
Cerita 105
"Danis!"
Danis yang baru keluar dari gedung perkantorannya nengok ke sumber suara, dia menghela nafas panjang. cowok itu menatap mata Danis sambil senyum tipis, otomatis Danis juga ikut membalas senyum, meski agak dipaksa.
"Apa kabar?" tanya cowok ganteng dengan pakaian formalnya, cowok itu Arka.
"Alhamdulilah baik, kamu sendiri gimana? udah sehat?"
"yah... seperti yang kamu liat" jawab Arka tenang, Danis hanya manggut-manggut.
"Boleh gak aku nyulik kamu bentar?" tanya Arka, Danis mengernyitkan dahi.
Arka senyum "cuma bentar, gak bakal macem-macem. anggap aja ini salam perpisahan dari aku"
Danis masih diam, keliatan mikir.
"Ayolah, ini terakhir kali aku gangguin kamu sebelum kamu nikah" bujuk Arka. Danis pun ngangguk.
'salah gak ya? alah... cuma ngobrol bentar gak ada salahnya, Anjas pasti juga paham' batin Danis
Arka ngajak Danis ke Batu, tepatnya ke paralayang. Dulu dia juga pernah ngajak Danis kesini meskipun sekarang status mereka udah beda.
"Makasih ya Nis, saat aku koma kamu masih mau nemuin aku" kata Arka memecah keheningan.
Mereka berdua duduk di bangku kayu yang langsung menghadap pemandangan kota, walaupun dari tempat mereka duduk kota-kota dibawahnya keliatan kecil.
"kamu pikir aku sejahat apa?" cibir Danis, Arka senyum.
"kamu bahagia sama Anjas?" tanyanya tiba-tiba. Danis ngangguk.
"Iya, Anjas ngajarin banyak hal ke aku. Dia selalu bikin jantung aku kelabakan , aku ngerasa sempurna saat sama dia." jawab Danis sambil senyum ngingat kebersamaannya dengan calon suaminya itu.
Arka menghela nafas panjang, "Syukurlah kalau kamu ngerasa kayak gitu, Anjas cowok yang bertanggung jawab, kalau kayak gini aku bisa pergi dengan tenang"
Danis noleh ke Arka "Maksutnya?"
"Minggu depan aku ke jerman, aku mau nerusin study aku disana"
__ADS_1
"Seriusan kamu? terus Mega?" tanya Danis.
Arka menggeleng "saat ini kita milih pisah, kalau emang kita jodoh pasti nanti bakal disatuin lagi" kata Arka sambil natap wajah Danis lekat.
'Boleh gak aku masih berharap kamu jodoh aku Nis?' batin Arka
"Maaf ya, gara-gara aku masuk hidup kamu jadinya kayak gini"
Arka meraih tangan Danis, "Enggak Nis, kehadiran kamu yang singkat ini adalah kebahagiaan terbesar aku. kamu akan selalu ada di hati aku sayank"
Arka ngusap pipi Danis, sontak Danis langsung mundur dan nglepas pegangan tangan Arka.
"Maaf" ucap Arka pelan.
"Kenapa kamu gak mulai dari awal lagi sama Mega? aku tau kamu cinta sama dia"
"Banyak hal yang kita pertimbangin, dan kita sama-sama mau intropeksi diri dulu. Mungkin kamu benar, aku juga cinta ke Mega tapi cinta kita hanya bisa saling nyakiti, aku ngerasa egois kalau masih mempertahankan dia, Mega juga harus bahagia"
'Bahkan sampai sekarang kamu masih lebih mentingin Mega Ka, aku berharap kalian cepat sadar, dan balikan' batin Danis
'Aku gak bisa milih Mega, karena selalu ada bayangan kamu Nis, hatiku masih penuh sama kamu' batin Arka.
"Ammiin... Semoga kamu dan Anjas juga selalu bahagia"
'Kebahagiaan kamu yang utama Nis' batin Arka
***
Danis dan Arka bener-bener lupa waktu, Arka nganter pulang Danis jam 10 malam. Setelah dari paralayang mereka pergi makan dan sedikit jalan-jalan muter kota. gak ada yang spesial mereka hanya ngobrol layaknya teman.
Setelah mobil Arka sudah mulai menjauh Danis masuk ke rumah dengan senyum mengembang, dia inget kekonyolan Arka saat tadi di mobil.
"Seneng banget kayaknya jalan sama Arka!" tegur Anjas yang sedari tadi merhatiin Danis.
Cewek itu kaget, dia menelan salivanya dengan susah payah. Dia lupa menghubungi Anjas. tadi dia cuma bilang pulang kerja mau jalan, karena dia pikir cuma bentar dan juga takut Anjas marah kalau tau dia jalan sama Arka, dia milih bohong.
'Masalah apalagi ini' batin Danis
"Sayank, udah lama?" tanya Danis dengan dibuat setenang mungkin.
__ADS_1
Anjas hanya senyum miring, dia berdiri dan berjalan ke depan Danis. Cukup lama dia menatap cewek yang sebentar lagi akan dia nikahi. Danis jelas gugup, dia tau Anjas marah dan ini murni kesalahannya.
"Mending kamu pikirin lagi, kita jadi nikah atau enggak" kata Anjas dan langsung pergi ninggalin Danis.
Danis bagai tersambar petir, bagaimana mungkin Anjas bilang kayak gitu, pernikahan mereka kurang 2 minggu lagi, Danis cepat sadar dan menggeleng.
"Sayank... yank..." Danis coba menghalangi motor Anjas yang udah mau pergi "kamu jangan kayak gini, aku bisa jelasin yank"
Anjas hanya natap Danis tajam, saat ini dia benar-benar marah. "Minggir!" kata Anjas datar. tangannya menghalau badan Danis kasar.
"Yaaank..." panggil Danis lirih, air matanya sudah mengalir deras.
Akhir-akhir ini mereka berdua memang sering tengkar karena masalah sepele. Tapi sepertinya sekarang Anjas benar-benar marah. begitu sembrononya Danis biarin Anjas salah paham seperti ini.
"Jangan ngomong gitu yank, maaf" ucap Danis lirih, dia hanya bisa natap Anjas yang sudah berlalu dari rumahnya.
"Masuk dulu mbak" kata Dimas ngrangkul Danis, dia menggiring kakak perempuannya masuk ke dalem.
Dimas mendudukan Danis di ranjang kamarnya. dia hanya menatap kakaknya sendu tanpa bisa menenangkan.
"Anjas marah Dim" kata Danis sambil terisak, Dimas menghela nafas panjang.
"Kak Anjas sejak pulang latihan sore tadi udah kelabakan nyariin mbak, ponselnya mbak gak bisa dihubungi sama sekali. kata orang kantor mbak udah pulang duluan." Dimas jelasin.
Danis diam, pikirannya penuh dadanya sesak. tadi ponsel Danis lowbat sesaat setelah Danis ngirim chat ke Anjas. jalan bareng Arka bikin dia sejenak lupa sama Anjas. Danis nangis lagi.
"Mas Anjas khawatir banget sama mbak, dia parno karena kata kakek calon pengantin rawan celaka. tapi malah kakak seneng-seneng jalan sama Arka"
Danis noleh ke Dimas "Aku tadi cuma..."
"Mau pake alasan apapun, tetep aja mbak salah, pantes kalau mas Anjas marah" kata Dimas sambil jalan keluar kamar.
***
__ADS_1