
Jack dan Jarret sangat berhati-hati. Mereka melewati Dawson dan sejenak memandangi pria itu.
"Bukankah daddy sangat hebat, Kak?" Jack terkagum-kagum melihat hasil dari maha karya ayahnya.
Jarret hanya tersenyum sambil menatap Dawson yang terkapar dalam keadaan setengah sadar. Jarum yang tadi dia tembakan oleh Jarret, sesungguhnya adalah jarum yang sudah diolesi dengan serum pelumpuh buatan Ben.
Dawson menatap Jarret dan Jack. Namun, dia tidak bisa berbuat apa-apa. Tubuhnya benar-benar lemas tak bertenaga.
Serum itulah yang beberapa hari lalu di pakai oleh Ben untuk melumpuhkan semua anak buah Dawson.
"Ayo kita keluar." Jarret menarik tangan Jack.
"Tetap waspada, Jack. Jangan lengah."
"Mereka tidak ada apa-apanya dibanding dengan kita, Kak."
"Jangan meremehkan lawanmu, Jack. Kau tidak boleh sombong dengan kemampuan yang kau miliki."
Jarret dan Jack mengendap-endap melihat situasi di ruangan lain.
"Jack, ada 3 orang penjaga di sana."
"Kakak bidik saja mereka."
"Masalahnya jarum itu hanya ada 5 dan yang 1 sudah aku gunakan. Bagaimana jika di luar masih banyak penjaga lagi."
"Aku membawa ketapelku, kakak tenang saja."
Jarret sesaat tampak berpikir dan tak lama dia langsung membidik tiga orang di depannya. Serum pelumpuh buatan ayahnya tak main-main. Dalam hitungan detik saja langsung bekerja.
Zleb! Zleb!
Jarum melesat dengan cepat dan mengenai ketiga sasaran Jarret. Mereka langsung terkapar sama seperti bosnya.
Jack hampir bersorak kegirangan karena kakaknya selalu melakukan hal yang hebat.
__ADS_1
*
*
*
Sedang dari arah luar Ben dan Ramos sudah menghajar 3 orang penjaga dengan mudah. Ben baru saja tiba di Melbourne dan langsung mendatangi lokasi Mansion milik Dawson, karena dia sudah melacak sendiri lewat GPS yang terpasang di jam tangan kedua putranya.
"Anda seharusnya tidak perlu repot-repot turun tangan, Bos. Mereka bukan apa-apa dibandingkan dengan anda.
"Mereka anak-anakku, Ramos. Jika aku tidak turun tangan langsung, aku bisa kalah pamor denganmu."
Ramos langsung melengos mendengar jawaban dari atasannya itu. Mereka langsung menuju ke dalam mansion di mana anak-anak Ben di sekap.
"Lain kali siapkan bodyguard terbaik untuk anak-anakku."
"Baik, Bos."
Ben merasa teledor. Karena kesibukannya dia jadi lupa untuk menempatkan orang-orangnya di sekitar anak-anaknya.
Jarret dan Jack melangkahi orang-orang itu. Di saat mereka hendak membuka pintu. Dari arah luar, pintu itu terdorong dengan cukup kuat. Beruntung reflek si kembar cukup gesit.
"Kalian baik-baik saja?" tanya Ben sembari menurunkan Jack.
"Ya, Dad. Kami baik-baik saja."
"Kenapa kalian bisa diculik orang itu?"
"Kami sukarela mengikutinya. Kami hanya ingin tahu apa tujuannya, karena dia terus menyebut nama mommy."
"Ramos, bereskan mereka semua."
Ben menggandeng tangan Jarret dan Jack. Dia akan membawa kedua putranya pulang.
"Daddy, bagaimana jika nanti mommy bertanya pada kami?"
__ADS_1
"Bilang saja kalian pergi ke rumah teman kalian dan tidak sempat menghubungi mommy. Lagi pula uncle Robert terluka. Jadi untuk sementara mommy pasti tidak akan menanyainya."
"Daddy menyuruh kami berbohong?"
"Ini demi mommy kalian, Sayang." Ben berkilah meski sebenarnya apa yang kedua anaknya katakan ada benarnya juga.
Jack dan Jarret akhirnya mengangguk. Mereka bertiga akhirnya pergi dari mansion Dawson itu.
"Daddy, kami belum memberi pelajaran pada ketiga pembunuh kakek."
"Kalian sudah melumpuhkan dalangnya. Kurang apa lagi?" Ben kini sedang fokus menyetir dan menoleh sekilas menatap kedua putranya.
"Maksud daddy?" tanya Jack masih belum paham.
"Orang yang tergila-gila dengan mommy kalian tadi itulah dalang dari pembunuhan kakek kalian. Dia sengaja membunuh kakek Gilbert hanya karena ingin segera melihat mommy kalian."
Jarret mengepalkan tangannya, sorot matanya berubah tajam.
"Seharusnya kita bunuh saja tadi manusia tak berguna itu." Geram Jarret.
"Hei, tenanglah. Daddy sudah meminta uncle Ramos untuk membawanya ke tempat penyiksaan. Nanti jika kalian libur. Kita akan siksa mereka yang telah berbuat jahat pada kakek."
Ben bisa merasakan kemarahan di hati putra pertamanya itu.
Setibanya mereka di gerbang. Giani sudah menyambut kedatangan ketiga pria beda generasi itu.
Wajah cantiknya telah sembab karena sejak tadi terus menangis.
Jarret dan Jack langsung turun dari mobil. Begitu juga dengan Ben. Pria itu melempar kunci mobilnya pada penjaga mansion nya.
Giani langsung memeluk kedua putranya. "Kalian dari mana saja? Apa kalian tahu mommy sangat cemas?"
"Maaf mom, kami mampir ke rumah Joel. Dia beli mainan baru dan ingin kami melihatnya."
"Lain kali jangan seperti itu lagi, Ok!"
__ADS_1
"Maaf kami membuat mommy cemas."
...****************...