Genius Twins Boy

Genius Twins Boy
Bab 46. Menuju Dinner


__ADS_3

Wajah Giani tak karuan memerah, Ben tertawa menyambut istrinya yang dengan terpaksa masuk ke dalam kamar mandi.


"Ben, ma_maaf aku tidak bisa menolak keinginan mereka," lirih Giani dia lagi-lagi menundukkan kepalanya karena malu mendapat tatapan yang begitu lekat dari suaminya.


"Tak masalah, aku suka cara mereka menyatukan kita."


Ben mendekati Giani dan langsung menarik pinggang wanita itu dengan lembut. Ben mengendus aroma parfum milik Giani dan mengecup leher jenjang istrinya itu.


Giani menggigit bibirnya agar suara desa*hannya tak terdengar dari luar.


"Ben, kita harus segera mandi. Anak-anak menunggu di luar."


"Baiklah, Nyonya, tapi aku ingin kita benar-benar mandi bersama-sama."


"Kau terlalu banyak menuntut, Tuan."


"Kau juga tak pernah menolakku." Ben kembali mencium ceruk leher Giani hingga membuat tubuh Giani bergetar.


Perlahan-lahan Ben mulai menarik baju Giani hingga terlepas dan lalu dia juga melakukan hal yang sama pada kemejanya.


Ben menarik tangan Giani dengan lembut dan lalu menyalakan shower hingga dirinya dan Giani basah kuyup.

__ADS_1


Giani hanya diam, dia merasa sangat malu dan tak terbiasa dengan kelakuan Ben yang dinilainya terlampau mesum.


Kini dada Giani sudah terbebas dari penutupnya karena Ben baru saja menanggalkannya. Ben menunduk dan mulai mencecap puncak dada Giani hingga Giani menahan napasnya.


"Beeenh ... " d*sah Giani, sembari mencengkeram rambut Ben.


"I like your voice, Baby." Ben terus turun dan menarik celana Giani hingga terlepas semuanya. Ben tersenyum saat menyentuh bagian yang basah dan sedikit lengket itu. Dia mulai melepas semua yang menempel di tubuhnya dan melakukan penyatuan dengan hati-hati.


Ben mengangkat tubuh Giani dan mulai bergerak dan menghentak dengan tempo yang cepat. Giani membekap mulutnya dan bersandar di bahu Ben.


Rasanya kenikmatan yang diberikan oleh Ben kali ini berbeda dengan yang tadi siang mereka lalui di kantor suaminya itu.


Ben menuntaskannya dengan cepat. Giani tak dapat berkata-kata lagi. Dia masih malu jika berhadapan dengan Ben yang tampak sangat perkasa itu.


Giani mengangguk di atas bahu Ben, Ben tersenyum sembari mengusap rambut Giani yang basah.


"Oh God. kau sweet sekali."


Keduanya menyelesaikan mandi bersama untuk yang pertama kalinya. Meski tampak malu-malu. Giani tak menolak saat Ben menyentuh tubuhnya dan menyabuni dirinya.


Keduanya selesai mandi. Saat Ben keluar lebih dulu. Kedua putranya sudah tidak ada di dalam kamar mereka.

__ADS_1


Dengan hanya memakai bathrobe Giani keluar dan bergegas menuju walking kloset dia memilih dress simpel berwarna Maroon dengan model Vneck hingga memperlihatkan sedikit dadanya yang bulat dan seksi itu. Giani juga langsung mengeringkan rambutnya yang basah dengan cepat.


Giani keluar sembari merapikan rambutnya yang panjang. Ben yang sudah bersiap menatap Giani dengan tatapan tajam.


"Kau akan pergi memakai baju itu?"


"Iya, memangnya kenapa? Ini cukup simpel."


"Gantilah dengan model yang lain. Itu terlalu terbuka." Ben menunjuk area dada Giani.


"Jika begitu pilihkan baju untukku. Yang menurut seleramu saja," ujar Giani.


"Baiklah, ayo kemari."


Ben mengambil sebuah midi dress berwarna hitam dengan model turtleneck dengan panjang lengan 3/4.


"Gantilah dengan yang ini."


Giani menurut saja dan melepas dress yang sudah dipakainya tadi. Tak ada waktu untuk bersikap malu-malu karena waktu sudah menunjukkan pukul 7 malam.


Usai berganti pakaian. Ben membuka sebuah kotak dan mengambil kalung berlian dari dalamnya dan memakaikannya di leher Giani. Usai memasang kalung itu, Ben mengecup pipi Giani yang merona.

__ADS_1


"Ayo, jangan sampai rekan bisnisku menunggu terlalu lama." Ben lalu menggandeng tangan Giani seperti biasanya keluar dari kamar.


...****************...


__ADS_2