Genius Twins Boy

Genius Twins Boy
Bab 43. Bolehkah?


__ADS_3

Ben dan Giani masih dalam posisi berpelukan. Ben perlahan mengurai pelukan mereka. Dia menatap wajah Giani dengan tatapan sayu.


"Giani, maaf," desis Ben, sekilas dia mengusap bibir Giani yang bervolum dan lembut itu. Untuk kesekian kalinya Ben membenamkan ciuman lembut di bibir Giani. Kali ini ciuman itu berlangsung lama. Ciuman yang perlahan-lahan membuat keduanya lupa daratan.


Ben menahan tengkuk Giani. Mata wanita itu terpejam. Tangan Giani yang semula berada di punggung Ben, kini sudah berpindah melingkar di leher suaminya itu. Sesaat Ben melepaskan bibir Giani. Dia mengusap bibir Giani yang membengkak.


"Bolehkah aku meminta itu?" tanya Ben sembari tangannya terus mengusap wajah Giani.


"Tapi ini kantor, Ben."


"Tidak akan ada yang tahu, aku sudah mengunci pintunya."


Giani menatap mata sayu Ben. Dia tersenyum tipis dan kemudian mwngangguk. Ben langsung menarik tengkuk Giani dan kembali ******* bibir Giani.


Giani hanya memejamkan mata menikmati sentuhan Ben. Tak apa-apa pikirnya, toh Ben adalah suaminya. Ben mempunyai hak untuk menyentuh dirinya. Meski hingga sekarang belum ada kata cinta yang diucapkan Ben padanya.

__ADS_1


Tangan Ben mulai bergerilya, menyusup ke dalam baju yang dipakai oleh Giani dan me*emas buah bulat lembut milik Giani.


"Aahh, Ben."


"Yes Baby, call my name." Ben tersenyum. Dia menarik baju Giani hingga terlepas dan membuka kait bra istrinya itu. Ben benar-benar memanfaatkan situasi dengan baik. Dia merebahkan Giani sofa ruangannya yang cukup lebar. Dia bermain intens di area buat bulat itu dan perlahan menyesapnya hingga bunyi cecapannya cukup keras.


"Ben, stop it."


Ben hanya tersenyum miring. Dia mulai menanggalkan semua kain yang melekat di tubuhnya dan kain terakhir yang menempel di tubuh Giani. Tak ingin menyia-nyiakan waktu. Apa lagi Ben sekarang paham, jika kedua anak-anaknya bisa saja datang dan menganggu kegiatannya yang hampir 8 tahun tidak pernah dia lakukan lagi. Karena hanya Giani yang bisa menaikkan hasratnya.


"Uugh, ini sempit sekali, Sayang. Aku sudah tidak tahan," rancau Ben. Dia semakin bergerak dengan liar dan tak lama tubuh Ben menegang. Dia menyemprotkan benih-benihnya yang berharga di rahim Giani.


Ben mengecup kening Giani yang berkeringat. "I love you, Sayang."


"Bukankah kemarin kau bilang tak tahu apa itu cinta. Lalu bagaimana kau bisa mengatakan itu dengan mudahnya.

__ADS_1


"Itu karena aku sudah mencaritahu di internet tentang arti cinta. Dan semua gejala yang kurasakan padamu adalah cinta."


"Kau ternyata bodoh juga," kata Giani.


"Ya aku bodoh karena terlalu mencintaimu, Sweetie."


Giani bangkit dari posisinya. Dia memunguti baju-bajunya. "Aku mau ke kamar mandi sebentar," kata Giani.


"Boleh aku ikut?"


"Tidak, sebaiknya kau juga lekas memakai bajumu." Giani bicara tanpa menatap Ben. Dia memilih memunggungi Ben karena jujur saja dia sangat malu dengan kondisi dan posisinya sekarang. Apa lagi dengan keadaan terang benderang seperti ini. Giani semakin tak memiliki keberanian untuk menatap suaminya itu.


Giani bergegas masuk ke kamar mandi. Ben tersenyum tipis, dia tahu Giani pasti malu, tapi entah mengapa dia sangat menyukainya. Ben juga berharap Giani mau mengandung keturunannya lagi. Kali ini tanpa kesalahan dan tanpa serum.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2