
Ben membawa Giani ke bawah shower. Dia membilas tubuh Giani dengan penuh perhatian. Giani sangat menikmati perlakuan manis Ben.
Usai mandi, Ben mengeringkan rambut Giani. Namun, di tengah kegiatannya, Ben menghentikan gerakan hairdryernya. Dia sepertinya melupakan sesuatu hal.
"Ada apa, Sayang?" tanya Giani, yang kini sudah tidak canggung lagi memanggil Ben dengan panggilan sayang.
"Sebentar. Tadi aku mengajak dokter Rea untuk memeriksamu, tapi aku meninggalkannya di depan pintu." Ben mematikan hairdryer itu dan meletakkannya di meja. Ben berjalan cepat menuju pintu.
"Sayang, apa kau akan menemui dokter Rea tanpa memakai celana seperti itu?" Giani tertawa melihat kelakuan Ben kali ini. Dia tak menyangka Ben bisa berlaku ceroboh juga.
Ben berbalik menuju walk in closet dan segera memakai celana serta mengambil kaos hitam dan memakainya dengan cepat.
Giani tersenyum saat melihat suaminya keluar dari walk in closet. Dia mengambil hairdryer yang tadi Ben letakkan dan melanjutkan mengeringkan rambutnya.
Ben membuka pintu. Dia melihat dokter Rea duduk di sofa tunggal tak jauh dari pintu kamar Ben.
"Maaf membuatmu menunggu," ujar Ben. Dokter Rea hanya mengangguk dengan raut tak percaya. Seorang Ben meminta maaf padanya? Ini benar-benar keajaiban.
"Daddy, di mana mommy?" tanya Jared.
"Mommy ada di kamar, masuklah." Jared masuk ke kamar orang tuanya. Dia langsung mencari ibunya.
"Mom."
"Ya sayang, ada apa?"
"Jack demam." Giani langsung berdiri dan meletakkan hairdryer-nya begitu tahu salah satu putranya sakit.
"Ayo kita lihat Jack."
__ADS_1
Giani menggandeng tangan Jared dengan wajah cemas. Ben yang akan masuk ke kamar merasa heran melihat Giani keluar dengan buru-buru.
"Ada apa sweetie?"
"Jack sakit, Sayang. Ajak dokter Rea ke kamar Jack."
"Jack sakit?"
"Ya, Dad. Dia demam," jawab Jared.
Ben dan Dokter Rea akhirnya mengikuti Giani dan Jared. Saat mereka masuk ke kamar mereka melihat Jack duduk sembari memainkan rubik berbentuk bola.
"Hai, Son. Ada apa denganmu?"
"Aku hanya kurang minum, Dad."
"Ya. Kakak terlalu berlebihan ku rasa."
"Tidak ada yang berlebihan Jack. Apa yang kakakmu lakukan itu sudah benar. Kalian harus saling menjaga. Begitu juga jika kalian nanti punya adik. Kalian harus menjaganya." Giani akhirnya buka suara.
"Dokter Rea akan memeriksamu, Jack."
Dokter itu pun mulai memeriksa Jack dengan teliti.
"Aku akan memasang infus. Kau kelelahan dan dehidrasi, Tuan muda."
"See? Kau sampai harus di infus. Lain kali jangan seperti itu, Jack. Kamu harus memikirkan kesehatanmu juga."
"I'm sorry, Mom."
__ADS_1
Jared duduk di samping Jack. Dia mengamati proses dokter Rea memasang infus di tangan adiknya.
"Apa setelah infusnya habis Jack akan kembali sehat?"
"Tentu, Tuan muda Jared. Ini bukan sembarangan infus. Di dalam kantong ini sudah tercampur dengan serum yang membuat kita cepat pulih."
"Wow kedengarannya hebat."
Ben dan Giani masih memperhatikan Jack. Bocah itu tampak biasa saja. Dokter Rea berdiri dan membereskan semua bawaannya.
"Apa nyonya jadi diperiksa, Tuan?"
"Tentu saja."
"Periksa di sini saja. Aku mau menemani Jack dan Jared," kata Giani.
Dokter Rea mengangguk. Giani merebahkan tubuhnya di sebelah Jared. Dokter Rea mulai memeriksa Giani dengan serius. Dia menekan perut bagian bawah Giani.
"Apa nyonya sudah terlambat datang bulan?"
"Ya aku rasa begitu."
"Apa istriku benar-benar hamil?"
"Dari kondisinya saya yakin nyonya sedang hamil, tapi untuk meyakinkannya kita pakai tespeck saja agar tahu hasilnya."
"Apa mommy akan memiliki adik bayi di dalam perutnya, Dad?" tanya Jack polos.
...****************...
__ADS_1