin.


Diana baru keluar dari kamar mandi setelah hampir 1 jam berada di bawah guyuran shower. Dia langsung berbaring di ranjang dan memilih tidur. Dia akan menganggap semua yang terjadi hari ini hanya sebuah mimpi.


Keesokan harinya Diana terbangun dari tidurnya. Hari ini dia merasa kondisinya semakin tidak baik. Diana langsung ke kamar mandi dan membersihkan dirinya. Sepertinya dia membutuhkan obat kali ini.


Diana memakai bajunya dan bergegas mencari bibi Dillas. Dia pergi ke dapur dan menjumpai bibi Dillas sedang mengatur isi kulkas.

__ADS_1


"Bibi, apa kau punya obat penghilang rasa sakit?"


"Apa kau sakit?"


"Ya kepalaku sakit sekali, Bi." Diana duduk dan meletakkan kepalanya di meja marmer. Wajahnya terlihat sangat pucat.


"Jika kau sakit sebaiknya istirahat saja. Nyonya juga pasti tidak akan senang melihatmu memaksakan diri."


"Aku kemari untuk bekerja, Bi. Jadi aku akan berusaha sebaik mungkin."


"Tapi wajahmu pucat sekali, Diana. Aku khawatir nanti kau akan pingsan."


"Aku hanya duduk dan menemani aunty membaca. Itu sama sekali tak membuatku lelah."


"Baiklah, terserah padamu saja, tapi jika kau betul-betul tidak kuat kau harus mengatakannya pada nyonya Giani. Jangan memaksakan diri. Di bawah juga ada ruangan kesehatan. Kau bisa memeriksakan kondisimu."

__ADS_1


Diana hanya mengangguk. Sebenarnya sakit yang dia rasa bukan sakit fisik biasa melainkan fisiknya melemah karena psikisnya sedang bermasalah. Dulu dia jarang sekali sakit, tapi sejak kejadian tragis itu dia jadi mudah lelah dan jatuh sakit.


...****************...


__ADS_2