
Cerita 7
"Berhenti di situ bentar" Kata Danis. Arka memarkir mobilnya di depan minimarket yang halamannya cukup luas.
"tunggu bentar" kata Danis lagi sambil buka pintu mobil, Danis berjalan agak cepat ke dalam minimarket.
Tidak berselang lama, Danis masuk ke dalam mobil sambil menenteng tas kresek. Arka yang daritadi menenggelamkan mukanya dikemudi mulai bangun.
Danis menyodorkan minuman dingin ke Arka. setelah sama-sama minum, keduanya mulai hanyut dalam pikiran masing-masing.
"Sejak nerima telphon tadi, kamu jadi uring-uringan. ada masalah?" Danis membuka obrolan, Arka melihat Danis sekilas. cewek itu masih bersikap sok dewasa, bikin Arka makin gemas.
"tadi Pacarku yang nelphon" Kata Arka akhirnya. Danis melongo. 'bukannya tadi yang nelphon 'Mamaku'' batin Danis
beberapa detik kemudian Danis menutup mulutnya. "bentar, ada yang perlu aku lurusin. jadi Mamaku itu pacar kamu?" Arka menganggu.
tanpa sungkan Danis ketawa. Arka jadi salting. "kamu serius manggil cewek kamu Mama? seorang Arka?" Arka ngangguk, Danis makin ketawa heboh.
Ngeliat Arka yang pipinya uda merah, Danis mulai mengerem tawanya" Sory-sory..." Danis membenarkan posisi duduknya. "terus?"
"terus apa?"
__ADS_1
"Dia manggil kamu Papa?" Arka cuma diam aja. sekarang Danis tertawa tapi berusaha agar tawanya tak terdengar.
"Nggak nyangka ya, Arka yang sikapnya kayak es batu ngikutin gaya anak al*y yang manggil pacarnya uda berasa mereka jadi suami istri. Papa Arka" Danis ketawa lagi.
Arka yang mulanya sebel perlahan ikut ketawa juga, dia baru sadar kalau dirinya masuk perangkap zaman al*y.
Mereka berdua saling pandang, Arka mencubit pelan pipi Danis. "Puas?" tanyanya lembut. Danis uda mulai tenang.
" aku pengen putus Nis" sontak Danis kaget denger omongan Arka.
"Lah.. kenapa? tenang dulu, kalo lagi emosi tuh gak bole ngambil keputusan sembrono."
"Aku tuh uda bener-bener di titik nggak nyaman banget" terang Arka
"Hubungan yang awalnya dipaksain mau dipoles kayak gimanapun pasti ujungnya ya kayak gini Nis" Danis garuk-garuk kepala bingung.
" Dari awal aku gag cinta sama Mega" Arka menoleh ke Danis " aku pikir dengan kita pacaran aku bisa cinta sama dia"
Danis masih sabar nyimak cerita Arka, meskipun sebenernya ada banyak rasa penasaran. " Aku ngerasa kesiksa, rasanya kayak lagi dipenjara dan nggak bisa ngelakuin apa-apa"
Arka diam, meskipun Danis kurang paham sama yang lagi di rasain Arka, tapi dia tau kalau Arka sekarang lagi tertekan. Danis mengusap lengan Arka pelan, berharap Arka bisa jadi lebih tenang.
__ADS_1
"sabar dulu, kamu bisa bertahan selama ini sama dia masak iya mau nyerah gitu aja" Kata Danis mencoba nenangin.
"Masalahnya, aku bertahan karena emang aku nggak bisa putus sama dia" Arka menarik rambutnya kebelakang "dan itu yang bikin aku makin gila" untuk kedua kalinya Arka mukul setir kemudi di depannya, kali ini lebih keras dari yang tadi.
Danis yang kaget, spontan menarik tangan Arka, dia mengecek kalau-kalau tangan Arka luka. dan untungnya tangan Arka masih aman, jadi Danis hanya meniup serta mengusap tangan Arka pelan.
"Semua masalah itu ada akarnya, dan kalo hati dan pikiran kita lagi panas mending diredam dulu deh. " Kata Danis fokus ngeliat tangan Arka. sedang Arka, dia makin berkaca-kaca ngeliat sikap Danis ke dia.
" Mending kamu sholat istikaharah deh, biar keputusan yang kamu ambil nggak salah" Kata Danis sambil senyum ke arah Arka.
"Tunggu bentar" pesan Danis sambil keluar dari mobil. dia masuk ke minimarket lagi. dan lagi-lagi balik membawa kantong kresek.
"Obat mujarab penghilang penat" Kata Danis sambil menyodorkan ice cream ke Arka. "Sekarang kamu jangan cerita lagi,
tapi aku janji kapanpun kamu pengen cerita, aku siap dengerin. makan gih"
setelah ice creamnya habis keduanya masih diam, hanyut dalam pikiran masing-masing.
Tiba-tiba Arka meraih kedua tangan Danis, Arka mencoba tersenyum, meskipun keliatan di paksa " Makasih ya Nis" Arka makin erat genggam tangan Danis. Genggaman penuh arti yang hanya Arka dan Allah yang tau. "Maaf" gumam Arka.
***
__ADS_1
Jangan lupa supportnya dong gengss... like, coment dan jangan lupa dijadiin favorit ya.. ditunggu..
da.. daaaahhh... makaseeeh.. mumumu