
Diana dan Jared mengucap janji suci di depan Pendeta. Senyum Jared kini lebih sering terlihat dan itu membuat Giani bahagia. Keputusannya untuk membawa Diana masuk ke mansionnya justru mengantar putra pertamanya bertemu jodoh tanpa disangka.
Saat Jared mencium Diana, air mata Giani kembali mengalir. Rasanya baru kemarin dia membesarkan Jack dan Jared seorang diri, tapi kini dia merasa anak-anaknya telah tumbuh dewasa.
Ben memeluk istrinya. Dia tak tahu apa yang Giani rasakan saat ini, tapi Ben tahu jika air mata Giani itu adalah air mata bahagia. Giani mendongak menatap suaminya.
"Ku rasa putramu tumbuh terlalu cepat, Ben. Sepertinya baru kemarin aku menggantikan popok mereka, tapi lihatlah di depan sana. Dia begitu tinggi dan gagah." Giani semakin sesenggukan. Ini bukan tangisan kesedihan. Hanya saja, Giani tak menyangka akan berada di titik ini, dia bisa melihat putranya mempersunting seorang gadis. Memperjuangkan kebahagiaan Diana dengan segala cara.
"Kau berhasil membesarkannya dengan baik. Aku yakin Diana pasti akan bahagia bersama putra kita."
Giani mengangguk. Ben mengusap bahu istrinya. Bagi Ben, Giani adalah sebuah anugrah. Kebodohan anak buahnya dulu membuatnya tak menyesal pernah melakukannya dengan Giani. Karena pada akhirnya, Ben bisa memiliki pasangan sempurna seperti istrinya saat ini.
Acara pesta pernikahan Diana dan Jared berlangsung cukup sederhana, tapi bukan itu poinnya. Jared sekarang sudah mengajak Diana naik ke rooftop untuk menaiki sebuah helikopter. Diana Menatap Jared bingung.
"Kita akan kemana?"
"Pergi suatu tempat. Aku ingin malam kita tak ada gangguan," ujar Jared sembari memasang sabuk pengaman untuk Diana. Gadis itu terdiam dengan wajah yang sangat merah. Jared sesaat menoleh dan melihat reaksi Diana, dia tersenyum simpul dan lalu mengecup bibir Diana sekilas.
"Aku harap kau tidak pingsan saat tiba di tempat itu. Daddy yang menyiapkan tempat itu untuk kita."
__ADS_1
"Uncle Ben?"
"Sekarang kau harus memanggilnya daddy."
Jared mulai menerbangkan helikopternya. Diana berdebar, karena ini baru pertamanya dia menaiki helikopter.
Diana melihat ke bawah dia sebenarnya takut karena pemandangan di bawah sana gelap gulita. Namun, lama kelamaan, Diana bisa melihat ada cahaya lampu di bawah sana. Jared lalu menurunkan helikopternya di helipad.
"Ja_jared, apa kita akan menginap di sini?" tanya Diana takut. Bagaimana tidak? Mereka sekarang berada di tengah hutan belantara yang begitu gelap gulita.
"Kenapa, Di? Apa kau takut?"
"Di sini terlalu menakutkan, Jared. Bagaimana jika ada ular?"
Mendengar ucapan Jared, Diana langsung membuang muka. Kenapa juga Jared jadi berubah mesum seperti ini.
"Ayo kita masuk. Aku bisa jamin tidak akan ada ular lain selain punyaku."
"Jared kau benar-benar menyebalkan. Sejak kapan kau jadi mesum?"
__ADS_1
"Sejak aku mengenalmu, Di. Hanya saja aku selalu berusaha untuk tidak terlalu memikirkannya, tapi sekarang lain ceritanya. Kau adalah istriku, Di. Aku bisa melakukan apapun yang aku mau denganmu."
"Kau terlalu percaya diri. Bagaimana jika aku belum siap?" tanya Diana.
"Aku akan membuatmu siap malam ini," ujar Jared memeluk tubuh Diana dari belakang. Diana bergidik saat Jared berbisik di dekat telinganya.
Mereka berdua masuk ke dalam pondok yang kata Ben adalah tempat terbaik untuk bercinta. Jared akan membuktikannya malam ini.
Saat masuk ke dalam pondok yang lebih mirip Villa mewah itu, Diana tampak takjub dengan semua barang-barang yang ada di dalamnya.
"Ini melebihi ekspektasiku, Jared."
"Daddy ku tidak akan sembarangan membangun tempat, Di."
"Kita tidak membawa baju ganti, apa aku harus mengenakan gaun ini sampai besok?"
"Tidak, sayang. Semua yang kita butuhkan ada di dalam kamar."
"Oh .... " Diana bagai kehabisan kata-kata. Dia lalu diam dan duduk di sofa.
__ADS_1
"Tunggulah di sini. Aku yakin kau belum makan," kata Jared. Dia mencari apa yang daddynya katakan. Jared mengambil 2 piring steak daging dan kembali memanaskannya di microwave sebentar. Jared sendiri yang kali ini akan melayani Diana.
...****************...