Genius Twins Boy

Genius Twins Boy
Bab 61. Hari Pembalasan


__ADS_3

Hari ini adalah weekend. Sejak pagi Jack dan Jarret tampak sudah tidak sabar untuk bertemu dengan para calon korban mereka nanti.


"Apa semuanya sudah siap, Kak?"


"Tentu saja. Hari ini adalah hari pembalasan untuk kakek. Jadi akan aku pastikan mereka akan mendapatkan balasan dari kita."


Ben sudah meminta ijin pada Giani untuk mengajak anak-anaknya pergi memancing. Giani tidak berminat untuk ikut. Dia merasa sangat lelah akhir-akhir ini.


Bagaimana tidak lelah? Jika hampir setiap ada kesempatan, Ben selalu menghajarnya habis-habisan di ranjang.


Giani pun juga tidak bisa menolak pesona Ben yang terkadang dengan cepat melumpuhkan sistem kerja otaknya.


Jack dan Jarret sudah memasukkan peralatan mereka ke dalam mobil ayahnya terlebih dahulu. Mereka tak ingin ibunya syok melihat apa yang mereka bawa.


"Mom, kami pergi dulu." Jack dan Jarret mencium pipi Giani dengan penuh semangat.


"Oh, Boys. Kalian bisa membuat pipi mommy lecet."


"Sorry, Mom. Kami terlalu bersemangat." Jack memeluk Giani sesaat dan lalu masuk ke dalam mobil.


"Apa kau lelah? Wajahmu terlihat pucat, Sweetie." Ben mengusap pipi Giani dengan lembut.


"Ya, tubuhku rasanya tak nyaman. Setelah kalian pergi aku akan tidur . Nikmati waktu kalian."


Ben mengecup bibir Giani dengan lembut dan lalu dia bergegas masuk ke mobil. Dia bisa merasakan seberapa besar antusias kedua putranya untuk mendatangi tempat dia menyekap Dawson dan anak buahnya.

__ADS_1


"Kalian siap?" tanya Ben.


"Kami siap, Dad." Jack dan Jarret menyahut dengan semangat.


"Ayo Ramos kita berangkat."


Mobil pun akhirnya bergerak meninggalkan mansion milik Ben.


*


*


*


Begitu mereka tiba di tempat penyiksaan. Jack dan Jarret sama sekali tak menampilkan ekspresi apa-apa. Ramos sampai bergidik ngeri dengan keturunan Ben itu.


"Ayo kita cepat masuk ke dalam, Dad." Jack selalu terlihat yang paling bersemangat di antara mereka berempat.


Anak buah Ben menarik pintu rolling hingga akhirnya tempat itu terbuka. Tempat yang dipilih Ben jauh dari kota dan pemukiman.


"Apa ini ujung lain dari hutan di rumah kita, Dad?"


"Ya dan ayo kita segera mulai. Daddy tidak mau lama-lama meninggalkan mommy kalian. Dia sepertinya kurang enak badan."


"Ok. Kami akan mengeksekusinya dengan cepat."

__ADS_1


"Ingat janji kalian!"


"Tentu saja, Dad."


Ben dan kedua putranya berikut juga dengan Ramos masuk ke tempat itu. Dawson dan sisa anak buahnya duduk terikat. Wajah Dawson sudah babak belur. Mungkin sebelum mereka datang, anak buah Ben sudah menghajarnya lebih dulu.


"Bangunkan mereka," perintah Ben pada anak buahnya. Mereka mengguyur Dawson dan kawanannya menggunakan air.


Dawson gelagapan. Dia menatap Ben dengan tatapan nyalang.


"Dasar pengecut! Kau itu seeperti perempuan Ben," pekik Dawson. Ben tak menanggapinya.


"Daddy, apa perlu aku menembaknya dengan serum pelumpuh lagi?" tanya Jarret menatap Dawson dengan kesal.


"Maka kau akan mengurangi kesenangannya, Boys. Teriakan mereka nanti akan menjadi penyemangat kita."


"Baiklah, aku ingin memulai dari ketiga pembunuh kakek, Aku sudah menyiapkan sesuatu yang tak akan mereka lupakan sepanjang hidup mereka," ujar Jarret.


"Itu juga kalau mereka bisa bertahan hidup, Kak. Aku jamin mereka setelah ini akan memikirkan dosa-dosanya."


Jarret menyunggingkan senyum smirk nya. Dia lalu membuka tasnya dan mengeluarkan isinya.


Ramos meneguk salivanya kasar melihat apa saja yang dibawa oleh anak-anak Ben itu.


Ben bahkan juga tak menduga jika anak-anaknya akan membawa barang-barang itu.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2