
Kini mereka sekeluarga pergi menuju restoran tempat janjian Ben dan rekan bisnisnya. Saat Ben dan Giani masuk ke restoran mewah itu, tampak sepasang mata dari seorang pria mengamati mereka dengan tatapan yang sulit diartikan.
Seperti biasa Jack dan Jarret berjalan di depan memimpin kedua orangtuanya. Ben hanya tersenyum melihat kelakuan kedua anaknya.
Seorang pria paruh baya dan istrinya menyambut kedatangan Ben.
"Halo, Tuan Ben."
"Halo Mr. Derrick, Halo Mrs. Anne."
Mr Derrick dan istrinya tersenyum ramah dan menyalami Ben juga Giani.
"Apakah ini istrimu, Tuan Ben?"
"Ya, Mr Derrick. Dia Giani istriku dan mereka berdua adalah putraku."
"Oh, ini sangat mengejutkan. Aku kira kau adalah pria single selama ini. Tak tahunya kau sudah memiliki anak sebesar mereka. Mereka sangat lucu."
"Terima kasih untuk pujiannya, Tuan Derrick," jawab Jack sembari tersenyum tipis.
"Oh, kau manis sekali, Sayang." Mrs Anne tampak gemas memandang Jack.
"Semua orang memang selalu mengatakan begitu, Nyonya Anne."
"Oh, ya Tuhan. Kau benar-benar bermulut manis. Lalu siapa nama saudaramu?"
"Dia kak Jarret. Aku dan dia lahir hanya beda beberapa menit saja. Dulu saat di perut mommy aku sengaja mengalah dan membiarkan kak Jarret keluar duluan."
__ADS_1
Semua tertawa mendengar celoteh Jack, kecuali Jarret. Dia tampak kesal karena Jack selalu ingin terlihat menonjol di antara mereka.
"Mari silahkan duduk," kata Mr Derrick, mempersilahkan Ben dan keluarganya.
Mereka pun akhirnya duduk mengitari meja bundar itu. Mr Derrick memberi kode pada pelayan untuk menyajikan makanan yang tadi dia pesan sebelum Ben datang.
Sementara itu, sepasang mata yang tadi menatap kehadiran Ben dan keluarga kecilnya tampak mengepalkan tangan. Dia cukup merasa terbakar hatinya melihat bagaimana Ben meletakkan tangannya di tubuh wanita pujaannya.
"Lihat saja. Aku akan kebahagiaanmu sirna sebentar lagi, Ben. Aku akan menyingkirkan orang-orang yang kau sayang. Agar kau tahu rasanya kehilangan," desis pria itu.
"Hai, Dawson. Kenapa kau memanggilku kemari?" Rick sepupu Dawson baru saja datang dan membuat Dawson mengalihkan pandangannya.
"Aku perlu bantuanmu kali ini."
"Katakan saja apa yang kau mau."
Rick mengalihkan pandangannya dan menatap ke arah pandangan Dawson.
"Bukankah itu Benjamin Alexander?"
"Kau benar."
"Lupakan dendammu itu Dawson dan pikirkan masa depanmu."
"Kau pikir itu mudah?"
"Jika kau tak mau melakukannya aku akan lakukan sendiri."
__ADS_1
"Bukan aku tidak mau," kata Rick. Sesaat dia menarik napas panjang. "Kau tahu bagaimana dia menghadapi musuhnya 'kan?" tanya Rick dengan raut wajah serius.
"Aku tahu, tapi kali ini keputusanku sudah bulat."
"Maaf aku tidak bisa menolongmu. Freya sedang hamil. Aku tidak ingin membuatnya menjadi janda dan harus merawat anak kami sendirian."
"Baiklah, aku tidak akan memaksamu, Rick."
"Thanks, Dawson. Jika begitu aku akan pergi."
Dawson hanya mengangguk dan tersenyum tipis. Setelah Rick keluar. Dawson menyalakan ponselnya dan menghubungi anak buahnya.
"Rick baru saja keluar dari restoran. Ikuti dia dan habisi. Buat seolah dia mengalami kecelakaan parah. Dia telah berani menolak permintaanku."
"Baik, Bos."
Dawson tersenyum tipis. Rick akan menjadi ancaman baginya jika tetap dia biarkan berkeliaran, karena Rick telah mengetahui rencananya untuk menyingkirkan anak-anak Ben.
Ben terlihat santai saat berbicara dengan rekan bisnisnya. Nyonya Anne bahkan menawari Giani untuk main di rumah mereka.
Giani tampak senang berbicara dengan nyonya Anne. Dia seakan seperti sedang berbicara dengan ibunya.
"Terima kasih untuk jamuannya, Mr Derrick, Mrs Anne. Lain kali berkunjunglah ke mansionku. Aku akan bergantian menjamu kalian."
"Terima kasih, kami pasti akan memenuhi undanganmu." Pasangan suami istri itu akhirnya melepas kepergian Ben dan keluarganya.
...****************...
__ADS_1