
Cerita 73
Mata Danis dan Anjas bertemu, mereka seperti berbicara lewat tatapan. perlahan Anjas berdiri dari duduknya, dia berjalan mendekat. Danis yang sadar dari lamunannya sontak berjalan agak cepat keluar cafe.
"Daniiiss!!!"
Danis terus berjalan keluar cafe, tanpa menghiraukan panggilan Anjas. tapi terlambat, tangan Danis sudah ditangkap Anjas. Dia menarik Danis ke dalam pelukannya. dan tentu itu menjadi tontotan orang di cafe.
Danis berusaha melepas pelukan Anjas, tapi itu sia-sia, tenaga mereka berbeda jauh. Anjas terus memeluk Danis, meskipun tanpa ada balasan . Danis kalang kabut, dia paling gak suka jadi bahan tontonan, dan sekarang dia benar-benar merasa muak dengan Anjas.
"aku bakal lepasin kalau kamu mau ikut aku ngobrol di atas" bisik Anjas, Danis mengangguk pasrah.
"Anjas" panggil Tasya lirih, tepat saat Anjas melepas pelukannya.
Tasya kini ikut berdiri dibelakang Danis. Anjas menatapnya tajam tanpa melepas pegangan tangannya dari Danis.
"Mending kamu pergi, nanti kita obrolin di kantor manajemen ku" kata Anjas pada Tasya.
Danis yang mendengar kata-kata Anjas kaget, dia baru sadar ada Tasya dibelakangnya. Anjas berjalan mengajak Danis masuk ke keruangannya di lantai atas.
Plaaak...
Belum sempat Anjas berbicara apapun, tangan Danis lebih dulu berbicara di pipi Anjas. bukan hanya Anjas yang kaget, Danis pun seperti baru sadar kakinya mundur selangkah, air matanya turun, Danis menangis.
"Dan..." gumam Anjas pelan, pipinya memerah bekas tamparan yang cukup keras.
"Stop, jangan ngomong! aku gak mau denger apapun Njas!" kata Danis ketus, air matanya terus menetes. entah kenapa dia ngerasa sesak, ada yang sakit dihatinya.
"kamu jahat Njas, saat aku mulai bangun kepercayaanku ke kamu, dengan sekejap kamu hancurin. kamu tega cuma mainin aku, manfaatin aku!" Danis terlanjur emosi. Anjas hanya diam terus menatap mata Danis.
"Setelah aku cerita hubunganku sama Arka, kamu sengaja masuk dalam hidupku. kamu deketin aku, baik ke aku. aku sadar sekarang, kamu cuma manfaatin aku, mainin aku. kamu nganggep aku cewek gampangan, cewek murahan karena aku udah jadi pelakor. mangkannya kamu giniin aku!" Anjas mengernyitkan dahi denger Danis ngomong.
__ADS_1
"Aku emang bodoh karena mau jadi pelakor, tapi bukan berarti aku gampangan, dan seenaknya sendiri kamu mainin perasaan aku. aku tau kamu player, pacar kamu dimana-mana termasuk cewek tadi. tapi kenapa harus aku? kamu ngrelain pertemanan kita cuma buat muasin obsesi kamu punya pacar banyak! keterlaluan kamu Njas! jahat!" Air mata Danis makin deras, dia sangat muak melihat wajah Anjas.
"kamu..." belum selesai Danis ngelanjutin kata-katanya, dengan cepat Anjas mencium bibir Danis, ciuman lembut, meskipun tidak dibalas Danis, tapi Anjas terus menghujani Danis dengan ciuman sayang nan lembut. Saat Danis mulai sedikit menikmati, dia malah tersadar dan mendorong tubuh Anjas mundur.
Melihat Anjas yang ingin maju lagi, membuat Danis kelabakan, dia inget mereka lagi berduaan di ruangan Anjas. rasa takut sedikit menyusup di kepalanya.
"Stop Njas! belum cukup kamu ngrusak hati aku? sekarang kamu mau ngrusak keperawanan aku?" kata Danis pelan, dia mundur selangkah.
Denger ocehan Danis yang terakhir bikin Anjas diam mematung, ekspresinya tak terbaca sampai beberapa detik kemudian dia tersenyum dan langsung berubah jadi tawa cekakan. dia mengacak rambut Danis.
"udah bikin novelnya?" tanya Anjas ngejek. Danis masih sesenggukan, gak ngerti maksud Anjas. "aku pasti bakal ngrusak keperawananmu itu, tapi ntar kalau udah sah, sabar ya" kata Anjas lembut.
Perlahan Anjas meluk tubuh mungil Danis, mengusap rambutnya pelan "ungkapin semuanya sayank" bisik Anjas.
Mendengar kata 'sayank' keluar dari mulut Anjas bikin hati Danis ngilu, dia benar-benar gak paham sama situasi ini.
"Kamu jahat Njas!" hanya kata itu yang keluar dari mulut Danis, dia menyenderkan kepalanya di dada bidang Anjas.
"I Love you too jutek!" kata Anjas setelah kedua mata mereka bertemu, kemudian dia melet.
"Apaan sih!" bentak Danis kesal, bibirnya manyun.
"kenapa bibirnya gitu? minta dicium lagi?" goda Anjas.
"awas aja kamu berani" kata Danis ketus. Anjas senyum.
"segitu gak percayanya kamu sama aku?" tanya Anjas serius.
"cuma cewek bod*h yang bisa langsung percaya sama kamu, playboy tengil. udah deh urusin tuh pacar kamu dibawah!" kata Danis kesel.
__ADS_1
"aku bakal buktiin kalau aku serius sama kamu. ayo ikut!" kata Anjas narik tangan Danis.
"Kemana sih?" tanya Danis sambil berontak.
"ke KUA, kita nikah sekarang juga biar kamu percaya" kata Anjas tenang yang malah disambut Danis dengan cubitan di pinggang.
"Anjas Gilak!" teriak Danis berkaca-kaca, Anjas memegangi pinggangnya yang kena cubitan maut Danis. Melihat Danis yang akan menangis lagi, Anjas menghela nafas.
"jangan nangis lagi jutek," kata Anjas lembut, dia menatap mata Danis tajam "Aku sayank sama kamu, aku gak pernah seserius ini sama cewek, cuma kamu. Danis!" kata Anjas sambil nunjuk hidung Danis.
'duh kenapa Anjas keliatan gemesin gini sih. sadar Nis, dia playboy. dia cuma mainin kamu. tapi kalau Anjas serius gimana dong' batin Danis.
Danis sedikit bergetar mendengar ucapan Anjas, dia mengerjapkan matanya berkali-kali. "tapi kamu udah punya pacar, jangan bilang kamu mau jadiin aku yang kedua juga!" kata Danis gugup.
"aku belum punya pacar, cuma kamu tuh yang langsung jadi calon istriku. tapi ya bukan salahku dong kalau banyak cewek yang suka sama aku. resiko cowok ganteng lah" kata Anjas sambil nyengir.
"gak lucu!" bentak Danis.
"tapi kamu lucu kalau lagi cemburu" kata Anjas, Danis melotot.
"cemburu???" tanya Danis sambil mengernyit, Anjas ngangguk.
'gak mungkin aku cemburu sama Anjas? gak bener nih' batin Danis
"kamu kalau cemburu tinggal bilang, gak perlu marah-marah, nangis kayak tadi. bikin gemes aja" kata Anjas sambil nyubit dua pipi Danis.
"sory ya, gak bakalan aku cemburu sama playboy kayak kamu" Danis emosi dan milih duduk di sofa.
***
__ADS_1