
DORR!!
"Aarrgh!! pekik Shena. Tubuh wanita paruh baya itu langsung tersungkur di lantai karena Ben menembak kakinya.
Dia terkapar tak dapat berbuat apa-apa. Ben menatapnya dengan dingin.
"Kau sudah menipuku selama ini. Maka kematian terlalu mudah untukmu. Aku akan membuatmu memohon padaku setiap hari untuk kematianmu."
"A_ampuni ka_mi, Kak. Kami akan pergi dari hidupmu dan tidak akan mengganggumu lagi," ucap Aluna memohon. Dia tak tega melihat wajah ibunya kesakitan.
Ben menyeringai sadis. Dia berjongkok dan mencengkeram pipi Aluna.
"Aku bukan kakakmu! Kau pikir setelah apa yang ku dengar, aku akan melepas kalian begitu saja? Kalian salah memilih musuh."
Tak lama anak buah Ben masuk ke ruangan itu dan membawa Shena dan juga Aluna. Aluna berteriak histeris, sedangkan Shena sudah lemas karena kakinya terus mengeluarkan darah.
Saat Ben akan mengikuti anak buahnya ponselnya berdering. Dia tersenyum tipis melihat nama kontak yang terpampang di layar ponselnya saat ini.
"Halo, Sweetie. Ada apa?"
("Bisakah nanti kau jemput anak-anak. Aku tidak bisa ke sekolah mereka. Kepalaku pusing dan badanku lemas.")
__ADS_1
"Kau sakit?"
("Ku rasa aku akan terserang flu.")
"Baiklah, aku akan menjemput mereka nanti. Beristirahatlah. Aku akan segera pulang."
("Thanks, Honey.")
"I love you, Sweetie," ucap Ben. Setelah sekian lama dirinya meyakinkan diri, akhirnya kini Ben mau mengakui perasaan cintanya pada Giani.
Giani tak menjawab apapun, tapi di tempatnya sekarang, dia tersenyum dan mendekap ponselnya di dada.
"I love you too," gumam Giani. Dirinya masih malu jika harus mengatakan hal itu pada suaminya.
*
*
Ben berada di perusahaannya, dia kini berdiri di depan kaca jendela besar dan menatap bangunan gedung di sebelahnya.
Ben menghela napas panjang setelah memikirkan ucapan wanita tadi. Jadi ibunya memiliki kembaran? Tapi kenapa dia sampai tidak tahu akan hal ini? Apa mendiang ayahnya juga tahu? Atau jangan-jangan Kakek dan neneknya juga mengetahui hal ini? Dan hanya dirinya saja yang tidak tahu apapun.
__ADS_1
Ben mengusap wajahnya kasar. Dia bahkan tidak menyadari jika ibunya telah berganti orang. Itu semua karena dulu ayahnya terlalu otoriter pada Ben. Dia memaksa Ben untuk mengikuti semua aturan yang dibuatnya sehingga Ben jarang berhubungan dengan ibunya.
Setiap hari Ben dicekoki dengan teori dan praktek dan segala hal-hal yang berkaitan dengan sains. Ayah Beni terobsesi memiliki anak yang kelak akan menjadi seorang dokter atau Profesor.
Meski pada akhirnya Ben bisa mewujudkan keinginan terbesar ayahnya. Namun, semua itu tidak membuat Ben merasa puas dengan pencapaiannya. Karena sang Ayah terlanjur tiada sebelum melihat Ben berhasil.
Dulu Ben sempat melawan keinginan terbesar ayahnya. Ben merasa bosan dengan apa yang dia jalani hingga Ben memutuskan untuk mengambil dua mata kuliah sekaligus karena ia tertarik berkembang di dunia bisnis juga.
"Tuan, sudah waktunya menjemput kedua tuan muda." Ramos tiba-tiba masuk dan membuyarkan kenangan Ben pada masa lalunya.
Ben segera turun dan pergi menjemput kedua putranya. Kali ini Ben sendiri yang menjemputnya karena Ramos harus mewakili Ben untuk rapat.
Setibanya di depan gerbang sekolah, Jack sudah menyambut Ben dengan suka cita. Jack berjalan mendahului Jared dan langsung memeluk Ben.
"Daddy menjemput kami?"
"Ya, mommy kalian sedang kurang enak badan. Jadi daddy yang jemput kalian."
Jared mendekat. Namun, dia diam tak melakukan seperti apa yang Jack lakukan.
"Kau tidak mau memeluk daddy, Jared?"
__ADS_1
"No, aku tidak mau merusak imageku, Dad." Jared menjawab dengan santai. Ben hanya tersenyum dan lalu mereka bertiga pulang ke mansion.
...****************...