
Diana masih menatap Jared ragu. Jujur saja dia menyukai pria itu, tapi satu pertanyaan mengganjal di hatinya.
"Apa aku pantas?"
"Jangan menilai rendah dirimu sendiri, Diana."
"Tapi memang kenyataannya kita berbeda."
"Jika kita sama aku tidak akan mungkin memintamu menjadi kekasihku, Di. Jika aku menyukaimu karena kita berbeda itu hal yang wajar. Yang tidak wajar itu jika aku dan kamu sama. Orang akan mengira aku G*y. Itu suatu hal yang menjijikkan menurutku."
Jared benar-benar merusak suasana serius itu menjadi penuh gelak tawa. Diana membayangkan Jared sedang bermesraan dengan seorang pria dan itu sangat menggelikan.
"Kau membayangkan apa hingga tertawa seperti itu?" tanya Jared menatap Diana tajam. Namun, gadis itu sepertinya terlalu larut dengan angannya hingga tawanya tak dapat dihentikan.
"Kau berani membayangkan hal yang kotor tentangku?"
"Oh ya Tuhan, aku juga tidak ingin, tapi aku tidak bisa menghentikan tawaku," kata Diana. Jared dengan kesal menarik tengkuk Diana dan melu*mat bibir Diana dengan kasar.
Diana seketika gelagapan, terlebih lagi Jared memainkan lidahnya dengan liar. Meski ini sama-sama pengalaman pertama mereka, tapi bagi Jared tak sulit untuk mengikuti naluri dan instingnya.
"Berani kau membayangkan hal yang menjijikkan tentangku. Aku akan menghukummu."
__ADS_1
Diana diam terpaku. Matanya mengerjap lucu. Jared menyentuh pipi Diana dengan lembut.
"Kau adalah kekasihku, Sekarang."
"Ta_tapi aku belum menyetujuinya."
"Aku tidak peduli."
"Kau milikku, suka atau tidak."
Diana mengerucutkan bibir. Dia bisa apa jika si tuan pemaksa ini mulai menunjukkan otoritasnya. Jared tersenyum, dia senang jika Diana tak melawan.
"Beristirahatlah. Aku masih harus menyelesaikan pekerjaanku. Aku tadi pulang dari perusahaan karena tidak bisa berpikir jernih. Aku tidak merasa berbuat salah denganmu, tapi aku bingung kenapa kau mendiamkanku."
"Sangat. Aku tidak suka kau mendiamkanku."
"Maaf, tetapi aku benar-benar bingung dan tak mau kecewa."
"Jika aku mengecewakanmu, kau boleh memakiku."
"Aku ingin melihat kondisi Felly, tapi kata aunty aku tidak boleh menemui Felly sementara waktu. Aunty khawatir itu akan mempengaruhi suasana hati Felly."
__ADS_1
"Apa yang mommy katakan sudah benar. Aku lihat adikmu juga sangat mengkhawatirkan dirimu. Jika dia melihat kondisimu seperti ini dia akan sedih. Sekarang tidurlah. Aku tidak akan lama."
Diana hanya mengangguk, Jared mengecup kening Diana dengan lembut. Diana menatap punggung Jared yang meninggalkannya. Apa dia boleh berharap lebih pada pria itu?
Diana akhirnya terlelap setelah lelah dengan pikiran-pikirannya sendiri. Karena kondisinya yang masih sedikit demam, dia tertidur sangat lelap hingga tak menyadari, jika Jared kembali dan kini ikut berbaring di sampingnya, memeluk tubuhnya.
Diana terbangun saat mencium aroma manis. Dia membuka matanya dan mendapati Jared sedang meletakkan nampan yang berisi makanan.
"Kau sudah bangun?"
"Hmm, ya." Diana merapikan rambutnya yang berantakan. Dia malu Jared memandangnya sejak tadi.
"Ada apa?" tanya Diana menutupi kegugupannya.
"Kau cantik," kata Jared. Diana hampir melebarkan senyumnya mendengar pujian itu. Namun, dia berusaha menahannya.
"Aku baru bangun tidur dan kau sudah membual."
"Aku tidak membual, kau sungguh sangat cantik."
"Baiklah, jangan diteruskan lagi. Aku tidak mau menjadi besar kepala karena mendengar pujianmu, Jared dan menurutku, kau tidak sependiam yang ku dengar dari aunty."
__ADS_1
Jared tersenyum tipis. Apa yang ibunya katakan memang benar. Dia benar-benar sangat pendiam, tapi jika sudah berhadapan dengan Diana, entah mengapa Jared merasa tidak bisa hanya berdiam diri.
...****************...