
Ben akhirnya membawa Giani ke ruang bawah. Dia harus memeriksa kondisi Giani yang sebenarnya. Dia khawatir efek itu timbul karena gegar otak yang dialami Giani beberapa hari yang lalu.
"Aku tidak mau di sini, Ben sayang. Aku mau ke kamar saja. Di sini bau obat-obatan dan disinfektan."
Ben semakin menautkan alisnya. Bukankah Giani sudah terbiasa, karena Giani pernah bekerja di Lab.
"Bukankah kau sudah biasa dengan aroma seperti ini?"
"Ya, tapi sekarang aku tidak menyukainya. Bisakah kau tidak memaksaku. Kau benar-benar menyebalkan." Giani menghempas pegangan tangan Ben. Dia berbalik dan berjalan cepat menuju lift.
Ben memutuskan tetap masuk ke ruang pemeriksaan untuk mengambil alat injeksi dan serum vitamin buatannya.
"Kau ikut denganku. Tolong periksa istriku. Sepertinya ada yang aneh dengannya."
"Baik, Tuan." Dokter wanita itu mengikuti Ben. Dia berpikir mungkin nyonya di rumah itu sedang hamil karena dia melihat sendiri tadi saat wanita itu marah kepada atasannya.
Dia merasa nyonya rumah ini benar-benar spesial karena berani membentak atasannya yang notabene adalah seorang yang sangat mengerikan.
"Apa kau melamun dokter Rea?"
__ADS_1
"Tidak, Tuan. Saya hanya berpikir nyonya terlihat sangat moody. Kemungkinan paling dekat dengan hal itu adalah meningkatnya hormon dikarenakan dalam kondisi hamil."
"Hamil? Apa benar, hamil bisa membuat orang berubah seperti itu?"
"Setahu saya begitu, Tuan. mood swingnya bisa dalam hitungan menit. Misal sekejap terlihat sangat bahagia. Sekejap bisa merasa sedih."
"Baiklah. Aku mau kamu periksa dia dengan benar dan pastikan kondisinya juga."
Ben membuka pintu kamarnya, tapi dia tidak mendapati Giani ada di sana. Ben meminta dokter Rea untuk menunggu di depan kamarnya.
Ben membuka pintu kamar mandi. Giani sedang memejamkan mata sembari berendam di dalam bathtub.
"Sweetie." Ben mengusap pipi Giani. Wanita itu membuka matanya dan tersenyum pada Ben.
"Mau bergabung denganku, Suamiku sayang?" Ben mengangguk. Dia mengunci pintu kamar mandi dan langsung membuka kemejanya.
Giani menatap Ben dengan tatapan mendamba. Saat kemeja Ben terlepas, Giani meneguk ludahnya. Dia lantas menggigit bibirnya saat melihat Ben mulai melepas celananya.
Sesuatu di bawah sana terasa berdenyut saat melihat tubuh polos Ben. Ben langsung bergabung masuk ke dalam bathtub.
__ADS_1
Sesaat Ben melupakan dokter Rea yang menunggu di depan pintu kamarnya. Giani bersandar di dada bidang suaminya. Senyumnya mengembang sempurna. Tangan Ben bermain nakal dengan memilin puncak dada Giani.
"Aah," desah Giani.
"Kau menginginkannya, Sayang."
Giani mengangguk, dia berbalik dan menempelkan dadanya di dada Ben.
"I want you, now."
Giani menarik penyumbat air di bathtub. Dia mengecup bibir Ben dengan lembut. Ben sedikit membuka mulutnya dan membiarkan Giani memasukkan lidahnya.
Tak tahan untuk menjadi pasif, Ben akhirnya membalas ciuman Giani dengan rakus. Keduanya saling melu*mat, Giani membelai pusaka Ben yang telah tegak berdiri dan Giani pun menaikinya. Dia memacu tubuhnya dengan gerakan yang sangat sensual hingga Ben mende*sah.
"Oh, yes baby."
Giani mempercepat gerakannya. Ben hanya memegangi pinggang Giani. Tak lama berselang keduanya mengerang mencapai puncaknya.
"Kau sangat menggai*rahkan, Sweetie."
__ADS_1
"Yes, i know that."
...****************...