
Giani sungguh tak menyangka, Ben benar-benar mewujudkan ucapannya. Hari ini di mansion Ben, semua di sulap dalam waktu sekejap. Taman yang biasanya dijadikan tempat pelatihan para anak buahnya kini sudah dipenuhi dekorasi dengan nuansa serba putih.
Jack terlihat sangat antusias dan bersemangat, sedang jarret sejak tadi menggenggam jemari ibunya erat seakan dia takut jika genggamannya terlepas ibunya akan menghilang.
Ben tersenyum tipis melihat hasil pekerjaan orang-orang yang dia bayar mahal, khusus demi terlaksananya acara ini.
Malam ini dia akan mempersunting ibu dari kedua anaknya yang sangat luar biasa. Ben sesaat menoleh menatap Giani yang takjub dengan pemandangan di depannya.
"Daddy, kapan daddy menyiapkan ini untuk mommy?"
"Bukan daddy yang siapkan, tapi mereka. Daddy hanya membayarnya saja," ujar Ben terkekeh. Ramos benar-benar tak menyangka dengan perubahan bosnya itu. Pria yang bahkan tak pernah menampakkan senyuman itu kini justru tertawa di depan anaknya.
"Ayo, kau juga harus bersiap," kata Ben. Giani hanya mengangguk mengikuti langkah Ben dan kedua putranya. Giani tidak di bawa ke kamarnya, melainkan ke kamar lain. Di sana ada sekitar 3 orang MUA yang siap melakukan make over pada Giani.
"Gunakan waktumu sebaik mungkin. Aku dan mereka akan menunggumu di tempat tadi," kata Ben. Dia sesaat mengusap rambut Giani yang bergelombang. Entah kenapa Giani merasa jika Ben mulai sering melakukan kontak fisik padanya.
Giani di bimbing untuk berendam sejenak, sebelum nanti akhirnya dia akan di dandani. Giani memejamkan matanya. Sudut matanya mulai mengalirkan air mata. Hatinya terasa perih mengingat kini dia hanya sebatang kara. Harusnya hari ini ada papanya yang akan mengantar dirinya sampai di depan altar, sampai dia berdiri di depan calon suaminya.
Giani menarik napasnya panjang. Dia bergumam lirih, "Papa, seharusnya ini masih menjadi hari berkabungku, tapi kedua anakku ingin aku menikah dengan ayah mereka. Maafkan aku, Pah."
Usai berendam, Giani langsung mendapatkan perawatan tubuh komplit. Dari ujung rambut hingga ujung kaki.
Setelah hampir 2 jam lamanya dimake over, kini Giani telah bersiap berjalan menuju altar. Pintu yang semula terbuka saat dia masuk ke ruangan itu, kini tertutup rapat. Giani semakin berdebar. Namun, saat ia tiba berada di depan pintu penghubung antara mansion dan taman tempat diadakannya janji suci, pintu besar itu terbuka secara perlahan. Dan kedua putranya ternyata sudah berdiri menyambut dirinya.
Giani berjalan dengan diapit oleh Jarret dan Jackson. Kedua bocah itu memakai setelan jas berwarna putih dan memakai rompi dalam berwarna hitam lengkap dengan dasi kupu-kupu. Apa yang mereka kenakan sama persis dengan apa yang dikenakan oleh Ben.
__ADS_1
Sedang Giani memakai Gaun pengantin dengan model maxi dress dan bentuk v-neck yang indah karena dihias dengan garis renda yang manis, Giani juga dipakaikan kerudung atau veil pengantin dengan model renda yang senada dengan gaun pengantin yang dia pakai. Giani pun tampil cantik dan memukau.
Giani berjalan dengan anggun. Ben menatap calon istrinya dengan tatapan mata penuh binar kebahagiaan. Dia tidak bisa berbohong akan hal yang satu itu. Sejak mengetahui Giani adalah korban kebodohannya, dia justru merasa tertarik pada wanita itu. Meski dia sendiri belum bisa mengartikan itu cinta, tapi perasaan ingin melindungi Giani kuat mengakar di hatinya.
