
Dawson tak sabar untuk menunggu bantuan dari Aluna. Dia memutuskan mendatangi sendiri Benjamin di SOS. Meski kemungkinan bertemu dengan pria itu 1 banding 10, tapi Dawson pikir tidak ada salahnya mencoba.
Pria itu sebenarnya juga sedang mencari peruntungan. Karena dia juga ingin mengetahui keberadaan Giani. Dia yakin saat ini Ben sedang menyembunyikan pujaan hatinya itu.
"Bagaimana?"
("Kami melihat mobil Tuan Ben baru saja lewat. Mereka sepertinya menuju ke sebuah sekolahan.")
"Terus awasi dia dan beritahu aku jika kalian melihat anak Profesor Gilbert."
Dawson mematikan sambungan telepon dengan anak buahnya. Dia turun dari mobil sembari merapikan jasnya. Dawson berjalan menuju ke resepsionis.
"Selamat pagi, apa aku bisa bertemu dengan tuan Benjamin Alexander?" Dawson tersenyum ramah ke arah 2 orang resepsionis yang berpenampilan sangat cantik dan seksi itu.
"Maaf, apa sebelumnya anda sudah membuat janji?"
"Oh, belum. Apa tuan Benjamin tidak ada di tempat."
"Maaf, Tuan. Semua tamu yang memiliki kepentingan dengan tuan Ben harus membuat janji terlebih dahulu. Itu pun juga kalau tuan Ben bersedia menemui."
"Ah, Begitu rupanya. Sepertinya akan sangat sulit untuk bertemu dengannya, ya?"
"Jika memang mendesak. Anda bisa membuat janji dengan tuan Ramos."
__ADS_1
"Oh, baiklah."
Dawson pergi dari lobi SOS dengan wajah kesal. Meski misinya untuk bertemu Ben telah gagal, tapi dia harap anak buahnya akan memberi kabar baik.
Dawson masuk ke dalam mobil, tak berapa lama sebuah pesan masuk ke ponselnya. Dia melihat sebuah foto di mana Giani sedang menggandeng kedua putranya dengan senyum cantiknya.
"Oke baiklah. Sepertinya aku akan langsung saja mengeksekusi kalian berdua dan lalu setelah itu aku akan menikmati tubuh ibu kalian."
Dawson tertawa, Dia segera menghubungi sepupunya agar bersiap-siap karena besok dia ingin segera melancarkan aksinya.
Setelah mendengar jawaban keponakannya. Dawson akhirnya memutuskan untuk kembali ke perusahaannya.
***
"Kalian harus ingat. Jangan membuat ulah. Ok!"
"Yes, Mom," jawab Jarret dan jackson hampir bersamaan. Keduanya kini sedang digandeng oleh Giani. Sedang Ben masih sibuk dengan ponselnya.
Mereka lalu kembali pergi. Kali ini tujuannya adalah makam ayah Giani. Giani ingin meminta restu pada mendiang ayahnya. Setibanya mereka di area pemakaman. Ben menggandeng tangan Giani. Sedangkan kedua putra mereka telah berjalan mendahului keduanya.
"Apa aku boleh tahu sesuatu?" tanya Ben sembari memandang kedua putranya.
"Apa?"
__ADS_1
"Tentang mereka."
"Apa yang ingin kau ketahui?"
"Elena sering mengatakan kau sedang pusing karena si kembar berulah. Memangnya apa yang mereka lakukan?"
"Kalau kau tahu, mungkin kau juga akan sama sepertiku. Pusing memikirkan tingkah mereka."
"Tapi aku lihat Jarret anak yang tenang dan tidak suka keributan."
"Kau jangan terkecoh dengan ketenangan yang dia miliki. Aku sebenarnya khawatir. Pernah sekali aku membawanya ke psikiater karena sikap Jarret yang di luar batas kewajaran. Dan kau tahu apa yang psikiater itu katakan?" Giani menatap netra Ben dalam-dalam. Ben menggelengkan kepalanya.
"Dia bilang jika Jarret hanya butuh ayahnya. Maka sikapnya akan kembali pada kenormalan.
"Mom, Dad. Cepat!" Seru Jack. Mereka telah tiba di depan makam ayah Giani.
Giani tersenyum dan mendekati makam ayahnya. "Daddy, hari ini aku datang bersama Ben. Kami akhirnya memutuskan untuk menikah. Jadi daddy sekarang jangan cemas. Ada yang akan melindungiku sekarang."
Giani tersenyum. Namun, air matanya sudah jatuh membasahi wajah cantiknya. Ben merangkul bahu Giani dan mengusap nya dengan penuh kelembutan.
"Jangan menangis. Aku tidak mau profesor Gilbert menghantuiku dan marah padaku karena aku membiarkan dirimu menangis.
...****************...
__ADS_1