
"Kakak, jangan katakan pada mommy. Ok!" Joscelin memegangi tangan Jared. Hari ini seperti biasa gadis yang satu itu selalu membuat masalah di sekolah.
"Kau sudah terlalu sering membuat masalah, Celin."
"Tapi mereka yang memulainya."
Joscelin melipat tangannya di dada dan memasang wajah cemberut. Saat ini Joscelin berusia 16 tahun. Kenakalannya selalu membuat Giani sakit kepala. Hari ini adalah kali ke 7 Joscelin berakhir di ruang kepala sekolah.
Dia menghajar wajah anak laki-laki yang hendak menciumnya hingga hidungnya patah. Kali ini Jared yang harus turun tangan menyelesaikan masalah adik perempuan satu-satunya itu.
"Kau mau protes pada kakak?" tanya Jared, mengangkat sebelah alisnya. Rasanya ingin dia cubit pipi Joscelin seperti biasa, tapi kali ini Jared mencoba mempertahankan wajah datarnya.
"Kakak." Joscelin menghentakkan kakinya karena Jared justru berbalik dan meninggalkannya. Gadis itu melompat ke punggung Jared.
"Oh my God." Jared menghela napas panjang. Kedua tangannya reflek menahan pantat Joscelin.
"Aku janji ini yang terakhir, Kak."
"Jika kau mengulanginya, kakak tidak akan membantumu lagi. Kau tidak kasihan pada mommy. Dia sampai pusing memikirkan tingkahmu."
"Baiklah. Lain kali aku tidak akan memukul mereka. Aku akan biarkan saja mereka menciumku."
"Jangan coba-coba gadis nakal. Atau kau mau para laki-laki itu dijadikan santapan untuk Zack. Kak Jackson pasti akan menghabisi mereka jika kamu seperti itu."
"Lalu aku harus bagaimana? begini tidak boleh. Begitu tidak boleh." Protes Joscelin.
Jared menurunkan Joscelin dari punggungnya dan lalu mereka memasuki mobil Jared.
Tidak ada lagi percakapan di antara dua bersaudara itu. Sifat Joscelin sangat mirip dengan Jack. Mereka sama-sama suka sekali membuat keributan. Jika saja kali ini Jack yang di panggil ke sekolah, sudah pasti dia akan menghajar lagi anak laki-laki yang berniat mencium Joscelin itu.
__ADS_1
Mereka tiba di rumah. Giani mengernyit heran melihat putrinya sudah pulang.
"Mom, aku hanya mengantar Celin. Tolong nasehati dia." Jared lalu mencium pipi ibunya.
"Ada apa lagi ini?"
"Giorgino tadi mau menciumku. Aku membuat hidungnya patah."
"Oh, God. Kenapa kamu tidak laporkan saja dia?"
"Mommy mau aku ditertawakan seluruh teman-temanku? Semua teman-temanku sudah pernah berciuman mom. Hanya aku yang belum karena semua larangan mommy." Joscelin menghempaskan tubuhnya ke sofa. Sedangkan Jared langsung kembali ke perusahaan.
"Mommy hanya tidak mau kamu terjerumus pergaulan bebas, Sayang. Kerugian terbesar ada pada gadis bukan pada laki-laki. Meski banyak laki-laki yang bisa menerima gadis tidak perawan. Akan tetapi memberikan keperawanan pada orang yang berhak itu akan lebih terhormat. Keperawanan itu harga diri wanita."
"Maka dari itu aku memukul Giorgino."
"Di mana Jordan mom?"
"Dia sedang pergi ke rumah temannya. Sekolahnya libur lebih awal."
"Apa kita akan jalan-jalan untuk liburan kali ini?"
"Daddy akan melakukan perjalanan bisnis. Mommy harus menemaninya. Jika kau mau kau bisa ikut dengan kami."
"Tapi itu sangat membosankan, Mom. Apa aku boleh ikut summer camp?"
"Boleh asal kamu bisa menjaga diri."
"Mommy lupa siapa aku?"
__ADS_1
"Kau tidak boleh sombong, Sayang. Di atas langit masih ada langit."
"Apa aku boleh menjemput Jordan, Mom?"
"Sebentar lagi dia akan pulang."
Jordan Alexander adalah putra bungsu Giani. Usianya 14 tahun. Dia memiliki sifat yang sama dengan Jared.
***
Sore harinya Ben dan Jared pulang dari perusahaan. Giani menyambut suaminya yang semakin terlihat menawan meski usianya sudah kepala 5. Semakin tua, semakin terpancar aura ketampanannya.
Ben mengecup kening, pipi dan bibir Giani. Jared seperti biasanya mencium pipi ibunya.
"Sayang, Kau tidak menyuruh Jack pulang?" tanya Giani, saat ini mereka semua berkumpul di ruang keluarga.
"Dia sedang ada tender. Dia tidak akan mungkin mau pulang. Biarkan saja."
"Kau terlalu memanjakannya, Sayang," protes Giani.
"Jack laki-laki, Sweetie. Aku juga memberikan kebebasan pada anak-anak kita yang lainnya. Bukan hanya pada Jack."
"Tapi aku khawatir."
"Mereka sudah 23 tahun," jawab Ben. "Kau terlalu overthinking, Sweetie. Berikan kebebasan pada anak-anak untuk memilih passion mereka."
"Aku tidak menyangka mereka sudah dewasa. Ku rasa mereka tumbuh terlalu cepat."
...****************...
__ADS_1