Genius Twins Boy

Genius Twins Boy
Bab 49. Penasaran Giani


__ADS_3

Di dalam mobil Jack tertawa tertahan melihat ibunya membanting pintu mobil dengan kesal.


"Mom, kenapa?"


"Tidak apa-apa, Sayang. Jika kalian besar nanti jangan menjadi pria yang menyebalkan. Apa kalian mengerti?"


Ben yang juga baru saja masuk ke dalam mobil, tentu saja mendengar ucapan Giani itu.


"Sweetie, aku tidak menyebalkan."


"Apa aku sedang mengataimu, Ben? Aku itu sedang menasehati putra-putraku."


Jack menutup mulutnya agar tidak menyemburkan tawanya, sedangkan Jarret tersenyum tipis melihat pertengkaran ibu dan ayahnya.


Mereka akhirnya pergi meninggalkan tempat itu. Sementara Rick telah dibawa oleh bodyguard Ben dalam keadaan tak sadarkan diri.


Rupanya tadi Rick sempat tertembak di bagian perutnya.


Orang-orang suruhan Dawson telah di ringkus oleh anak buah Ben yang lain. Agar mereka tidak berurusan dengan polisi.


***


Sementara itu, Di dalam mobil. Giani sedang menatap ke luar jendela. Dia masih mengingat kejadian tadi, di mana dia melihat dengan mata kepalanya sendiri bagaimana orang-orang itu tadi tiba-tiba menggelepar bagai ikan yang diangkat dari air.


Giani sesaat menoleh dan menatap ke arah suami nya.

__ADS_1


"Apa ada yang ingin kau tanyakan?"


"Ben .... "


"Bisakah kau menganti panggilan yang lebih sedikit mesra, Sweetie?"


"Aku geli jika harus bersikap mesra dan manja. Jangan minta sesuatu yang mustahil untuk aku lakukan." Giani melengos saat mengatakan itu.


"Oh, ayolah." Ben kekeh membujuk Giani.


"No, Ben. I can't do that."


Mereka tiba di mansion. Jack dan Jarret mencium kedua pipi orang tuanya. Dan lalu mereka pergi ke kamar.


Giani masuk juga ke kamarnya dan lalu masuk ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya.


Ben masuk ke walk in closet dan melepas jas serta kemejanya. Dia juga melepas celananya dan lalu melilitkan handuk di pinggangnya. Dia akan mandi setelah ini.


Giani berdiri tertegun menatap ke arah suaminya. Jantungnya masih sulit dibawa santai jika melihat penampilan Ben saat ini.


Wajah Giani memanas. Apa lagi kini Ben berjalan mendekati dirinya.


"Kenapa wajahmu sangat merah, Sweetie."


"Entah lah, mungkin Ac-nya tidak menyala." Giani membuang muka menghindari tatapan sayu Ben.

__ADS_1


Ben terkekeh sembari menyentuh dagu Giani dengan gerakan yang sangat pelan.


"Apa kau merasa bagian bawahmu berdenyut? Darahmu berdesir saat melihat tubuhku ini? Jantungmu pasti sekarang sedang berdebar kencang? Iya kan?"


"Jangan bicara sembarangan." Giani menatap Ben tajam. Kini napas Ben terasa menerpa kulit wajah Giani dan semakin membuat wajah Giani memerah.


"Akui saja, Sayangku. Aku akan bahagia jika kau mengatakan, iya."


"Ben, pergilah ke kamar mandi. Aku sudah lelah. Aku mau tidur."


Ben menarik pinggang Giani agar tubuhnya menempel sempurna. Ben bahkan bisa merasakan detak jantung Giani yang tak karuan.


Dia tersenyum lebar dan lalu mel*mat bibir Giani dengan lembut. Giani hanya memejamkan mata.


Dia pun tak bisa menolak pesona suaminya yang terlalu menggoda itu. Giani mengalungkan kedua tangannya di leher Ben dan membalas ciuman Ben dengan kemampuannya.


Keduanya kembali larut dalam ciuman panas itu. Dada Giani naik turun. Debar jantungnya semakin menjadi. Giani akhirnya melepas ciuman Ben dengan wajah yang hampir dipenuhi gairah.


"Sudah, lepaskan. Kau bisa membuatku mati berdiri, Ben."


"Memang kenapa?"


"Kau bisa merasakan detak jantungku, 'kan?"


"Aku rasa setahun ada di dekatmu, aku akan divonis memiliki penyakit jantung."

__ADS_1


Ben tidak bisa menyembunyikan tawanya. Giani semakin terpesona melihat tawa Ben kali ini.


...****************...


__ADS_2