Giani kini berdiri di hadapan Ben. Keduanya saling menatap lembut. Jujur saja, Giani menyukai mata sayu milik Ben. Dia suka saat pria itu menatap nya dengan dalam. Tidak ada perasaan risih sedikit pun.
Setelah keduanya mengucap janji suci dan di saksikan oleh seluruh penghuni mansion, Ben membuka Veil penutup wajah istrinya. Ia tersenyum lebar Giani menunduk karena grogi. Tangan Ben langsung menahan dagu Giani dan dengan cepat Ben mengecup bibir Giani sekilas.
Jack dan Jarret bertepuk tangan. Wajah keduanya memperlihatkan raut lega sekaligus bahagia. Akhirnya kedua orangtuanya kini telah bersatu.
Acara berlanjut hingga tengah malam. Ben hari ini benar-benar membebaskan orang-orangnya untuk menikmati hari bahagianya.
Jack dan Jarret kini merebahkan kepalanya di pangkuan Giani dengan mata tertutup. Mereka mungkin kelelahan karena terlalu bersemangat dengan acara ini.
"Sepertinya begitu. Mereka mungkin lelah."
"Aku akan pindahkan mereka satu per satu."
"Tidak perlu. Kau gendong saja Jack dan aku akan menggendong Jarret."
"Ya." Ben hendak mengangkat tubuh Jack. Jarak dirinya dan Giani begitu dekat. Ia bahkan bisa merasakan hembusan nafas Giani menyentuh kulit wajahnya. Ben menoleh sesaat. Ia tersenyum dan lalu mengecup singkat bibir Giani. Lalu dengan tanpa rasa bersalah Ben berlalu begitu saja.
Giani tertegun sembari menyentuh bibirnya. Jantungnya sejak tadi berdebar tak karuan, waktu Ben hendak mengangkat kepala Jack, jantung Giani sepertinya sedang bermasalah.
Tak mau berlarut-larut, Giani bangkit dan mengangkat tubuh Jarret. Saat tiba di kamar kedua putranya, Giani melihat Ben sedang menaikkan selimut Jack. Giani meletakkan Jarret di sisi sebelah Jack. Perlahan dia mengecup kening dan pipi putranya. Semua yang Giani lakukan ternyata tak luput dari tatapan Ben.
__ADS_1
"Ayo sekarang kita istirahat." Giani terperangah mendengar ajakan Ben. Namun, pria itu sepertinya enteng saja saat mengatakan hal itu.
Giani berdiri dan merapikan selimut Jarret. Setelah memastikan kedua buah hatinya nyaman dengan tidurnya. Giani mematikan lampu utama dan menyalakan lampu tidur.
Dia keluar dan berjalan menuju kamarnya. Kamar di mana dia biasa tidur. Namun, saat hampir dekat dengan tangga, tangan Giani di cekal oleh Ben.
"Mau kemana?"
"Ke kamar."
"Kamarmu sekarang di atas, Giani. Suami, istri itu tidak terpisah tidurnya."
"Oh." Giani mengangguk dengan wajah malu. Ben mengulurkan tangannya pada Giani, sehingga mau tak mau Giani menyambut tangan itu.
"Ini kamarku. Ku harap saat kau masuk nanti, kau tidak akan trauma dengan kejadian yang lalu."
Ben membuka pintu kamar pribadinya. Dia membawa Giani masuk. Sejenak Giani terpaku mencoba mengulik ingatan di masa lalunya.
Namun, selain rasa sakit di sekujur tubuhnya, Giani tidak mengingat kejadian 8 tahun itu. Karena pada saat itu dia dalam pengaruh obat bius.
"Entah lah, aku tidak mengingat apapun selain tubuhku yang terasa sangat sakit."
"Pelayan sudah memindah semua bajumu ke sini. Pergilah mandi," kata Ben.
...****************...
__ADS_1